Improve UX dengan Copywriting (I)

Karena kata & rupa saling memberi makna.


Interaksi paling dasar dalam (digital) user experience adalah teks.
Jared M. Spool

Interaksi dasar ini sering kali terabaikan oleh (rata-rata) visual designer karena memang fokusnya adalah untuk membuat desain tampilan. Anda ingat bagaimana kita bermain dengan lorem-ipsum kan? ☺

Berbeda halnya dengan UX Designer, dimana dalam posisi ini kita harus peka terhadap copywriting. Tidak perlu sampai tingkatan ahli, tapi kita harus tahu bahwa copywriting bisa memberi efek pada strategi UX pada web atau apps kita.

Pada awal bulan Maret kemarin, saya berkesempatan untuk mengikuti serangkaian workshop di UX Hong Kong 2015. Pada acara itu salah satu workshop yang saya ikuti berjudul “Deconstructing Delight”, saya mengambil sesi ini karena ada salah satu ahli dalam dunia UX, yaitu Jared M. Spool. Bersama dengan Dana Chisnell, mereka mengajarkan bagaimana melakukan riset dan analisis untuk kemudian mendesain experience yang menyenangkan (delighting) kepada penggunanya.

Nah, bahasan pada artikel ini sebetulnya hanya potongan dari sesi yang dibawakan. Walaupun terlihat simple namun ternyata sangat berguna dan esensial dalam pekerjaan saya. Berikut apa yang saya pelajari di sana.

Mr. Spool & penjelasan tentang copywritingnya.

Visual is ambiance, Copy is Literal

Visual memiliki kekuatan menimbulkan ambiance di dua detik pertama saat website dilihat, tetapi pada Call To Action dan informasi yang bersifat harafiah biasanya akan ditampilkan dalam bentuk bahasa. Bahasa dalam hal ini bisa berupa teks atau suara, tergantung teknologi & interface yang disajikan.

Twitter Landing Page di Indonesia.

Bagaimana menurut Anda desain website di atas? Ya, gambar latar yang besar dengan foto Raisa bersama teman-temannya langsung menimbulkan rasa ketertarikan kita pada website ini dengan instan. Pertama karena sosok dalam gambar itu dekat dengan audience Indonesia. Nah, setelah perhatian kita didapatkan, tinggal dibungkus dengan copywriting yang mengena untuk menyuruh kita masuk atau mendaftar ke dalam aplikasinya.


Better & Worse Copy Experiment

Sebelumnya saya seringkali tidak menyadari apakah copywriting akan mempengaruhi pengguna atau tidak, saya biasanya hanya memperhatikan desain visualnya saja. Namun setelah melewati beberapa projek, saya mulai menyadari pentingnya pemilihan kata dan bahasa pada website, oleh karenanya saya mulai membiasakan melakukan testing terhadap copy yang dibuat. Tes dilakukan adalah untuk mengukur apakah teks itu mudah dipahami? Apakah teks itu memiliki daya untuk menarik minat pengguna (desirability)? Dan sebagainya.

Pada workshop Deconstructing Delight ini, kami diajari bagaimana cara menguji copy, salah satu caranya adalah sebagai berikut:

Make it more Negative or Make it more Positive

Mari kita ambil suatu contoh penawaran produk di bank.

Salah satu produk kartu dari bank di Indonesia.

Pada penawaran ini kita dapat melihat ada list dari keunggulan yang ditawarkan. Untuk mengetahui apakah copy itu sudah relevan dengan konteks bahasa dari pengguna, kita tentukan dulu suatu parameter untuk Positif dan negatifnya.

Parameter Ini bisa berupa daftar persepsi terhadap objek. Misalkan untuk produk bank, parameter positifnya adalah:

  1. Tingkat Kepercayaan tinggi
  2. Keamanan Terjamin
  3. Perhitungan Transparan
  4. Proses yang mudah
  5. Memberikan keuntungan
  6. dll.. (silakan isi sendiri)

Berikutnya, Parameter Negatif:

  1. Tidak bisa dipercaya
  2. Tidak Aman
  3. Perhitungan Tertutup
  4. Birokrasi yang rumit dan panjang
  5. Tidak ada keuntungan

Cukup mudah kan? Oke, parameter sudah tersedia. Mari kita mulai eksperimennya!

#1 Make it More Negative

Pada daftar keunggulan itu, coba Anda buat setiap poin keunggulannya dibalik sehingga sangat negatif.

Biasanya proses negasi ini relatif mudah, Anda bisa mengisinya kurang dari lima menit. Bisa jadi Anda mendapatkan ide negasinya lebih dari satu. Memang mudah ya untuk berfikir negatif? :D hehehe…

Apa yang Anda bisa dapatkan dari proses ini?

Ya, Anda tahu apa yang pengguna khawatirkan terhadap poin-poin keunggulan ini. Dan informasi ini bisa Anda gunakan untuk menjaga persepsi tentang produk Anda.

#2 Make It More Positive

Proses kedua ini sama dengan proses yang pertama, hanya tantangannya adalah Anda harus membuatnya terasa lebih positif dari sebelumnya.

Yang dibuat positif bisa bermacsm-macam. Tergantung desainer & hasil testing kepada pengguna.

Dalam proses ini biasanya Anda membutuhkan lebih banyak waktu untuk berfikir, karena apa yang sudah netral terkesan “yah, mau apa lagi yang diubah?”

Satu saran yang bisa digunakan, Anda bisa coba persepsi baru. Misalnya, dengan mencari tahu keuntungan dengan poin keunggulan itu.

Contoh: “Transaksi pembayaran dalam hitungan detik” -> karena cepatnya proses sehingga Anda hanya perlu tap kartu Anda dan transaksi pun selesai. Jadi, poin keuntungan ini lah yang bisa kita perkuat untuk ditawarkan kepada pengguna.

Nah, demikian yang saya dapatkan dan bisa saya share. Semoga bisa bermanfaat ☺ Silakan kasih komentar, kritik & saran.

Tunggu bagian keduanya :D