Mengapa Kita Melupakan Cinta dan Maut?
Apa yang tidak kita ceritakan ke anak-anak kita.
Oleh Dorsa Amir

Seorang penulis fiksi-ilmiah Robert Heinlein pernah bilang, “Tiap generasi berpikir mereka menemukan seks.” Mungkin ia mengacu pada kebanggaan tiap generasi dalam mendefinisikan etika dan praktik seksualnya sendiri. Tapi pernyataannya itu sampai pada pengertian lain: Setiap generasi harus menemukan kembali seks sebab generasi sebelumnya buruk dalam mengajarinya.
Di Amerika Serikat, obrolan kita dengan anak-anak tentang seks seringkali canggung, terbatas, dan dipenuhi kiasan. Di sekolah, jika anak-anak cukup beruntung untuk tinggal di negara-bagian yang membolehkannya, mereka akan dapat sejumlah 10 jam pendidikan seks. Jika kurang beruntung, sebagai gantinya mereka akan mengalami fenomena ganjil dari pendidikan taat-pantangan, yang tujuannya adalah untuk menghindari sama sekali pemberian informasi apapun. Selain menjadi kontraproduktif — yang berpotensi meningkatkan tingkat kehamilan remaja dan penyakit menular seksual — praktik ini aneh. Bandingkan dengan praktik di banyak masyarakat sederhana, di mana anak-anak pertama kali belajar tentang seks dari mengamati orangtuanya!
Salah satu ciri khas dari spesies manusia adalah praktik pewarisan budaya. Kemampuan kita untuk memelihara, menyaring, dan menurukan pengetahuan budaya dari generasi ke generasi telah membantu kita bertahan hidup di segala habitat di planet ini — bahkan di luar angkasa. Tiga ratus lima puluh generasi yang lalu, kita beralih dari berburu-meramu ke permulaan bercocok-tanam. Kini, seluruh pengetahuan budaya manusia, yang diturunkan orangtua ke anak selama ribuan tahun, cukup dicari lewat Google.
Lalu mengapa demikian, kendati memiliki akses langsung ke hampir segala bidang pengetahuan, kita Orang Barat secara paradoks telah gagal membagikan secara langsung wawasan paling penting tentang hal ini untuk generasi selanjutnya? Kadang disengaja dengan dalih melindungi pemikiran anak muda, dan kadang tidak disengaja sebagai hasil dari bagaimana masyarakat kita terstuktur, kita membendung informasi kritis dan memaksa generasi baru untuk memulainya dari nol, mengandalkan intuisi mereka sendiri dan secuil pengalaman kawan-kawan mereka untuk memetakan jalan ke depan. Mulai dari kelahiran dan pengasuhan sampai kematian dan pemakaman, kita telah membangun sebuah tanggul pengetahuan yang mempersulit suksesnya menjalani kehidupan.
Seharusnya sih tidak begitu — dan faktanya, memang tidak, sampai belakangan ini.
Kami sampai sesaat sebelum matahari terbenam, setelah tiga jam dengan kano melintasi sungai berkelok-kelok di Amazon. Ini adalah jalan utama untuk mencapai komunitas Shuar di wilayah La Libertad. Untuk menyambut kami, pemimpin terpilih mengundang kami makan malam bersama keluarganya, menawarkan salah satu ayam betinanya untuk perjamuan. Atas saran ini, istrinya manggut, mengambil golok tajam, dan meminta bantuan putrinya, yang terlihat berusia tidak lebih dari 8 tahun. Berdua, ibu dan anak memegang unggas malang itu dan menyembelihnya dengan tebasan cepat pada lehernya. Tindakan itu sendiri tidak lebih mengherankan dibandingkan kesantaian mereka dalam melakukannya; saat itu, saya tidak mengamati hal lain selain penyembelihan hewan pertama yang pernah saya lihat.
Sepanjang penelitian lapangan saya di Shuar, saya menyaksikan senarai perilaku yang dapat mengagetkan para orangtua di Barat. Saya membayangkan bagaimana mereka mesti menatap-cemas saat anak-anak bermain api, berjalan nyeker melewati tarantula, atau memotong rumput dengan parang. Namun, setelah beberapa tahun, saya mendapati diri saya tidak begitu heran dengan kebudayaan Shuar, dan malah lebih heran dengan kebudayaan kita sendiri. Mengapa kita tidak membolehkan anak-anak mengakses dunia sebagaimana kita mengetahuinya, sebuah dunia yang meliputi kematian dan seks dan, ya, bahkan benda-benda tajam? Toh, ada alasan bagus untuk berpikir bahwa masyarakat sederhana seperti Shuar, meskipun bukan cerminan sempurna kehidupan masa lampau, hidup dengan cara-cara yang hampir serupa dengan cara hidup para pendahulu kita. Mungkin mereka mempertahankan sesuatu yang telah kita hilangkan.
Salah satu ciri yang lebih menjelaskan masyarakat sederhana adalah struktur komunitasnya. Selagi orang Barat hidup dalam keluarga batih dengan tingkat kelahiran rendah, mereka yang dalam masyarakat sederhana cenderung untuk memiliki lebih banyak anak dan hidup di dalam jaringan luas dari kerabat terdekat. Sebagai contoh, banyak orang Shuar kini hidup di dalam centros, atau komunitas terpusat. Rumah-rumah seringkali dibangun di sekitar pusat komunitas atau lapangan terbuka, dengan kelompok-kelompok keluarga, biasanya dihubungkan melalui garis patriarkal, yang hidup berdampingan satu sama lain. Banyak rumah masih dibangun dengan gaya tradisional, dengan dinding bambu dan atap jerami, di dalamnya semua orang berbagi satu ruangan besar. Hal ini membuat privasi menjadi barang langka dan juga berarti bahwa banyak kehidupan yang terjadi di hadapan generasi selanjutnya (dan kadang di hadapan antropolog asing).
Sisi unik lainnya dari masyarakat sederhana seperti Shuar adalah, populasi mereka merupakan hasil fertilitas alami, yang berarti sedikit atau tidak ada sama sekali pengendalian kelahiran yang sistematis (semacam kontrasepsi menggunakan tumbuhan ada). Bisa kalian bayangkan, satu konsekuensi dari hal tersebut adalah terdapat banyak sekali bayi, dan mereka di mana-mana. Sejak usia dini, mereka — khususnya para gadis — ditugaskan untuk mengurus saudara-saudaranya, sehingga ketika nanti mereka memiliki anak sendiri, mereka telah memiliki bekal pengalaman. Pengalaman ini terbukti bermanfaat karena bayi-bayi itu membingungkan, terutama saat awal. Begitu banyak ayah-ayah baru memulai tahapan baru dalam hidupnya dengan berkelakar tentang kebutuhan akan semacam panduan awal — membutuhkan seorang dokter yang tanggap dan paham terkait perilaku anaknya. Tapi, fakta bahwa Orang Barat sering merujuk pada buku atau semacamnya untuk memahami apa itu sebetulnya bayi merupakan fenomena ganjil itu sendiri.
Satu alasan di balik kebingungan ini adalah bahwa kita tidak hidup seperti orang Shuar atau para leluhur pendahulu kita, yakni di dalam jaringan luas dari keluarga terdekat. Melainkan, komunitas kita tersusun atas keluarga batih, yang terpisah dari kerabat lainnya, dan tidak dapat menawarkan bimbingan. Hal itu, ditambah dengan tantangan ekonomi dan sosial dari sistem kerja kita, menyulitkan pengetahuan untuk tersalurkan dari generasi ke generasi. Dan di beberapa negara, seperti AS, generasi pendahulu mungkin telah kehilangan beberapa pengetahuannya tentang bayi. Contohnya, beberapa waktu lalu, para ibu sangat lebih mengandalkan pemberian susu formula: tahun 1970an, 3 dari 4 bayi di Amerika menyusu lewat botol. Ini berarti pengetahuan ‘tangan pertama’ tentang menyusui bayi yang baik mungkin sementara waktu hilang di dalam keluarga, dan harus ditemukan kembali oleh generasi baru. Barangkali ini merupakan faktor yang menyebabkan hanya sepertiga ibu di Amerika yang melewati masa menyusui bayinya selama enam bulan pertama.
Bandingkan pengalaman para ibu di Amerika dengan di Himba, kelompok sukubangsa di Namibia yang sebagian besar bertahan hidup dengan menggembalakan ternak. Hampir semua ibu-ibu Himba menyusui, dan mereka membuatnya terlihat mudah; perempuan dapat megerjakan banyak hal — berjalan, ngobrol, makan — sekaligus selagi mereka menyusui oroknya. Tapi dalam karyanya, seorang antropolog dari Universitas California, Los Angeles, Broke Scelza menunjukkan bahwa ibu-ibu Himba pada mulanya pun mendapat kesulitan yang hampir sama dengan orangtua Amerika dalam hal menyusui bayi. Lalu bagaimana mereka bisa begitu tekun? Brooke berpendapat bahwa ini semua terkait dengan para nenek: ibu-ibu Himba tinggal bersama ibunya sendiri sejak bukaan terakhir masa kehamilannya sampai beberapa bulan pertama setelah kelahiran. Ini artinya mereka mendapat akses secara konsisten terhadap pengasuhan langsung dan, yang paling penting, informasi budaya tentang pengasuhan anak usia dini. Pengetahuan lintas-generasi tentang pengasuhan anak usia dini terbukti penting di banyak masyarakat sederhana lainnya dengan beragam kondisi ekologis dan geografis, seperti Martu di Australia, Hadza di Tanzania, dan Efe di Republik Demokratis Kongo. Kita melihat pola yang sama di komunitas Shuar. Kelahiran dan pengasuhan bayi yang baru lahir adalah urusan keluarga, bersama para kakek dan nenek dan para saudara kandung yang hadir untuk membantu dengan berbagi apa yang mereka ketahui. Pewarisan budaya dari generasi sebelumnya ini, faktanya, menjadi salah satu alasan mengapa para nenek itu begitu penting.
Keterputusan antargenerasi lainnya yang terjadi di dalam pengetahuan budaya kita tentang pengasuhan anak mungkin perihal tidur. Coba lihat secara langsung masyarakat sederhana manapun di dunia dan kamu akan mendapati hal yang sama: para ibu tidur bersebelahan dengan bayinya, siap momong kapanpun harus. Bahkan kandungan air susu ibu menunjukkan bahwa cara pemberian makanan ini lebih alamiah. ASI manusia memiliki kandungan lemak yang relatif rendah jika dibandingkan dengan mamalia lainnya, yang artinya manusia memberi makan seturut permintaan — bayi-bayi kita dimomong ketika mereka butuh, sekalipun di malam hari. Berbeda jauh sekali dari kebanyakan orangtua di Amerika yang tidur di ruang terpisah dari momongannya dan cemas apakah anakanya akan tidur atau tidak. Sebagaimana yang ditemukan psikolog Cristine Legari di Kepulauan Tanna, bahwa orangtua non-Barat tidak hanya berpikir ini praktik yang aneh, tapi mereka juga penasaran. “Bagaimana seorang ibu bisa tahu bayinya aman kalau ia saja tidur ruang yang berbeda?” tanya mereka keheranan. Praktik-praktik itu — pemisahan momongan dari orangtuanya dan mengharapkan tidur nyenyak sepanjang malam — menyimpang dari apa yang terjadi di komunitas-komunitas seperti Melanesia dan Shuar.
Bagaimana sih ceritanya kita bisa hidup dengan norma-norma ini? Serupa kasus menyusui, kita patut curiga bahwa ada informasi yang hilang dari sebuah generasi. Sampai abad 19, mengeloni anak masih secara luas dipraktikan, tepat ketika industrialisasi terjadi di AS, medikalisasi perawatan bayi, dan ketakutan akan terlalu memanjakan anak mengubah norma-norma kita. Kini, ngeloni anak perlahan mulai diperkenalkan kembali ke dalam kebudayaan kita, tapi tanpa didasarkan pada pengetahuan ‘tangan pertama’ tentang tata cara kelonan anak.
Ujung lainnya dari kehidupan manusia adalah kematian. Pada masyarakat sederhana, praktik-praktik pemakaman sering melibatkan seluruh anggota komunitas. Orang Toraja di Indonesia dikenal dengan kebiasannya menunda pemakaman selama berbulan-bulan atau tahunan, dan melaksanakan upacara Ma’Nene, yang menjadi ajang mereka secara bangga mempertunjukkan jasad dari anggota keluarganya yang telah meninggal, membershikannya, meriasnya, dan mengaraknya keliling kampung. Orang Wari’ di bagian barat Brasil tidak hanya secara langsung berinteraksi dengan para jenazah yang dicintainya, tapi juga secara ritual memakan jasadnya sebagai cara untuk menghormati mereka. Praktik pemakaman pada komunitas Shuar meliputi membaringkan mayat di dalam batang kayu yang dilubangi dan menyimpannya di dalam rumah kecil bersama persembahan makanan untuk dua tahun. Praktik ini sebagian besar telah hilang, kebanyakan orang Shuar kini mengubur jenazah di tempat pemakaman umum, sering juga di dekat rumah misionaris. Bagaimanapun, tidak seperti di Barat, di Shuar tidak ada perdagangan khusus untuk praktik penguburan; keluarga dan komunitasnya harus melakukan praktik penguburan itu secara mandiri.
Meskipun praktik-praktik ini kelihatannya asing bagi orang Barat, ragam tradisi yang semacam pun ada di dalam kebudayaan kita. Salah satu yang paling terkenal mungkin perayaan Hari Raya Kematian di Meksiko, suatu hari yang diliburkan khusus untuk para keluarga menghiasi makam para kerabat yang dicintainya dengan altar berisi marigold (bunga kematian orang Meksiko), bahkan membawakan mainan untuk anak-anak mereka yang telah meninggal. Momen ini merupakan sebuah pertemuan komunitas yang meriah, dipenuhi dengan makanan, musik, dan pesta kostum. Tapi yang paling penting, anak-anak diajak untuk ikut serta dalam perayaan tradisi ini, sebuah proses yang oleh psikolog Karl Rosengren jelaskan sebagai bagian penting dari sosialisasi mereka.
Sekalipun menjadi satu-satunya pengalaman yang pasti akan dialami, kita orang Barat kabur untuk menghindar dari berpikir tentang kematian sama sekali. Kita beralih muka darinya, melimpahkan prosesi pemakaman kepada jasa orang lain, dan bahkan menghindari penyebutannya, memilih ungkapan yang lebih halus seperti berpulang, meninggal dunia, atau tutup usia. Kita juga berhati-hati agar anak-anak tidak mengetahui hal itu dengan dalih melindungi mereka, di sisi lain mencegah berpindahnya informasi dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Kurangnya kosakata dan priming pengalaman yang tepat dapat menyulitkan kita ketika, mau tidak mau, berhadapan dengan kematian.
Segalanya tidak selalu seperti ini. Sebagaimana kasus menyusui yang pernah lazim di kebudayaan kita sebelum tahun 1970an, ada masa ketika kematian disambut di ruang tamu kita. Pada era Victoria, rumah duka adalah rumah kamu sendiri; jenazah dibaringkan di atas papan es, dan pembalseman mungkin dilakukan di dapur. Kawan dan kerabat akan berkumpul bersama untuk meminum teh, mengobrol, sambil mengucapkan salam perpisahan kepada jenazah yang dipajang. Praktik ini mungkin akan membantu mereka yang berduka tabah menghadapi kematian.
Saya seringkali teringat kembali dengan pepatah lama tentang peran antropologi; tugas kita, sebagaimana diyakini, adalah untuk “membuat yang asing menjadi biasa dan yang biasa menjadi asing”. Ketika pertama kali berkunjung ke Shuar, saya terus memperhatikan cara hidup mereka yang masih asing bagi saya. Sebelumnya saya tidak pernah hidup di dunia yang menjadikan privasi sebagai barang langka, anak-anak begitu mandiri dan bebas untuk menghabiskan waktunya, para kerabat yang tinggal berdekatan, dan para orangtua yang tidak membuat peristiwa kelahiran, seks, dan kematian terasa begitu mengharukan. Namun seiring waktu berlalu, kini, salah satu bagian yang paling ganjil dari penelitian lapangan adalah pulang ke rumah. Saya melihat masyarakat dengan pandangan yang berbeda, bahwa betapa tidak sadarnya kita dengan keasingan kebudayaan kita sendiri dan pada cara kebudayaan itu diturunkan. Dalam kasus pengasuhan, rusaknya pewarisan pengetahuan antargenerasi mungkin saja tidak disengaja. Lagipula, berapa banyak orangtua dan kakek-nenek yang memiliki sumberdaya untuk hidup bersama? Tapi ada hal lain yang terjadi dengan seks dan kematian. Dalam kasus-kasus tersebut, ada penyisihan informasi yang disengaja, suatu upaya untuk menjaga kepolosan anak muda. Inilah yang disebut Bendungan Pengetahuan, sebuah penyumbat bagi pewarisan budaya untuk generasi selanjutnya, dan ini adalah kesalahan. Generasi manusia yang selanjutnya akan menghadapi kematian. Mereka akan melakukan seks, dan minum alkohol. Mereka akan punya anak, dan membesarkannya, dan anak-anak mereka pasti akan mati juga. Semakin sedikit kita membagikan pemahaman kita tentang dunia, akan sedikit pula kesiapan anak-anak kita untuk memahaminya. Selama berabad-abad pewarisan budaya telah menyokong kehidupan manusia. Mengapa berhenti sekarang?
Dorsa Amir, seorang kandidat Ph.D. antropologi biologi di Yale University.
Artikel ini pertama kali terbit di Nautilus.
Referensi
1. US Department of Health and Human Services, Centers for Disease Control and Prevention “Results from the School Health Policies and Practices Study 2014” (2015).
2. Stanger-Hall, K.F. & Hall, D.W. Abstinence-only education and teen pregnancy rates: Why we need comprehensive sex education in the US. PLoS One 6, e24658 (2011).
3. Hogben, M., Chesson, H., & Aral, S.O. Sexuality education policies and sexually transmitted disease rates in the United States of America. International Journal of STD & AIDS 21, 293–297 (2010).
4. Borgenicht, L. & Borgenicht, J. The Baby Owner’s Manuel: Operating Instructions, Trouble-Shooting Tips, and Advice on First-Year Maintenance Quirk Books, Philadelphia, PA (2012).
5. Fomon, S. Infant feeding in the 20th century: Formula and beikost. The Journal of Nutrition 131, 409S-420S (2001).
6. Doucleff, M. Secrets of breast-feeding from global moms in the know. NPR (2017).
7. Scelza, B.A. The grandmaternal niche: Critical caretaking among Martu Aborigines. American Journal of Human Biology 21, 448–454 (2009).
8. Crittenden, A.N. & Marlowe, F.W. Allomaternal care among the Hadza of Tanzania. Human Nature 19, 249 (2008).
9. Ivey, P.K. Cooperative reproduction in Ituri forest hunter-gatherers: Who cares for Efe infants? Current Anthropology 41, 856–866 (2000).
10. Petersson, C. Negotiating Reproduction: Family Size and Fertility Regulation among Shuar People of the Ecuadorian Amazon. Doctoral thesis, Goteborgs Universitet (2012).
11. Chapple, A. & Ziebland, S. Viewing the body after bereavement due to a traumatic death: Qualitative study in the UK. The BMJ 340, c 2032 (2010).

