8 Langkah Membangun Band dengan Prinsip Dasar Startup

Membangun band = membangun startup

Mungkin bagi kita sudah cukup familiar dengan istilah “startup”. Bisa dipahami sebagai satu usaha yang dimulai dan dirintis dari kecil dengan segala keterbatasannya, hingga akhirnya memiliki berbagai keunggulan dan berkembang secara luas, memberikan manfaat dan mendatangkan keuntungan. Mungkin kita ingat sedikit cerita bagaimana dulu Apple, Google, atau Amazon semua memulai bisnisnya dari satu garasi kecil, hingga akhirnya masing-masing mampu ‘menggurita’ sampai saat ini.

Atau kisah-kisah awal Go-Jek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak juga bisa memberikan kita banyak inspirasi serta ide, berawal dari startup hingga menuju unicorn (unicorn = adus duit 😀 🤑 🤗). Pada intinya semua tahapan adalah sama, termasuk juga halnya pemahaman bahwa “band = bisnis” dan setiap proses yang berjalan pastinya dimulai dari yang kecil (IMHO). Makanya sejak dari awal untuk membangun band harus memiliki perencanaan yang matang, dikelola dan dieksekusi secara profesional.

Nah, apa saja langkah-langkah mudah yang bisa dimulai untuk membangun sebuah band dan membuatnya menjadi ‘besar’?

Memilih nama band/brand

Pastinya jangan sampai memilih nama band yang biasa-biasa saja, apalagi menggunakan istilah yang terlalu umum/public domain. Pilih nama band yang ‘luar biasa’, memiliki nilai jual dan tentu saja ‘keunikan’. Ada beberapa situs yang bisa menjadi acuan atau membantu kita mempertimbangkan beberapa nama, seperti: Namerific, Naminum, Wordoid, Anadea, Namesmith, Brand Root, Wordlab, dll. (selama ini yang sering saya pergunakan untuk memilih nama produk/service atau brand adalah Wordoid). Selain sebagai branding, nantinya pemilihan nama band ini juga akan mewakili dalam pembelian domain situs band kamu (band harus punya website, tidak hanya pamer akun media sosial!). Perlu dibayangkan bahwa band dan lagu-lagu karya kamu suatu saat akan dikenal tidak hanya dari Sabang hingga Merauke, tapi dikenal di segala penjuru dunia.

Mendaftarkan merek atau hak cipta

Sudah menentukan nama band, memiliki lagu-lagu karya sendiri, kemudian sudah menentukan desain grafis logonya, saatnya untuk belajar mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan kekayaan intelektual. Memilih berkarya di jalur seni musik yang merupakan bagian dari industri kreatif, tentunya akan menambah wawasan kalau kita juga mau mempelajari hal yang berhubungan dengan hukum, termasuk karya cipta, merek, paten, dll. Permohonan mengenai hak cipta, permohonan merek, ataupun informasi lain yang berhubungan dengan kekayaan intelektual bisa mengakses detailnya melalui situs Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Atau aplikasi BISMA milik BEKRAF bisa juga diunduh untuk membantu kita belajar mengenai ekonomi kreatif.

Merilis single/mini-album/album

Agar dikenal secara profesional tentunya kita perlu memiliki karya atau lagu-lagu ciptaan sendiri dengan kualitas rekaman yang sangat memadai. Sebagai band pendatang baru untuk memulai debut disarankan tidak hanya merilis satu karya lagu (single), minimal memiliki beberapa karya lagu yang bisa dirilis dalam format mini-album ataupun full-album. Dengan memiliki banyak karya lagu dan dirilis secara kontinyu nantinya pendengar atau penggemar akan lebih mudah untuk ‘menemukan’, ‘mencari’ dan ‘menyukai’. Era maraknya aplikasi pengaliran musik/music streaming saat ini seperti: Spotify, Deezer, JOOX, Apple Music, Napster, Soundcloud, Tidal, Pandora, yang masing-masing memiliki jumlah katalog hingga puluhan juta lagu dari berbagai genre dan negara asal, menjadikan konsumen memiliki banyak pilihan dan cara dalam mengapresiasi sebuah karya. Mau skip atau rewind, nasib sebuah lagu ditentukan oleh jari tangan he… he…

Melakukan marketing/re-marketing

Adalah satu kesalahan besar jika kita memiliki produk dan service yang bagus tapi kita tidak memahami teknik pemasaran. Tentukan siapa saja yang akan menjadi target pasar dari karya-karya band kamu. Era digital saat ini dengan segala kemudahan dan kemurahannya memberikan peluang besar bagi kita untuk melakukan pemasaran tanpa batas. Tidak ada salahnya jika kita juga mulai mempelajari teknik internet marketing dan juga SEO (Search Engine Optimization). SEO for band!

Membangun tim

Pemahaman bahwa musisi atau anak band hanya perlu fokus dalam bermusik dan membuat karya, memang sejatinya harus demikian. Urusan tetek bengek yang berkaitan dengan operasional, manajemen, produksi, semestinya diserahkan kepada mereka yang bisa memahami akan tugas-tugas ini. Sebuah band bisa membangun tim kecil mulai dari: manajer bisnis, manajer tur, akuntan, teknisi, merchandiser, dll. Tidak ada ketentuan baku berapa orang yang bisa dilibatkan dalam sebuah tim, bisa disesuaikan melihat kebutuhan. Semakin banyak aktifitas dan kesibukan di dalam manajemen band tentu akan melibatkan banyak tenaga kreatif, mungkin saja band kamu juga berencana membangun recording company, entertainment company sekaligus music-publishing company sendiri?

Melakukan tur/roadshow

Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan memiliki beraneka ragam budaya serta kehidupan sosial secara geografis sangat mendukung band untuk melakukan kegiatan travelling sekaligus promosi. Di era saat ini jangan membayangkan bahwa ada sponsor besar yang akan membiayai perjalanan band kamu untuk keliling negeri ini mengunjungi ratusan kota untuk melakukan konser dan menjumpai langsung para penggemar. Saat ini adalah masa kemandirian bagi setiap band untuk mengorganisir tur sendiri. Membangun komunitas-komunitas solid di tiap daerah, memanfaatkan networking antar musisi, meminta dukungan dari media lokal adalah cara-cara yang bisa dilakukan untuk melakukan kegiatan tur dan promosi. Oya, saya sangat berharap suatu saat ada yang menciptakan platform khusus yang bisa membantu kebutuhan band-band lokal untuk melakukan touring ke berbagai kota di Indonesia.

Meningkatkan skill

Poin ini tidak perlu dibahas secara detail. Sebagai musisi harus bisa maju dan berkembang, dan memiliki banyak wawasan. Kunci untuk maju ya harus banyak belajar, demikian!

Melatih mental

Apakah kita siap untuk populer, dikenal dan ‘digilai’ oleh banyak orang? Atau siap juga untuk menjadi sosok yang kurang dikenal? Kuncinya adalah kita harus siap dalam keadaan apapun. Yang penting adalah sebagai musisi kita terus produktif untuk berkarya, terus kreatif, dan memiliki mental baja. Ada banyak cara dan jalan untuk menjadi dikenal. Dengan berbagai upaya mungkin saja suatu saat lagu-lagu karyamu bisa viral, disukai hingga menjadi legenda. Persiapkan diri!

Dari semua langkah tersebut di atas, ada ‘hal lain’ yang pokok dan bisa secara rinci disebutkan disini adalah berkaitan dengan “komitmen”. Kalau tidak mau ribet dan repot, akan lebih tepat kalau kamu memilih jalur sebagai penyanyi/pemusik tunggal saja. Solois kalau sukses duitnya bakal lebih banyak dibanding anak band. Sementara dengan memiliki tujuan untuk membangun band, berarti kita harus siap untuk membangun komitmen secara bersama, dan berbagi tentunya. Bagaimana kita harus bisa berkomunikasi antar personil, bagaimana cara kita membangun kebersamaan, memiliki visi dan mindset yang jelas, dan semua hal yang akan dilakukan adalah mengutamakan kepentingan bersama sebagai band.

Yang ingin saya tegaskan adalah dengan adanya pilihan “komitmen’ ini bila perlu kalian datang ke kantor notaris terdekat dan membuat perjanjian antar personil di sana, dimana semuanya dibahas dan diperjelas menyangkut hak dan kewajiban masing-masing, dan akan diatur pula bagaimana kehidupan secara bersama sebagai sebuah band.

Kita belajar dari pengalaman dan sebagai contoh kita sudah sering melihat beberapa kejadian yang menimpa beberapa band nasional di negeri ini, dimana di saat berada di puncak kesuksesan dan popularitas, tiba-tiba ada satu personil yang diberhentikan/dipecat secara mendadak tanpa alasan yang jelas. Kalau kamu merupakan seorang founder dalam band tersebut dan kemudian ‘disingkirkan’ oleh teman-teman band kamu, sementara band yang telah kamu jalani merupakan band yang selling-out, sudah selayaknya kamu mendapatkan apresiasi khusus.

Sedikit contoh kisah untuk diingat dari para pendiri Facebook: Eduardo Saverin saat ‘disingkirkan’ oleh Mark Zuckerberg. Setelah dikeluarkan dari Facebook, kini Eduardo Saverin memilih untuk tinggal di Singapura dan memiliki harta ratusan trilyun yang diperoleh dari Facebook. Nah, kembali ke cerita soal band, bila sejak dari awal masing-masing antar personil band memiliki komitmen yang jelas dan ‘resmi’, hal-hal yang demikian bisa dihindari ataupun diantisipasi.

Jadi, sudah siapkah membangun band dan menjadi anak band? Oya, menurut saya pemahaman soal startup disini adalah bukan merupakan suatu ‘cara’, tapi lebih merupakan mindset atau pola pikir, dan kombinasi kerja keras.
Let’s rock!

Foto: Unsplash