KBBI Itu Seperti Pom Bensin Saat Motor Kehausan #PerkakasBuku (1)

Kerap kita mengatakan ini pada saat terantuk dalam bengong akut: kehabisan kata-kata. Seperti halnya dunia motor, jika habis bensin secara otomatis mencari penyedia cairan penghasil oktan itu. Soal eceran atau pom, itu soal pilihan. Bahwa bensin habis lalu segera diisi adalah insting.

Jika Anda kehabisan kata-kata, ya ke kamus. Jika Anda pengguna bahasa Indonesia, maka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tempat pengisian yang tepat. Ada juga kamus-kamus lain, sebagaimana bensin tak hanya tersedia di pom, melainkan di jejeran botol-botol yang disediakan warga.

KBBI adalah perkakas dalam menulis agar kosa kata tetap tersedia. Kosa kata adalah bahan utama menyusun kalimat dan menghasilkan paragraf 1, 2, 3, 10, 100, 936, 2650, 17.000, dan seterusnya. Paragraf itu ditatak, diberi sentuhan seni, dicetak di atas kertas, diberi sampul, dan diperdagangkan.

Jika kata adalah bensin, maka kamus yang sudah memasuki Edisi Ketiga ini adalah POM pengisian bahan bakar yang besar. Dikeluarkam pertama kali saat Fuad Hassan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Anton Moeliono menjadi Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Kata Anton, Edisi Pertama KBBI yang diterbitkan di tahun krisis perbankan akut (1988), KBBI memuat 62.100 lema yang dipungut dari kamus-kamus yang mendahuluinya, antara lain Kamus Indonesia E. St. Harahap (1951), Kamus Umum Bahasa Indonesia W.J.S. Poerwadarminta (1976), Kamus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (1983), kamus bidang ilmu, buku pelajaran, dan media massa cetak.

KBBI disusun oleh sebuah tim, mulai dari penyunting (penyunting penyelia hingga penyunting muda), pengumpul data, sampai pembantu teknis. Jumlahnya lebih kurang 144 orang. Ratusan orang itulah yang bekerja keras membangun lantai satu kamus yang disebut-sebut penebitnya, Balai Pustaka, dapat membantu seluruh masyarakat dalam berkomunikasi melalui pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar. Frase dari Balai Pustaka itu kemudian melegenda: "baik dan benar".

Sebagaimana kamus mengikuti perkembangan zaman, KBBI yang diluncurkan tepat di Hari Bahasa Nasional 28 Oktober 1988 ini mengalami penambahan lema. Di Edisi Kedua yang disebar pada 28 Oktober 1991, lema KBBI bertambah menjadi 72 ribu dengan pengayaan halaman, antara lain cara pemenggalan kata, label kelas kata, label bidang ilmu, label semantik regional, imbuhan, bentuk terikat bahasa asing, kata dan ungkapan bahasa asing dan daerah, aksara Jawi, aksara Kerinci. Juga ditambahkan -- kok berasa jadi Buku Pintar -- bintang dan tanda kehormatan, jumlah penduduk, nama-nama negara dan negeri, tanda nomor kendaraan bermotor, lambang fisika, dan lambang komunikasi.

Pada Edisi Ketiga pada tahun 2000, mungkin tersebab keinsyafan, Tanda Nomor Kendaraan dikeluarkan dari kamus bersama-sama imbuhan pedoman ejaan, pedoman pembentukan istilah, dan pemenggalan kata. Tapi nama daerah tingkat 1 dan 2 dipertahankan. Harapannya, sebagaimana kata Menteri Pendidikan Nasional Yahya A. Muhaimin, penggunaan bahasa Indonesia pada abad 21 atau milenium ketiga makin mantap.

Demi kemantapan itu pula di tengah arus deras penggunaan daring yang kini menjadi gaya hidup masyarakat tengah, KBBI tersedia di alamat: kbbi.web.id. Apakah web ini resmi atau tidak dikeluarkan negara, saya tak tahu.

Tapi demi "kebaikan dan kebenaran", mari rutin mengisi bensin kata-kata dengan menjadikan KBBI sebagi pom besarnya. Tapi, yang sudah terbiasa ngecer, jangan dipaksakan. Karena ini soal pilihan.

Contoh pentingnya pemakaian KBBI dalam kehidupan gunjing-gujirak (baca: keributan) di kepulauan internet sehari-hari:

Lema Tere (tok) dan Liye (tok) tak tersedia di KBBI hingga Edisi Ketiga. Yang ada hanya tere-s (pemotongan kambium untuk mematikan pohon), tere-ndak (tudung penutup kepala), tere-tet (tiruan bunyi terompet), tere-nyuh (terharu dan sedih), tere-in (lapangan), li-ur (ludah cair yang meleleh), li-ver (lever), li-wan (pintu muka melengkung istana), li-wat (persetubuhan sesama jenis), li-wet (memasak nasi dengan direbus).

Ketaktersediaan ini kemungkinan dua hal. Lema "Tere" dan "Liye" adalah asing (bukan kepunyaan leluhur, peh) dan belum diadopsi bahasa nasional. Kemungkinan kedua, tiadanya lema "Tere" dan "Liye" karena KBBI sudah kuno dan pertanda saatnya direvisi. Nah, revisi Edisi Keempat fokus menambah lema "Tere" dan "Liye". Lema liur saja ada, mengapa liye tak ada. Tere-nyuh aja ada, mengapa kata dasarnya tak tersedia.

Supaya tak terlalu tendensius, perlu ditambahkan pula lema yang sering dipakai warga kekinian: password (Malaysia menerjemahkannya: kata lewatan), internet, download, upload, dan username.

Ayo, KBBI, jadilah pom serba ada. Demi lema "Tere" dan "Liye". Dan tak perlu dikasih Balai Pustaka proyek cetaknya karena Gramedia, saya kira, lebih segar secara finansial dan kekinian dalam isu. (Muhidin M. Dahlan)

#PerkakasBuku