Esai yang Mengantar Arwah

Saya tak boleh tidak mesti memasukkan nama Rosihan Anwar sebagai orang pertama yang memikul tugas sebagai pengantar sang tokoh ke kuburan. Nyaris semua tokoh se-angkatannya yang “pergi” mendahuluinya (Rosihan Anwar), pastilah dibuatkan Rosihan esai pengantar masuk kubur. Maklumlah, selain sang mayit diantar dengan doa-doa dalam satuan hari (7, 40, 100, 1000), juga perlu diantar dengan esai agar publik yang “sekuler” yang membaca Quran koran/majalah juga memahami bahwa sang mayit punya andil banyak untuk kehidupan berkebangsaan kita.

Demikianlah Rosihan Anwar, jurnalis koran Pedoman ini. Nah, tatkala istrinya meninggal, Zuraidah nama istrinya itu, Rosihan juga yang menuliskan esainya. Tapi bagaimana saat Rosihan giliran menghadap Sang Seru Sekalian Alam, siapa yang menuliskan dirinya? Di Kompas, yang kena tugas mengantar Rosihan Anwar ke kuburan dengan esai adalah Daniel Dhakidae. Esai-esai Rosihan yang mengantar arwah ini sebagian sudah dibukukan dalam In memoriam: Mengenang yang Wafat (2002).

Indonesianis Ben Anderson yang wafat pada 13 Desember 2015 juga doyan bikin esai-arwah ke Seru Sekalian Alam. Saat aktivis Soe Hok Gie meninggal di Gunung Semeru pada 16 Desember 1969, Om Ben membuatkan catatan obituari di Jurnal “Indonesia”. Saat indonesianis Claire Holt yang menulis buku Jejak-jejak Seni di Indonesia meninggal pada 1970, Om Ben membuatkan catatan obituari di Jurnal “Indonesia”.

Esai-arwah adalah gaya dan punya tempat dalam penulisan esai. Tugasnya mengingat yang luput dari si pemilik arwah yang fisiknya sudah kalis bersama tanah dan/atau api. [Muhidin M Dahlan]