Esai itu Gaya Menulis “Bukan-Bukan”

Jika Anda mengetik “What is Essay” di bilah mesin pencari, maka si pengumpul informasi ini memberitahu dalam sepesekian detik informasi dasar tentang esai. Jumlahnya ratusan juta item yang meliputi apa itu esai, tipe, jenis, contoh, dan bagaimana menuliskannya.

Dalam bilah pencari itulah kita berjumpa dengan alamat dari mana (adopsi) istilah esai ini muncul. Adalah Michel de Montaigne (1533–1592) yang menerbitkan edisi pertama esainya pada paruh akhir abad 15 yang berjudul: “Of the Vanity of Words”. Montaigne memberikan “definisi” esai sebagai “percobaan”.

Lihatlah pengertian makhluk bernama esai ini. Betapa “tak seriusnya”. Percobaan. Coba-coba. Dan ia adalah bagian dari sastra dari jurusan nonfiksi yang dengan lagak sombongnya — meminjam kata dari judul esai Montaigne “Vanity” — hendak mengomentari segala hal dan tentang apa saja, kata filsuf Aldous Huxley. Atau menurut kamus kebanggaan kita, bahasan sepintas dan sifatnya personal.

Esai adalah cerminan, meditasi, percobaan dalam pengungkapan gagasan yang diekspresikan secara licin dengan bahasa yang “lentur”, kata Montaigne. Longgar, kata Emha Ainun Nadjib.

Esai itu bukan puisi. Akan tetapi esei tidak diperkenankan untuk hadir tanpa rasa poetika. Esei bukan cerita pendek, bukan novel, bukan reportoar teater, namun esei diharuskan bercerita, diwajibkan mengekspresikan suasana, itupun cerita dan suasana harus merupakan kandungan yang implisit, yang tersirat, yang samar, sebab kalau tidak: ia dituduh sebagai puisi atau cerita pendek atau novel atau reportoar teater,” lanjut Cak Nun.

Dari cara Cak Nun mendaras esai, saya ingat lontaran Gus Dur yang cocok untuk “menyebut” esai, yaitu gaya tulisan yang “bukan-bukan”. Tersebutlah dalam seminar, Jenderal Moerdani menerangkan hakikat Pancasila; bahwa Pancasila bukanlah sosialisme, apalagi komunisme; bahwa Pancasila bukanlah kapitalisme; bahwa Pancasila bukan…. Dan seterusnya. Saat tiba giliran Gus Dur berbicara, ia nyeletuk, seperti menyimpulkan; bahwa Pancasila itu ideologi “bukan-bukan”.

Seperti halnya Gus Dur, esai itu juga adalah “bukan-bukan”; bukan puisi, bukan karya ilmiah. “Esai di antara puisi di pojok paling kiri dan karya ilmiah di sudut paling kanan,” sebut Zen RS dalam sebuah lokakarya menulis esai yang diselenggarakan Indonesia Buku di pojok Alun-Alun Selatan Keraton Yogyakarta pada 20 November 2010. Posisinya lentur. Juga bahasanya. Longgar, sebut Cak Nun, sekali lagi. Arena bermainnya luas. Mungkin, seorang generalis, jika kita merujuk pada karakter pikiran khas tertentu.

Oleh karena itu, jika esai diandaikan seperti gaya hidup, maka gaya hidup yang tak linier, penuh kejutan, mencoba-coba seperti coba sana coba sini sebagaimana para perintis usaha, dan tak melupakan kesenangan setelah bekerja sangat keras, adalah gaya hidup seorang esais.

Seorang yang linglung, seperti Majnun? Mungkin. Tapi seorang esais juga adalah seorang yang sangat berbahaya dan subversif karena “percobaannya” yang saya tunjukkan di bagian lain postingan ini. [Muhidin M Dahlan]

[tulisan ini adalah bagian terkecil dari sebuah tulisan panjang yang direncanakan]