Menuju Era Tanpa Password

Saat ini sedang dikembangkan dimana kita tidak perlu login dengan password

form avg.com
Hmmm, apa yang terjadi jika password benar-benar dihilangkan? Dan anda tidak perlu lagi menggunakan password untuk masuk ke akun sosial media hingga untuk transaksi online! Do you feel save?

Mungkin sebagian besar akan menjawab tidak? Tapi coba saya balik pertanyaannya.

Nyebelin gak sih, kalau harus mengingat banyak password? Atau harus ketik-ketik password kalau harus masuk ke website A B C?

Mungkin sebagaian besar menjawab iya!


Password atau kata sandi, jika saya bahas secara mendalam merupakan salah satu upaya untuk memverifikasi keaslian sesuatu apapun, pada prakteknya password sudah digunakan dari before century, atau jangan-jangan bahasa yang kita gunakan adalah pengembangan dari password? Coba pikir kenapa setiap kerajaan memiliki bahasa yang berbeda? example: Kerajaan Kutai beda bahasa dengan Kerajaan Demak, jawaban sederhananya bahasa digunakan untuk menunjukkan identitas, yang saling mengerti berarti memiliki identitas yang sama, sebaliknya yang tidak maka tidak sama. Bagi orang yang beda bahasa tidak akan mengerti apapun yang dikatakan oleh sesama mereka. Bahkan untuk jual beli pun mereka kesulitan. Secara logika mirip!

image from bt.com

Pada era yang sudah moderen ini, password digunakan untuk identifikasi dan verifikasi. Dahulu untuk membuat akun email anda hanya perlu memiliki password berupa huruf saja sudah cukup, tetapi seiring berjalannya era, anda harus mengetikkan minimal 8 character, lalu kurang dari 2 tahun, harus ada kombinasi angka dan huruf, lalu beberapa tahun kemudian harus ada huruf besarnya, dan kini harus ada simbolnya.

image from enterprenuer.com

Perubahan ini membuat kita pusing, karena yang harusnya mudah, tapi jadinya susah. Hal ini disebabkan hacker sudah mulai canggih dalam membobol passoword dengan menggunakan machine learning. Dan logikanya: semakin susah password maka akan semakin susah di jebol hal ini berbanding searah. Tapi berbanding terbalik dengan ingatan kita, karena semakin susah password semakin susah juga mengingatnya. Bagaimana beberapa tahun berikutnya kita harus mengetikkan password dengan 12 character dan harus ada simbol sebanyak 8 jenis? Kan pusing!

Lalu, apakah ada cara untuk memverifikasi tanpa harus menyusahkan user?

Tahun 2015 Yahoo mulai mencoba melakukan penghilangan password untuk login ke email, dengan cara mengetikkan username dan mengirimkan kode verifikasi ke handphone lewat sms. Damn! It’s cool idea! Tidak perlu lagi menghapal banyak-banyak password, cukup ketikkan saja angka yang ada didalam handphone.

Nah masalahnya bagaimana kalau handphone anda mati?

Untuk mengatasi hal tersebut beberapa vendor gencar mengembangkan teknologi enkripsi dengan menggunakan diri anda sendiri sebagai enkripsi. Sebab setiap manusia diciptakan berbeda satu dan lainnya sehingga enkripsi bisa dilakukan dengan sidik jari, bentuk wajah hingga bentuk iris mata, nah tinggal teknologi recognition-nya saja yang dibutuhkan.

Awal-awal tahun 2008, saya sempat melihat laptop keluaran Vaio menggunakan wajah sebagai face recognition untuk login. Tetapi entah kenapa tidak terlalu banyak laptop yang mengembangkan teknologi serupa. Justru yang meningkatkan security ini ialah Bank! Tidak heran mereka berurusan dengan urusan sensitif… Uang!

Diantaranya Lloyds Banking Groups yang sekarang sedang melakukan uji coba keamanan menggunakan Microsoft Windows Hello untuk login dengan menggunakan verifikasi wajah. Dan teknologi ini bisa membedakan mana wajah asli dan mana yang gambar.

Tapi tidak berhenti sampai disini, untuk mem-validasi keamanan dengan hanya menggunakan wajah dirasa kurang cukup. Pengembangan lainnya ialah menggunakan suara, karena bentuk suara, logat berbicara dan aksen seseorang bisa menjadi sangat unik dan susah ditiru.

Hadirnya teknologi Lyrebird dinilai mampu meningkatkan keamanan didalam melakukan login, sehingga verifikasi ini bisa dikatakan hacked-proof karena sulitnya meniru suara hingga melakukan mimic pada suara tersebut.

Pasti sangat menyenangkan jika verifikasi ini bisa diterapkan dan mampu menahan serangan hacker, mungkin anak cucu kita besok akan tertawa begitu mendengar bahwa dulu ada istilah password yang user-nya harus memasukkan kata-kata rahasia dan acak dengan kombinasi huruf, angka dan simbol.

Hanya saja ada yang saya pikirkan.

Jika memang sulit menerobos verifikasi wajah dan suara bagaimana jika yang diterobos adalah databasenya sendiri. Verifikasi wajah dan suara bertujuan untuk mengamankan data secara personal. Bagaiamana jika sebaliknya, data yang telah tersimpan tersebut yang dibobol lalu digunakan untuk pembobolan uang?

Pasti fatal akibatnya

Tulisan ini ditulis pribadi oleh penulis dan sesuai dengan kecerdasan pribadinya, silahkan berkomentar dibawah ini.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.