Kembalinya Prince ke Ranah Digital

Katalog Prince di platform Spotify, 15 Feb. 2017

Setelah berpulang pada Kamis pagi 21 April 2016 lalu, akhirnya pada minggu ini (12 Feb. 2017) katalog lagu-lagu Prince masuk (kembali) di berbagai platform musik digital yang bisa diakses di seluruh dunia, seperti Spotify, Pandora, Napster, Apple Music, Amazon Music, iHeartRadio, dll., hampir bersamaan dengan digelarnya event Grammy Awards ke-59 di Los Angeles, yang juga menampilkan tribute khusus untuk Prince.

Dalam rilisan ‘paket digital’ ini, terdapat 19 album yang dirilis pada kurun waktu 1978–1996, seperti album Purple Rain, 1999, Sign ‘O’ the Times, Controversy, [Love Symbol], dan Dirty Mind. Sebelumnya, dalam kurun waktu dua tahun terakhir katalog lagu-lagu lama Prince ini hanya bisa diakses di platform musik streaming Tidal milik Jay-Z, yang digemborkan sebagai platform musik digital dimana model bisnisnya memihak dan menguntungkan para musisi dan pemilik hak cipta.

Pihak Universal Music Group mengumumkan telah memperoleh kesepakatan dengan perusahaan pemegang aset Prince (Prince’s estate) dan pihak NPG Records. Perjanjian ini meliputi penguasaan atas katalog album Prince dalam kurun waktu tertentu, hak publishing dan merchandising, dan juga termasuk hak atas lagu-lagu yang belum dirilis.

Prince selain dikenal dengan karya-karya lagunya yang hebat dan legendaris, dia dikenal juga sebagai sosok yang ‘melawan’, termasuk dengan perusahaan rekaman dimana dia bernaung, dan sikap ‘antipati’ terhadap layanan raksasa YouTube yang dianggap tidak menghargai karya cipta musisi, karena tidak pernah meminta ijin kepada pemilik hak cipta atas konten-konten yang beredar. Selain itu Prince juga tidak terlalu menyukai platform musik yang ada saat ini (kecuali Tidal), karena dinilai tidak memberikan share yang wajar kepada pemilik hak cipta.

Selain memiliki aset senilai hampir 200 juta dollar, Prince’s estate juga memiliki tanggungan pajak sejumlah hampir 50% dari nilai total aset alias menunggak pajak senilai 100 juta dollar. Jadi kemungkinan sikap ‘antipati’ ataupun ‘alergi’ Prince ini harus ditebus mahal oleh ahli waris ataupun pemilik kuasa aset dengan menjual hak atas lagu-lagu Prince kepada pihak Universal Music Group, demi untuk membayar tanggungan pajak atas nama Prince selama dia hidup.

Rest In Prince!

“If you don’t own your masters, then your masters own you.” (Prince, 1997)

Sumber: Quartz, Billboard