4 Pola Pikir yang Membantu Saya Tenang Menjalani Hidup

Kamu mungkin sudah tahu fakta ini: pola pikir seseorang menentukan sudut pandangnya dalam memahami kehidupan. Namun, banyak orang yang takut mengubah pola pikirnya.

Ketika saya merasa enggak bahagia ternyata juga karena pola pikir saya yang belum selaras. Menjadi orang yang mudah cemas, sering menyesal, gemar membenci, termasuk membenci diri sendiri, kuat menyimpan dendam, mudah marah-marah, rajin membenci, bahkan kepada keluarga sendiri. Terus-menerus hidup saya lalui dengan cara begitu. Seperti zombie. Ada rasa capek. Batin saya lelah. Namun, di sisi yang lain seolah saya juga enggak punya daya buat keluar dari situasi itu. Ditambah, ternyata diam-diam saya merasa nyaman dengan situasi itu. Saya berpura-pura menikmatinya. Padahal sudah tahu itu akan menjerumuskan dalam penderitaan. Saya juga ada ketakutan kalau harus meninggalkan situasi itu. Takut untuk melepaskan pola pikir yang selama ini menjerat, dan menggantinya dengan yang baru, yang selaras nan membahagiakan.

Seperti yang mungkin sudah kamu kira, saya terus memaksa diri menjalani hidup dengan pola pikir seperti itu. Berpura-pura bahagia, padahal hati terasa hampa. Saya seperti zombie.

Namun akhirnya, setelah berulang kali terbentur tembok kenyataan, saya memberanikan diri mengikhlaskan pola pikir lama saya untuk berlatih mempunyai pola pikir yang baru.

Saya berlatih mengistirahatkan pikiran di sini-kini, hanya menyadari pikiran yang sering piknik ke masa lalu dan masa depan. Saya berlatih menerima diri apa adanya, dan juga memaafkannya. Saya berlatih mensyukuri apa yang sudah saya punya, daripada terus sibuk memikirkan apa yang belum saya punya. Saya berlatih mengelola marah dan menguatkan otot tulus mencintai.

Tapi ternyata enggak segampang yang saya bayangkan. Pikiran saya sudah mengakar kuat kepada pola yang lama. Saya takut. “Apakah mengubah pola pikir itu enak?”, tanya saya lirih dan penuh keraguan. Berlindung dalam perkataan, “Teorinya sih gampang, tapi prakteknya sangat sulit”.

Ditambah pola pikir banyak orang dan lingkungan, ramai-ramai, seolah mengajak saya untuk tetap mempunyai pola pikir yang lama. Pola pikir yang akrab dengan penyesalan, kecemasan, kebencian, dendam kemarahan, dan kekerasan. Setiap kali sadar harus melepaskan pola pikir itu seolah ditarik lagi, lagi, dan lagi, ke dalam pola pikir itu.

Namun memang niat buat berlatih mempunyai pola pikir yang baru itu menghadirkan rasa kesepian, enggak punya teman. Karena salah satunya, banyak teman yang berusaha mendapatkan, meraih, menggapai, sedangkan saya lebih memilih melepaskan. Terasa mereka berbondong-bondong ramai berangkat pergi, sedangkan saya berjalan sunyi untuk pulang. Rasa sepi dan kesepian sering mengunjungi saya. Bahkan tak jarang, muncul rasa ragu yang begitu besar, “Apakah jalan yang saya pilih ini memang benar?”. Saya mencari jawabannya hanya dengan menengok ke dalam diri saya sendiri. Duduk sendirian dalam keheningan. Menemui diri di dalam.

Saya berhadapan dengan diri saya sendiri, dengan berbekal salah satu pesan yang begitu indah, yaitu perjalanan dalam keheningan selalu tidak mudah, namun itulah jalan satu-satunya yang membuatmu bertemu dengan kebahagiaan nan indah. Saya lalu terus melanjutkan perjalanan berlatih menempa diri berpola pikir yang baru. Saya tetap menghormati teman-teman yang berbeda arah perjalanan dengan saya. Pelan-pelan saya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Ada rasa lega, enggak sesumpek sebelumnya. Semakin ada ruang buat bernapas ketika saya meniatkan diri untuk lebih tekun dan sabar berlatih serta berbagi.

Sekilas cerita di atas hanya sekadar berbagi, bahwa kita ini sebenarnya sejak lahir berbakat berbahagia, hanya saja perlu keberanian melepaskan pola pikir sampah, dan perlu juga diingatkan untuk berbahagia.

Oleh karena itu, kalau kamu ingin sehat, waras dan bahagia, saya menyarankanmu untuk mempunyai 4 pola pikir yang saya latih berikut ini:

1. Siapapun orang yang dihadirkan dalam hidupmu, dia adalah orang yang tepat buat hadir dalam hidupmu.

Kehadiran siapapun itu dalam hidupmu bukanlah kebetulan. Siapapun itu yang kamu temui, berkenalan, berteman, pacaran, menikah denganmu … termasuk juga yang berpisah dan bercerai denganmu … orang-orang itu selalu punya tugas untuk memberimu pesan dan pelajaran soal kehidupan.

2. Apapun yang kamu alami sekarang adalah satu-satunya pilihan yang bisa kamu alami.

Apapun yang terjadi adalah satu-satunya yang bisa terjadi. Enggak ada kemungkinan yang lain. Sama sekali enggak ada. Bahkan terkait pengalaman-pengalamanmu yang sepele pun enggak ada kemungkinan yang lain. Meski beberapa waktu lalu kamu memilih jalan yang berbeda, yang kamu alami sekarang ya tetap sama seperti yang kamu alami sekarang. Apapun yang kamu alami saat ini, adalah satu-satunya kemungkinan yang bisa terjadi dan kamu alami. Dan itu harus kamu alami karena kamu butuh menerima pelajaran yang tersimpan buat melanjutkan langkah perjalanan kehidupan. Apapun yang terjadi dalam hidup ini sudah indah apa adanya, termasuk kejadian yang enggak sesuai dengan keinginanmu sekalipun.

3. Apapun yang terjadi, selalu terjadi pada waktu yang tepat.

Semuanya terjadi pada waktu yang tepat. Tidak akan pernah terlalu cepat, atau pun terlambat. Ketika sesuatu terjadi, berarti kamu sudah dianggap layak buat mengalaminya, sepahit apapun itu.

4. Apapun yang sudah berakhir, selalu berakhir pada waktu yang tepat.

Apapun yang sudah berakhir, ya sudah berakhir. Ketika sesuatu berakhir, ini membantumu buat melangkah ke tahapan kehidupan selanjutnya. Karenanya, berterima kasihlah kepada setiap akhir yang tidak kamu inginkan. Dan yang sudah berakhir itu butuh diikhlaskan agar bisa move on.

Demikianlah 4 pola pikir sebagai bekal hidup sehat, waras, dan bahagia. Pola pikir yang saya latih selama ini ternyata ada ringkasannya, dan saya diberitahu teman saya, [at]gembrit, di twitter. Sumbernya dari Anand Mahindra.

Melatih pikiran agar punya pola seperti itu tidaklah semudah menuliskannya, tidaklah segampang mengatakannya. Arah perjalanan yang melawan arus pola pikir kebanyakan orang. Jadi, butuh niat dan keberanian yang besar, kegigihan, ketekunan, dan kesabaran.

Kini saya tak lagi mudah cemas. Saya sudah bisa lebih tenang, dan perlahan muncul keyakinan, bahwa apapun yang terjadi, termasuk yang enggak sesuai dengan keinginan saya, itu sudah baik adanya.

Oiya, bukan kebetulan juga kamu baca tulisan ini sampai selesai. Berarti kamu memang sudah sepantasnya diberi kesempatan buat baca tulisan ini. Enggak ada embun yang jatuh tiba-tiba di tempat yang salah ‘kan?


Kalau kamu ingin tanya atau curhat, email ke: CurhatKeAdjie@gmail.com.

Kalau kamu niat ikut sesi hening “menyembuhkan luka batin” bareng saya, WA ke: 0878 8708 9000