Esai itu Medan Akrobat Berbahasa

Pertama-tama saya menyebut nama Yasraf Amir Piliang. Yang berikutnya, di bidang keagamaan, guru-murid ini, Budhy Munawar-Rachman dan Sukidi (Mulyadi) adalah pasangan yang memainkan secara akrobatik hujan kutipan, sebagaimana terbaca dalam “New Age dan Passing Over: Ziarah Religius di Tengah Pluralitas Agama-agama”.

Esai-esai Yasraf Amir Piliang mengajak kita bertamasya pada sejumlah istilah-istilah “baru” yang menyihir di sekujur esainya: cyberspace, cyborg, cyberporn, hyperreality, hyperspace, masyarakat ekstasi, masyarakat cyber, ekonomi libido, ekonomi virtual, ekstasi seksual, compassionate capitalism, passionate cappitalism, komodifikasi kebutuhan, ontologi citraan, dromologi, oposisi biner, dekonstruksi identitas, neospiritualisme, poststrukturalisme, ruang epilepsi, fetisisme, estetika mesin, simulacrum, hipersemiotika, posmodernisme, akhir dari sosial, akhir dari ideologi, dan sederetan panjang istilah yang untuk memahaminya mesti membaca glosarium.

Tak semenggebu Yasraf Amir, esai-esai “budaya dan bahasa” ST Sunardi, terutama yang terkumpul di Semiotika Negativa juga memaksa kita menelan ragam istilah “filsafat kontem”. Di sekujur artikel Anda disirami buliran kata yang dimiringkan. Dalam tulisan 8 halaman saja, misalnya “Gejala nekrokultura (budaya kematian) dalam foto media”, Anda menemukan 95 kata/frase/paragraf dimiringkan. Saya tak menjamin Anda membaca esai-esai ST Sunardi tak ikut-ikutan miring. [Muhidin M Dahlan]

((( ada sambungannnya )))