Senja Reksa Dolanan Anak

FOTO & CERITA: © ANGGERTIMUR LANANG TINARBUKO

Pekik suara khas otok-otok, dolanan anak yang terbuat dari dominan bambu dan dimainkan dengan cara diputar pada sumbunya, memecah suasana sunyi rumah ukuran 3 x 4 meter di sudut Padukuhan Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Suara ini secara simultan menghadirkan kembali kenangan semasa kecil dulu. Otok-otok ini ternyata baru saja selesai dirangkai dan tengah diuji suaranya oleh Mbah Joyo Sumarto, seorang perajin dolanan anak tradisional jawa.

Ruang kerja Mbah Joyo dengan dolanan anak yang dirangkainya. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Dalam jumpa di pertengahan minggu, Mbah Joyo ternyata tengah sibuk mempersiapkan persediaan dolanan anak untuk acara outbound yang akan digelar satu minggu kedepan. Anak-anak muda Padukuhan Pandes, dikomandoi Wahyudi Anggoro Hadi, menghadirkan Pojok Budaya sebagai ruang dan gerakan pelestarian budaya lewat mainan dan permainan tradisional. Hal ini selaras dengan nafas Padukuhan Pandes yang sedari dulu masyhur sebagai kampung perajin dolanan anak. Outbound untuk anak-anak usia paud hingga sekolah dasar yang menjadi salah satu kegiatan dari Pojok Budaya ini melibatkan para perajin sepuh, reksa dolanan anak. “Biasanya anak-anak akan mampir ke rumah saya. Melihat dan ikut membuat dolanan anak ini. Baru kemudian mereka membeli dolanan untuk dibawa pulang”, tutur Mbah Joyo.

Mbah Joyo tengah fokus mengerjakan pesanan kitiran. (foto: Anggertimur Lanang TInarbuko)

Sembari bercerita, Mbah Joyo tetap menunduk dan fokus bekerja. Purna merangkai otok-otok, ia beralih merangkai kitiran. Menempelkan kertas-kertas bekas berbentuk bulat pada kertas minyak warna-warni yang akan dibentuk bunga. Perekatnya pun begitu tradisional. Bukan dengan lem yang dijual di pasaran, tetapi dengan nasi jatah makan siangnya, yang digerus dan diolekan pada kertas.

Rasa penasaran kian merajuk tuk digenapi usai mendengarkan kisah Mbah Joyo. Perjalanan pun berlanjut menelisik sosok lain dari senja reksa dolanan anak di Padukuhan Pandes. Pencarian berarah ke timur Padukuhan Pandes, bermura pada kediaman seorang maestro wayang. Bukan wayang kulit yang biasa dipentaskan semalaman. Tapi wayang kertas, dolanan bagi anak-anak yang ingin bergaya bak seorang dalang. Suradi (67), merupakan generasi ketiga dari perajin dolanan wayang kertas ini.

Suradi (67) bergaya serupa dalang dengan dolanan wayang kertas buatannya. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Mendiang ibunya yang mendaraskan kemampuan memvisualkan tokoh-tokoh pewayangan bermedium kertas ini pada Suradi. Sedari kelas 5 sekolah dasar, Suradi kerap menemani ibunda berkeliling pasar, menjajakan wayang dan dolanan anak lainnya.

Mal (template) wayang kertas Suradi. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Dalam pengerjaannya, digunakan kertas marga yang punya karakter kaku namun tidak terlalu tebal. Sebab Suradi kerap langsung menggunakan gunting untuk membentuk karakter wayang, tanpa digambar terlebih dahulu. Namun ia memiliki sederet mal (template) karakter wayang yang digunakan untuk mempercepat kerjanya jika pesanan tengah menumpuk dan dituntut gegas.

Suradi tengah mewarnai dolanan wayang kertas buatannya. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Untuk pewarna, teres masih jadi rujukan. Merah, biru, sedikit hijau adalah warna kehidupan bagi karakter wayang kertas Suradi. Proses pewarnaan menggunakan bambu yang sedikit diruncingkan serupa kuas. Dengan ujung yang sedikit runcing ini, Suradi membubuhkan teres dengan piawai. Di tengah fokus mewarna, datang seorang tetangga yang ternyata ingin membeli wayang dolanan. Ternyata wayang dolanan tersebut diingini keponakan Barinah yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Mendengar hal tersebut Suradi memberikan wayang kertas buatannya dengan cuma-cuma.

Barinah membeli dolanan wayang kertas untuk keponakannya di rumah Suradi. (foto: Anggertimur Lanang Tnarbuko)

Bahagia memang terpancar dari Suradi ketika anak-anak masih ingin bermain dengan dolanan wayang kertas buatannya. Bukan soal rupiah yang didapat, tapi perkara melestarikan budaya dan tradisi. Jalan yang dipilih Mbah Joyo serta Suradi adalah naluri alami para reksa dolanan anak yang telah senja dan sudah seharusnya diteladani.