Esai itu seperti Surat

Surat terburuk yang pernah ditulis manusia belia adalah surat izin tak masuk kepada guru kelas dengan alasan sakit. Begitulah jenis surat yang saya ketahui, yang umumnya dibuka dengan dua kata, “Dengan hormat”. Nyaris semua murid menulis surat seperti ini sebelum era ketika orangtuanya-lah yang menuliskan dengan kaidah nenek moyang, ya, tetap dimulai dengan “Dengan Hormat”.

Dengan hormat itu pula, saya menyusuri dan menemukan bahwa model surat tak serunyam itu nasibnya. Ada ragam surat dalam sejarah. Dan itu adalah esai yang dibuat dengan mengendarai surat. Sialnya, surat-surat itu menarik.

Esai-Surat bertajuk “Surat Terbuka” (Duh, jadi ingat “puisi esai” yang itu) terbaru tentu saja “Surat Terbuka kepada Jokowi” yang ditulis esais AS Laksana. Di saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, surat dari putri Amien Rais, Tasniem Fauzia, menghebohkan dan menjadi viral di Facebook. Tahun 2005, Suciwati, istri Munir, menulis “esai-surat” di Tempo berjudul “Surat Terbuka Kepada Presiden” yang dua pekan kemudian Andi Mallarangeng, juru bicara Presiden SBY, menanggapinya di ruang yang sama, dengan judul yang sama, “Surat Terbuka”.

Bahkan esai “Surat Terbuka” itu sudah muncul, satu abad sebelum surat-surat yang tak beramplop itu menjadi gaya lagi. Di Doenia Bergerak, saya menemukan sejumlah “Soerat Terbuka”. Doyan betul Marco dkk itu bikin esai dengan buka-bukaan lewat surat. Dan tentu saja surat-surat terbuka di Doenia Bergerak ini lebih galak. Mengajak kumpeni dan pamong hamba penjajah berkelahi. [Muhidin M Dahlan]