Peraturan Sekolah

via viabsinthe/imgur.com

12 Desember 2000

Aaron Swartz, 14 tahun.

“Mereka” bilang padamu untuk bersikap: mengikuti aturan, melakukan apa yang mereka katakan, menjadi tenang, baik dan sopan. Jangan dengarkan mereka. Itu penipuan.

Itu sekolah, kan? Apa tempat yang lebih baik untuk melakukan eksperimen? Sekolah, meski tak persis sama dengan arena bermain, ia semestinya menjadi tempat yang aman. Tempat konsekuensi-konseuensi menjadi kecil, tapi tak sepenuhnya hilang. Ada. Hanya cukup untuk mencegah, tapi tak cukup untuk menyakiti.

Tak satu pun dari ini ada dalam kepalaku saat aku bersembunyi di kamar mandi. Pikiran-pikiran serta pembenaran ini tidak datang begitu saja seperti saat aku merayap menyusuri koridor. Pikiran ini ada tidak untuk menghiburku ketika aku tertangkap dan diseret kembali menyusuri koridor itu, masuk ke bus. Neuronku tak menyala saat aku duduk, menangis, melewati teguran dan interogasi pahit oleh kepala sekolah. Aku tak pernah menyadari pikiran-pikiran ini ketika aku menggosok rak dan meja selama penahananku di hari Sabtu. Bahkan, pikiran-pikiran ini tidak menggoncangku dengan sekuat tenaga sampai beberapa hari lalu — satu tahun atau lebih setelah peristiwa itu terjadi.

Selang waktu itu, anak-anak lain bertanya apa yang membuat saya melakukan hal itu. Ini konyol dan sia-sia. Aku bukan tipe anak yang melakukan hal-hal ini, kata mereka. Aku selalu meminta maaf, atau bergumam, atau mencoba untuk mengaihkan topik. Sebenarnya, aku sendiri tak tahu benar jenis anak seperti apa aku ini.

Namun sekarang, aku punya jawaban untuk mereka. Itu bagin dari pendidikanku — bagian yang lebih penting yang bisa dicapai oleh sains dan sejarah. Mereka adalah kejadian-kejadian yang memaksa dagingku keluar menjadi seorang pribadi, dan lebih berhasil membangun karakterku daripada ceramah-ceramah membosankan itu disatukan. Dan, memang itulah cara yang seharusnya.

Ini adalah sesuatu yang orang-orang dewasa tidak mengerti, atau setidaknya, mereka sering berpura-pura tak mengerti. Mereka luapkan kata-kata kasar mereka dengan segenap kemarahan yang bisa dihimpun, dan mungkin, mereka benar-benar marah. Tapi ada sebagian dari saya, yang tidak bisa tidak, bertanya-tanya jika jauh di dalam, mereka benar-benar mengerti. Entah bagaimana, mereka menganggap ini sebagai ujian. Sebuah tes yang dimaksudkan untuk menghancurkan kepercayaan diri anak-anak, dan, dengan begitu, kepercayaan diri itu akan tumbuh kembali, bahkan lebih kuat.

Jika itu semua memang benar, aku ingin memberitahu mereka bahwa ada cara yang lebih mudah. Orang-orang bekerja tak melalui rasa sakit dan benci, tapi melalui kasih. Cara yang membawa keluar kekuatan batin dari mereka yang lemah, dan mengolahnya pada mereka yang lebih kuat. Cara yang mengajarkan kita semua — baik penindas dan yang tertindas — bahwa kita berada dalam medan laga ini bersama-sama. Daripada berkelahi satu sama lain, menabur kebencian yang akan berlangsung sepanjang hidup, mengapa kita tak bekerja sama saja untuk memecahkan masalah, dan berbagi kasih yang kita semua ingin dan butuhkan.

Sepertinya ini adalah solusi yang lebih baik. Aku manusia, bukan tikus laboratorium yang perlu diganjar dan dihukum. Aku punya alasan tentang apa yang aku lakukan, kau punya alasan untuk apa yang kau inginkan. Hal di antara kita ini tak sampai sebegitu berbeda sehingga kita tak bisa melakukan sesuatu untuknya. Kau mungkin mengira ini bukan hanya pelajaran yang baik untuk sekolah, tapi juga pelajaran yang baik bagi kehidupan. Kau benar. Dan jika itu memang pelajaran yang baik, mengapa kita tak mengajarkannya melalui tindakan kita? Menurutku, setidaknya begitulah caranya. Tapi aku bukanlah orang yang membuat aturan.


Diterjemahkan dari http://www.swartzfam.com:82/aaron/school/2000/12/12/, dengan judul asli School Rules.