Berani Hidup

Photo by Eric Ward on Unsplash

Kadang hidup ini menghadirkan kesedihan, dan seolah suasana menjadi gelap gulita, tak ada terang sama sekali untuk menemui jalan keluar. Kesedihan itu bisa berupa, kehilangan orang tercinta, mendengar kabar buruk, enggak punya uang, pekerjaan berantakan, marahan sama suami atau istri, perceraian, badan sangat lelah hingga jatuh sakit, hati yang tersakiti atau batin yang dilukai oleh seseorang tercinta.

Kesedihan itu terasa mengerikan. Dan wajar kalau banyak manusia yang merasa enggak bahagia ketika peristiwa-peristiwa serupa terjadi di hidupnya. Sampai terlontar pertanyaan dalam hatinya, “Mengapa hidup ini begitu berat? Mengapa situasi ini tidak kunjung membaik?”

Seringkali kenyataan yang terjadi di luar kendali, dan manusia enggak selalu bisa mengendalikan kenyataan supaya sesuai harapannya. Enggak mudah mengubah kenyataan, enggak bisa berubah seketika sesuai keinginan. Namun, ia yang ikhlas menerima kenyataan mampu tetap berbahagia di tengah situasi yang menyedihkan.

Orang ini bisa bahagia di mana pun, kapan pun, dan di tengah kondisi apa pun, karena ternyata ia punya cara yang begitu indah, yaitu dengan mengizinkan dirinya untuk merasa sedih.

Ketika merasa sedih, hati merasa sesak, banyak orang yang ingin melarikan diri darinya. Menyangkalnya, berpura-pura seolah tidak sedih, menenangkan diri dengan cara-cara yang semu, membungkam rasa sedih dengan minum obat-obat penenang, atau mengalihkan perhatian darinya. Ini reaksi yang wajar sebagai manusia.

Namun, ia yang ikhlas menerima kenyataan menyadari bahwa, melarikan diri dari sedih enggak akan menyembuhkan sedih. Malah biasanya melarikan diri akan menambah kesedihan, memperunyam keadaan. Ia memilih untuk memegang prinsip, yaitu tidak apa-apa kalau memang sedang merasa sedih, tidak apa-apa kalau memang sedang merasa tidak bahagia. Ia berhenti sejenak dan mengizinkan dirinya untuk merasa tidak bahagia, untuk seutuhnya menemani rasa tidak bahagia itu. Menyadari kalau sedih itu tidak apa-apa, dan ia penasaran akan rasa sedih itu, menjelajahinya, menjadi teman baiknya. Memang ini membuatnya enggak nyaman, tapi ia sadar, ini tidak akan membunuhnya. Kenyataannya, dengan cara beginilah, kesembuhan luka batin terjadi, di mana jiwanya tumbuh dewasa bercahaya.

Ia melihat kesedihan sebagai salah satu penyusun kehidupan. Enggak bisa dipisahkan. Ketika ia berhadapan langsung dengan kesedihan, ketika ia menyentuhnya dan memeluknya dengan penuh welas asih, ia dikunjungi perasaan lembut nan hangat, yang membuatnya merasa sungguh-sungguh hidup. Hidup bukanlah kematian rasa, bukan pelarian. Tapi hidup bukan pula hanya riang dan gembira. Sungguh-sungguh hidup berarti merasakan sedih, merasakan takut, merasakan kekecewaan. Ia memperbolehkan dirinya buat merasakan ini semua. Bayangkan, dengan begini, betapa ia sungguh-sungguh membenamkan dirinya dalam kehidupan ini. Mungkin ada orang yang berkata, “Kalau begitu, hidup ini jadi menyebalkan,” tapi ia bilang, “Kesedihan itu pengalaman yang indah, menjadikan hidup benar-benar utuh.” Ini seperti naik roller coaster, ada rasa takut, senang, tegang, kaget, dan gembira. Pengalaman yang begitu indah, karena berbagai rasa hadir silih berganti. Ia sekarang sedang dikunjungi salah satu rasa itu, yaitu rasa sedih.

Sungguh-sungguh hidup, membenamkan diri dalam kehidupan ini, membuatnya mampu bersyukur. Bahkan atas hal-hal sederhana, seperti ketika ia melihat sehelai daun menari tertiup angin, atau mendengar suara tawa seseorang di dekatnya. Atau mensyukuri segala yang selama ini berlalu begitu saja, seperti kemampuan untuk melihat dan mendengar, keluarga dan hubungan cinta, punya sahabat yang mau mendengarkan keluh kesah, mencicipi makanan dan mencium aroma masakan, bernapas. Ia mampu mensyukuri segala apa adanya, kapan pun, termasuk saat ini, di sini-kini.

Berkah berupa hidup ini sudah cukup membuatnya berbahagia. Meski situasi jatuh terpuruk dalam sedih sekalipun, ia mampu berbahagia, karena ia sadar, ia telah diberi anugerah yang begitu indah, yaitu hidup ini, jantung yang berdegup mengalun dalam keheningan.

Memang langkah-langkah yang ia pilih ini bukanlah langkah yang mudah, dan ini enggak juga terus membuat kesedihan lenyap secara ajaib. Namun, di setiap momen, akan selalu ada kebahagiaan yang tersedia, Hanya untuk mereka yang berani menemuinya. Berani hidup seutuhnya.


Kalau kamu ingin tanya atau curhat, email ke: CurhatKeAdjie@gmail.com.

Kalau kamu niat ikut sesi hening “menyembuhkan luka batin” bareng saya, WA ke: 0878 8708 9000

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.