Kelas Esai: 2

Jika kelas dianggap sebagai sebuah kegiatan dalam ruangan dengan menghadirkan seorang guru kelas, seorang wali kelas, juga dihadiri peserta didik, maka ini kelas esai kedua yang diselenggarakan Indonesia Buku/Radio Buku.

Kelas esai pertama berlangsung pada 20 November 2010 ketika gedung Indonesia Buku/Radio Buku masih di pojok Alun-Alun Kidul Keraton Yogyakarta. Kelas esai pertama itu berlangsung hanya sehari, dengan dua mata pelajaran maha utama: mencari sumber dan bagaimana mengolah sumber itu menjadi esai yang tak hanya jelas dibaca, tapi juga menarik. Dan tak usah ditanya hasil. Nol besar.

Kelas esai yang kedua ini — yang kini dilangsungkan di gedung baru Indonesia Buku/Radio Buku sejak April 2014), Sewon, Bantul — dilangsungkan dengan rentang waktu yang lebih panjang berkat donasi seorang “sinterklas” (hamba Allah yang tak mau namanya disebutkan). Satu bulan untuk pengumpulan data dan sebulan berikutnya untuk pemasakan dan pengeditan. Dimulai dari pekan pertama Desember 2015 hingga pekan terakhir Januari 2016.

Saya, Muhidin M Dahlan, diserahi tugas untuk jadi “guru utama” khusus menangani mata pelajaran esai dan sekaligus menyiap-sampaikan materi lengkap esai.

Fairuzul “Virus” Mumtaz menjadi wali kelas yang mengurusi hal-hal yang dibutuhkan kelas.

Faiz “Jangol” Ahsoul menjadi guru bimbingan dan konseling, menjadi pengganti guru-guru utama khusus soal konsultasi kejiwaan. Termasuk jika ada civitas akademika yang membutuhkan minuman yang pahit dan bermutu.

Khotimatul “Yuk Otim” Hasanah memiliki tugas ganda: mengurusi sirkukasi uang dan logistik kelas. Termasuk ketersediaan buku dan makan malam saat kelas yang berlangsung tiap pekan itu dilangsungkan.

Sementara ketujuh siswa kelas esai — dua dinyatakan gugur — adalah: Ahmad Naufel, Dinnar Nabila, Khairul Mufid, Mikael Kudiai, Petra Efata Septiani, Risdiyanto P, dan Syaripudin.

Lain waktu jika ketujuh siswa dengan latar suku bangsa berbeda-beda ini telah menyelesaikan tugas esai yang dibebankan, mereka diperkenalkan satu per satu.

Tugas kolektif yang dibebankan dari kelas menulis kedua ini bertema pendidikan. Khususnya “pendidikan alternatif” di Yogyakarta dan kota terdekatnya. Topik-topik yang diulas merentang dari pendidikan di “pesantren” waria Senin-Kemis hingga Kali Opak dan pesantren menulis Kutub; dari lembaga dialog iman Interfidei hingga pendidikan kesukarelawanan; dari pendidikan kritis di Social Movement Institute hingga pendidikan asrama Papua, termasuk pendidikan disabilitas.

Ini kelas bersama. Hasilnya menjadi tanggung jawab bersama.

Dan mengapa harus kelas menulis, terutama esai, karena menulis sudah pasti membaca dan membaca dan membaca. [Muhidin M Dahlan]

Like what you read? Give Muhidin M Dahlan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.