Ikhlas Menerima

Sang Guru memberi nasihat ringkas dan padat,
“Ketika yang terjadi enggak sesuai keinginanmu, ketika musibah datang menghampirimu … seperti kamu enggak punya uang, kamu diturunkan dari jabatan kekuasaanmu, kamu belum dapat jodoh, kamu jomblo, kamu sakit, kamu kehilangan seseorang yang kamu cintai, kamu bercerai, dan lain sebagainya … boleh-boleh saja kalau kamu berusaha supaya keadaaan berubah jadi sesuai keinginanmu. Berusaha kaya, berusaha mendapatkan jabatan, berusaha agar menikah, berusaha dapat pasangan, berusaha sehat, pingin ini, pingin itu. Boleh saja berusaha gitu … boleh … boleh …

Tapi, sebelum itu, belajarlah ikhlas menerimanya dulu keadaan itu. Sepahit apapun keadaan, ikhlas terima. Ini bukan ikhlas supaya keinginanmu terkabul. Bukan seperti, “saya ikhlas barang saya hilang”, tapi sebenarnya keikhlasan di sini supaya barang itu kembali. Bukan. Ikhlas supaya keinginanmu terkabul itu keikhlasan yang down grade, keikhlasan yang serupa membohongi diri sendiri. Ikhlas ya ikhlas saja. Titik. Enggak ada ikhlas supaya ini dan itu.

Ketika kamu ikhlas, tentu saja setelahnya keadaan belum tentu akan sesuai dengan keinginanmu. Dan itu tidak jadi masalah, karena kamu telah ikhlas.

Lalu, setelah kamu ikhlas menerima keadaan itu, sepahit apapun, pelan-pelan … lihatlah keadaan itu lebih dalam, lihatlah lebih dalam lagi musibah yang mengunjungimu, masuklah lebih dalam ke dirimu sendiri … lihatlah lebih dalam. Pahamilah lebih dalam. Jangan tergesa-gesa merasa sudah paham akan musibah yang kamu alami. Jangan terburu-buru sok tahu, lalu ingin mengubah keadaan itu.

Masuklah lebih dalam lagi ke dirimu sendiri. Sadarilah lebih dalam lagi. Dan kamu pun akan berhenti menamai keadaan itu sebagai musibah. Mungkin kamu tetap berusaha keluar dari keadaan itu, namun tentu saja kali ini usahamu hanya sewajarnya saja, karena kamu jadi sadar kalau semuanya ternyata sudah baik adanya. Bahkan tak perlu lagi ada yang diubah. Yang dibutuhkan hanyalah ikhlas menerima.

Ketergesa-gesaan untuk mengubah keadaan agar sesuai keinginan kitalah yang memerangkap kita dalam jeratan kesombongan paling berbahaya.”

Kalau kamu ingin tanya atau curhat, email ke: CurhatKeAdjie@gmail.com.

Kalau kamu niat ikut sesi hening “menyembuhkan luka batin” bareng saya, WA ke: 0878 8708 9000

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.