Pakai Tunai Saja

Ternyata, sekarang ini kita semakin mudah melakukan pembelian. Ketika saya jalan-jalan di mall, melihat sepatu yang saya rasa keren kalau saya pakai, saya tinggal membawanya ke kasir, lalu … kalau memang ada uang di rekening, saya tinggal ngasih kartu debit. Bahkan kalau lagi enggak ada uang di rekening (meski enggak tahu juga kapan adanya uang di rekening :)), saya pun bisa membelinya dengan semudah ngasih kartu kredit. Tunggu sebentar saja, sepatu itu sudah jadi hak milik saya buat saya pakai. Hanya berbekal sebuah kartu yang bisa diselipkan di dompet, saya bisa mendapatkan segera yang saya inginkan.

Enggak cuma itu, seperti yang mungkin kamu juga melakukannya … Tanpa harus ke mall, di rumah saja, di dalam kamar, sambil leyeh-leyeh di kasur … saya bisa membeli yang saya inginkan. Tinggal buka Instagram atau berkunjung ke salah satu online shop, saya menggerakkan jempol memilih barang yang ingin saya beli, klik sana — klik sini, memasukkan harga barang yang saya mau, dan klik transfer. Atau saya hanya perlu menuliskan nomor kartu kredit, jadi hutang akan ditagihkan ke saya bulan depan. Lalu, sesuai dengan waktu yang disepakati, barang akan diantarkan di depan pintu rumah saya. Berbelanja menjadi sangat gampang.

Namun akhirnya, kemudahan ini hadir bersama dengan tantangan. Saya jadi boros. Ketemu barang yang saya pingin, tinggal gesek. Melihat barang yang saya idam-idamkan, tinggal transfer. Tinggal gesek, tinggal transfer. Gampang banget. Jarak berpikir antara pingin dan memutuskan membeli menjadi sangat pendek, karena saya merasa begitu mudahnya membeli. Kondisi keuangan saya berantakan. Ambyar. Uang yang seharusnya digunakan untuk makan minggu depan, saya gunakan buat beli pakaian, dengan semena-mena mengatasnamakan supaya enggak ketinggalan zaman. Tagihan kartu kredit saya pun berkali-kali lipat dari jumlah pendapatan bulanan saya. Kondisi keuangan saya ruwet sekali. Seruwet rambut gondrong saya ketika malas keramas berhari-hari.

Saya lalu pelan-pelan berbenah. Salah satunya adalah, daripada membeli pakai kartu kredit atau debit, saya berusaha kalau bisa hanya membeli pakai tunai saja. Cara ini bikin membeli itu terasa lebih nyata, karena saya harus mengeluarkan uang dalam wujud sebenarnya dari dompet saya. Bukan dalam bentuk kartu, atau pun mobile banking. Tak lagi tinggal gesek, tinggal transfer. Sehingga saya lebih bisa bersabar buat membeli dan saya berhemat. Dan manfaat lainnya adalah, saya jadi lebih tahu kondisi keuangan saya, terutama jumlah uang tunai yang saya punya. Jadi saya enggak membeli barang di luar kemampuan keuangan saya.

Dengan memilih hanya membeli pakai tunai saja, saya tak lagi mudah kalap membeli ini itu hanya karena jadi budak keinginan saya sendiri. Dan perlahan, pengeluaran saya mengecil, diikuti dengan upaya untuk memperbesar pendapatan. Saya bisa berhemat, menabung, dan hidup sederhana saja. Bahagia.


Kalau kamu ingin tanya atau curhat, email ke: CurhatKeAdjie@gmail.com.

Kalau kamu niat ikut sesi hening “menyembuhkan luka batin” bareng saya, WA ke: 0878 8708 9000