Physika Weekly Review #5
Higgs-like quasi particle, Kompleksitas, Sains yang efektif dan efisien, dan apakah sains kita sudah rusak?

Elusive Higgs-Like State Created in Exotic Materials
Kompleksitas dan interaksi elektron dalam solid menimbulkan banyak emergent fenomena dalam material. Elektron dalam solid tidak dianggap sebagai individual partikel elektron, melainkan quasi-partikel, banyak macam quasi partikel yang dapat tercipta. Dalam artikel ini, ditemukan salah satu bentuk quasi partikel baru, yakni higgs-like partikel. Tentu ini luar biasa, karena dalam fisika partikel, partikel higgs cukup penting dalam standard model. Dengan keberadaan quasi-partikel yang memiliki sifat sangat mirip dengan higgs ini, maka akan menciptakan peluang baru untuk mengeksplorasi bagaimana partikel higgs itu sendiri.
Why Complexity is Different
Artikel yang cukup intuitif dalam memahami kompleksitas sistem, terutama dalam ranah physical science, langsung dijelaskan oleh Yaneer Bar-yam salah satu tokoh dalam kompleksitas. Apa itu kompleksitas? bagaimana kita menganalisis sistem yang kompleks. dan yang terpenting adalah bagaimana menemukan skala yang tepat untuk bisa menjelaskan dengan baik perilaku dan properti sistem tanpa harus melibatkan terlalu banyak variabel didalamnya. Dari situ-lah teknik Renormalization Group (teori dalam fisika statistik) dikembangkan, dan Yaner Bar-yam cukup lugas menjelaskan aspek ini. Bagi yang ingin membaca essay mengenai kompleksitas lebih jauh, silahkan baca dari link berikut: http://necsi.edu/research/multiscale/importantinfo.pdf, ditulis oleh penulis yang sama, Yaner Bar-yam.
A manifesto for reproducible science
Sebagian besar penelitian menggunakan statistik sebagai metode analisis, hanya sedikit sains yang benar-benar pure teoritis matematis, itu-pun diikuti dengan fakta-fakta data di lapangan yang lagi-lagi berasal dari penelitian yang bersifat statistik ini. Pekerjaan riset yang dapat di kerjakan ulang, dan di validasi oleh periset lain menjadi kriteria penting dalam melakukan metode eksperimen berupa pengumpulan data sample. Sudah banyak penjelesan mengenai academic fraud, kesalahan rancangan riset yang berakibat bias, p-hacking, maupun kualitas data yang tidak baik. Untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut artikel oleh Marcus ini mencoba memberikan sebagaimana harusnya penelitian dan penulisannya dilakukan untuk terciptanya sains yang efisien, transparan, dan dapat dikerjakan dan divalidasi ulang.
Science Isn’t Broken
Jika banyaknya penelitian yang fraud seperti halnya p-hacking, apakah berarti metode sains kita telah rusak? itulah yang pokok masalah dari artikel ini. Lalu, apa yang menjadi kekuatan dari sains itu sendiri? bagaimana kekuatan tersebut seharusnya memperbaiki penelitian yang fraud? dengan grafis yang interaktif, artikel ini membawa kita memikirkan lagi tentang dunia akademik sains itu sendiri.

