Esai dan Judul-judulnya

Mari kita bicara esai dan judul-judulnya.

Setiap judul adalah umpan untuk memancing pembaca berhenti. Serupa plang sebuah toko di pusat perbelanjaan. Harus jelas. Terang. Harus menarik. Kreatif. Mengundang senyum ikhlas (tak dipaksakan seperti senyum kasir-kasir bank). Kontroversial juga boleh.

Memang, tak semua harus “selesai” di judul, sebab Anda tentu tahu bahwa ada banyak toko atau warung makan tanpa plang juga disemuti pembeli. Ini soal lain. Dan jumlahnya sangat sedikit. Umumnya yang begitu — tak perlu “bergenit-genit” dengan (disain) plang — memiliki sejarah panjang dan melegenda dalam ingatan yang dituturkan secara berulang-ulang dan terus-menerus.

Anda bukan sang legenda, bukan?

Anda bukan anak jenderal, bukan?

Anda bukan penguasa media, bukan?

Anda bukan siapa-siapa, bukan?

Jika Anda golongan penulis esai (rintisan) yang “bukan siapa-siapa” alias orang kebanyakan, maka Anda perlu bersiasat dan memburu perhatian lewat judul yang menarik. Baper itu bukan dosa!

Dalam sejarah penulisan esai, beragam bentuk judul sudah dicoba oleh para “pendahulu kita”. Mereka, para “pendahulu kita” itu, berjibaku menciptakan gaya-gaya tertentu dalam judul. Tujuannya untuk menarik sedemikian rupa per-HATI-an pembaca untuk singgah — syukur berlanjut membaca sampai pada titik paling penghabisan.

Hari-hari ke depan, saya uraikan ragam judul dalam sejarah penulisan esai di Indonesia. Salam! [Muhidin M Dahlan]