Sedikit Cerita tentang Bahtera dan Realita
Peringatan! Postingan ini mengandung banyak paragraf, banyak impian, banyak orang, banyak ide, banyak filosofi, sampai ke banyak omong! Untuk yang udah kerja baca sampe tengah aja, untuk yang masih kuliah, baca sampai akhir sih mumpung luang. Ini sekedar postingan pamer diri sendiri dibalut “cita-cita mulia” (pake tanda petik ya) yang kesebar di medsos kok, ya yang kesindir ya terima ajalah ya.
“Eh lucu gak sih kita ngliat realita disekitar kita? Iya, kecil-kecil ajalah, kenapa sih banyak sekali saudara kita yang kurang beruntung? Kalo dibilang ukuran ‘kurang beruntung’ juga aneh sih soalnya kok turun temurun. Indonesia tuh udah 71 tahun merdeka lho, tapi ya gini sesuai kata Soekarno, kita beneran ngelawan bangsa sendiri nih, mulai dari koruptor kakap sampe koruptor sekecil parkir liar yang muncul tiba-tiba kayak kenangan doi.
Pernah ngrasain tukang parkir yang suka tiba-tiba dateng kaya ninja pake jurus seribu bayangan ga kalau kita udah mau pulang makan dari suatu warung? Tiba-tiba aja minta duit pas di akhir. Kadang melihat realitas yang seperti ini kita miris. Dilema memang, disatu sisi dia tukang parkir yang tak resmi dan tidak pantas kita berikan uang, di sisi lain secara ekonomi dia membutuhkan pekerjaan ini.
Tapi ngomongin ngelawan, sejauh apa sih kita ngelawan? Sama tukang parkir liar aja kita tetep ngasih duit, cuman kesel dalam hati aja sambil sok-sok mikir kasihan tukang parkir kan pendidikannya rendah, mikirin ngasih makan keluarganya. Padahal intinya kita takut aja sih dengan alibi bikin ilusi kayak gitu, toh aku selama ini gak tinggal diam kok. Aku tau kalo tukang parkir liar juga hidupnya mewah banget kalo kalian mau deket sama mereka dan tau hidup mereka yang sebenernya. Sayang aja pengeluaran mereka ya habis buat minum, atau kalo yang masih lurus ya maksimal rokok. Tapi pengeluaran mereka yang segitu aja tetep ngalahin kita-kita mahasiswa perantauan bahkan orang tua kita lho. Sudah saatnya kita ini bangkit, kita bikin sesuatu yang kreatif, yang beneran membangun bangsa ini, ini dimulai dari kita, intelektual muda.” Ya begitulah omongan yang biasanya keluar dari mulut seorang senior, figur kampus, figur perkumpulan, atau teman yang lama tak jumpa. Ya omongan ini berlanjut berjam-jam lho bak upline MLM lagi haus cari mangsa, cuman lebih mulia dikit aja sih hehe.
Setengah tahun dari obrolan “cita-cita mulia” di atas, obrolannya berganti menjadi passion. Hobi, main, atau sekedar kuliah. Entah sejak kapan “cita-cita mulia” bisa disandingkan dengan sekedar nafsu kesuksesan pribadi bernama passion.
Setengah tahun kemudian, “cita-cita mulia” baru bernama “bisnis pribadi sejak dini berakhir dengan menguasai dunia” muncul dan bila beruntungpun (bisnis berjalan, tidak hanya sekedar omongan) maksimal 2 bulan bertahan. Tak lama kemudian redup dengan berbagai alasan mulai dari passion ternyata bukan di sini, pasar tidak mendukung, sampai alasan rekan kerja tidak mendukung. Padahal alasan aslinya “tidak berdedikasi”.
Setengah tahun kemudian, segera terpacu menyelesaikan kuliah karena sadar “cita-cita mulia” diatas berada dibawah naungan sakti bernama “uang saku bulanan”. Omong-omong bagi yang tersadar biasanya merasa orang tuanya hebat telah melalui ini semua dan mengurangi waktu mainnya untuk lebih berkumpul dengan keluarga.
Setengah tahun kemudian, ketika menemukan tulisan serupa ini hanya merasa “meh” atau “yah anak muda”. Ia lupa dengan “cita-cita mulia” yang dia debatkan dan koar-koarkan di hadapan orang untuk unjuk diri dan tetap melanjutkan scrolling-nya di media sosial dengan alasan “rileks dulu sambil ngerjain skripsi”. Ya entah juga sejak kapan antara rileks dan kerjaan lebih banyak waktu untuk rileks.
Setengah tahun kemudian, lulus dan mencari kerja, atau yang orang tuanya “kuat” sih bakal udah kerja. Di titik ini, bukan hanya sekedar “cita-cita mulia” yang mereka lupakan, mereka bahkan sangat menghindari tulisan atau obrolan seputar “cita-cita mulia” seperti tulisan ini.
Ya begitulah yang terjadi, tapi ingat balik lagi, ini adalah postingan unjuk diri yang sok asyik karena dibalut “cita-cita mulia”.
Contoh kecil diatas banyak terjadi di sekitar kita. Melihat situasi itu sehingga secara lucu-lucuan tapi ga bercanda kami ingin menyelesaikan masalah-masalah kecil hingga besar yang terjadi di Indonesia. Tapi gimana caranya? Kenalan dulu deh biar jelas alur berpikir dari kaminya.
Kami terdiri dari pemuda-pemudi lucu dan ganteng-ganteng yang membentuk suatu lingkaran yang kami sebut sebagai Bahtera. Kita terbentuk dari orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Secara pemikiran dan fokus kegiatan kami berbeda namun secara visi kami memiliki kesamaan sehingga kami jadi sering ngerumpi untuk membahas visi kami untuk merubah Indonesia ke arah yang lebih baik. Kami sebut diri kami sendiri, yang oleh kami sendiri, disahkan oleh kami sendiri, sebagai Pionir Bahtera.
Semua berawal dari tahun 2013 di sebuah kontrakan lembab-berjamur-yang-selalu-bocor meski-tidak-ada-hujan di daerah Gasibu. Situasi ini meracuni otak seorang pemalas yang merasa racun ini perlu disebarkan tapi karena saking malasnya, dia mengajak seorang yang rajin untuk diracuni yang akhirnya karena rajinnya, meracuni otak orang-orang Bahtera saat ini. Lambat laun racun ini kami pun menyebar dengan sendirinya kepada orang-orang yang terpilih dengan perbedaan pandangan dan kemampuannya masing-masing.
Berbeda-beda dalam satu kesatuan adalah cara kami menyelesaikan masalah bersama-sama. Filosofi yang kami bangun adalah filosofi yang terasa manis kelihatannya namun terasa pahit saat kami menjalaninya sekarang ini. Kami berangsur-angsur, dari nol hingga sampai saat ini berada di titik perkembangan yang jauh sangat signifikan dibanding saat kami memulainya.
Betul, kami semua berkumpul justru karena perbedaan, bukan “cita-cita mulia” anget anget tai ayam yang cuman bertahan maksimal 2 tahun terus dapet panggilan kerja atau panggilan bokap hilang ditelan bumi. Kami masih percaya slogan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya sekedar slogan untuk meredamkan ketegangan akibat perbedaan, namun justru sebuah kekuatan utama. Perbedaan ini bahkan terpaut secara individual di kami yang terdiri dari pemuda yang masih kuliah dan kebanyakan mimpi, orang yang gak lulus-lulus kuliah, orang yang ditakutin ama tukang parkir, lulusan cum laude fakultas tengah di kampus jalan ganesha, preman insaf, bapak beranak satu, bapak beranak tiga, dan sebagainya. Kami saling memenuhi kebutuhan masing-masing dengan rahasianya saling fokus di apa yang kami kerjakan dan kami sukai, bertukar satu sama lain, dengan memegang nilai-nilai bersama Bahtera ini.
Apa itu Bahtera? Bahtera boleh kamu sebut apa saja sesuai pandanganmu. Kalau kami sendiri menyebut Bahtera sebagai suatu gerakan. Gerakan yang mempersatukan orang-orang yang berbuat baik di dalam satu wadah dari berbagai aspek kehidupan. Aspek kehidupan yang kami maksud adalah Ekonomi, Sosial, Politik, Hukum, Pendidikan dan lain-lainnya yang merupakan bagian tak terpisahkan dari solusi untuk permasalahan yang jauh lebih besar. Bahtera adalah sebuah lingkaran orang-orang, badan-badan, dan organisasi-organisasi yang saling berhubungan dan menukarkan ide satu sama lain untuk bersama-sama memecahkan masalah.
Kami tergabung bukan hanya dari satu organisasi atau satu orang saja, namun kami membentuk lingkaran persahabatan satu sama lain dalam satu nama, yaitu Bahtera. Bahtera menurut kami adalah sebuah ide, yaitu ide membentuk lingkaran orang atau organisasi yang saling bersinergis memecahkan masalah-masalah di lingkupnya secara berbeda. Kamu bisa sebut kami apapun, bisa kamu sebut paguyuban, arisan, komunitas, terserah.
Kami menyadari bahwa dalam keberjalanan kami, kami harus mandiri secara ekonomi. Kami sadar bahwa kami harus membuat banyak segmentasi usaha yang saling menopang dalam memecahkan masalah-masalah yang begitu kompleks. Sehingga lahirlah Integra, sebuah grup usaha yang merupakan satu kesatuan dari berbagai macam usaha di dalam naungan PT. Bahtera Integra Dwipantara. Di dalam Integra, terdapat orang-orang yang terikat hatinya oleh filosofi Bahtera sehingga mereka mampu menyelesaikan banyak masalah-masalah melalui kegiatan usaha di dalam Integra itu sendiri. Untuk saat ini, Integra terdiri dari tiga perusahaan profesional di bidang IT, transportasi, dan sandang.
Kalau hanya sampai disana, tentu kamu bertanya-tanya. “Lah grup bisnis toh, apa spesialnya?”. Ingat, tujuan Bahtera bukan hanya sekecil masalah untung-rugi dan kaya-miskin. Kami ada untuk menolong orang banyak. Kami mencari keuntungan secara materil bukanlah untuk kami sendiri, namun untuk kemaslahatan orang banyak lewat kegiatan sosial yang di eksekusi langsung oleh Mercusuar, aspek Sosial dari Bahtera. Sebagian keuntungan yang Integra dapatkan akan diolah menjadi program sosial yang berkelanjutan dan berdampak besar oleh Mercusuar.
Apakah sampai sini saja sepak terjang Bahtera? Integra sebagai aspek Ekonomi dan Mercusuar sebagai aspek Sosialnya? Tentu tidak! Seperti yang sudah kami bilang beberapa paragraf di atas, Bahtera itu Gerakan yang meliputi berbagai aspek kehidupan: Ekonomi, Sosial, Hukum, Politik, Pendidikan, dll. Jadi masih banyak langkah-langkah dan impian-impian kami berikutnya.
Itulah kami, Bahtera. Kami terlahir dari ruang antara realitas dan impian. Kami terlahir karena ingin memecahkan masalah. Mulai dari masalah pribadi hingga masalah negara dan bumi ini. Kami hadir karena kurangnya solusi nyata yang menghantarkan kita kepada pintu gerbang impian. Kami adalah kita, yang saling topang menopang membentuk lingkaran pemecahan masalah sehingga orang mampu berbuat baik tanpa adanya hambatan. Itulah Eutopia yang kami bangun!
tertanda, Pionir-pionir Bahtera