Menguatkan Akal Sehat

Techlab bermula dari kegelisahan. Gelisah karena akal sehat kian melenyap.

Lampu merah menyala. Pertanda pengendara sejenak rehat. Restu Arif Priyono (25) ikut menghentikan sepeda motornya.

Seiring dengan dirinya yang sejenak terhenti, terdapat pemandangan yang mengusik akal sehatnya. Lagi-lagi, ini soal sampah yang semena-mena terbuang. Pelakunya: sekeluarga!

Begitu kisah Restu, saat ditemui di kantornya di wilayah Tubagus Ismail, Dago, 13 April 2017 silam.

“Di sebelah saya waktu itu ada motor,” Restu melanjutkan ceritanya. Ada Bapak, Ibu, dan anaknya sedang makan siomay, Sampahnya dibuang begitu saja dari motor sama anaknya. Sama orangtunya dibiarkan.”

Bagi Restu, pola pikir orang pintar takkan menerbitkan tindakan konyol seperti itu.

Akal sehat Restu tak hanya diusik sekali dua kali. Ragam tingkah manusia bikin tak habis pikir bagi nalarnya. Serabat-serobot antrian ialah salah satu yang ia resahkan.

Tatkala melihat orang menyerobot antrian, Restu menyimpulkan jika penyerobot hanya mementingkan urusannya sendiri. Ia jadi teringat materi yang ia pernah pelajari, ketika berkuliah di Teknik Informatika ITB.

“Saya belajar apa yang namanya algoritma antrian,” terang Restu. “Dari materi itu, saya paham betul siapa yang harusnya dapat jatah pertama, siapa selanjutnya. Kita paham betul keadilan dari mengantri.”

Mengantri, seperti layaknya menyimpan sampah pada tempatnya — adalah common sense yang baginya sudah terlanggar sekian lama. Jengah akan kondisi itu, mulai terpikir ide-ide dalam benak Restu.

Hingga akhirnya bertemulah ia kembali dengan Faris, kawan lamanya. Turut serta ia menemani Restu di sesi wawancara ini.

Faris Sundara Putra adalah kawan lama yang Restu temui lagi saat menyelesaikan studi di MBA ITB.

Dari kecil, Faris penasaran akan banyak hal. Mulai dari mengapa barang elektronik bisa menyala, mengapa makan harus memakai sendok, hingga pertanyaan radikal seperti: mengapa manusia harus bersekolah. Wah!

Walaupun sempat bertanya alasan harus bersekolah, nyatanya Faris sampai pula berkuliah Administrasi Bisnis Unpar. Sembari berkuliah, Faris merambah pula berbagai bisnis. Jualan rumah, kain, hingga baju pernah ia lakoni. Namun, Faris melihat pola yang tidak begitu baik dalam berbisnis.

“Saya lihat yang bikin bisnis value-nya kecil banget. Nilai manfaatnya nggak seberapa, dampaknya ke orang lain nggak seberapa,” keluh Faris.

Akhirnya, Faris mulai berkegiatan dalam komunitas perintis startup. Bahkan, dirinya tercatat sebagai founder inkubasi bisnis bertajuk cubic.id. Lagi-lagi Faris menemukan masalah baru: minimnya ketersediaan engineer yang bertanggungjawab; serta visi yang belum mantap dari startup-startup yang ia kelola.

“Startup cenderung terjebak untuk mengikuti tren. Orang lain bikin e-commerce, kita juga bikin. Orang lain bikin finance technology, kita pun bikin. Sedangkan alasan kenapa bikin jenis bisnis yang seperti itu, malah nggak tahu,” ujar pria kelahiran Tasikmalaya, 26 tahun silam itu.

Alhasil, Restu dan Faris pun saling bertukar pikiran. Sekilas berbeda, namun ditemukanlah satu titik. Ide yang bersemayam lama di benak Restu pun mencuat.

Bagaimana caranya, bisnis dan teknologi ditempatkan agar mindset masyarakat kian jernih? Bagaimana caranya teknologi tidak menjelma sebagai problem-maker, melainkan problem-solver?

Titik temu inilah yang memantik Restu dan Faris untuk merintis startup edukasi teknologi.

Alhasil mereka mulai merintis konsep bagi startup mereka, tak lupa visi dan misi mereka cantumkan. A mindful tech society. Problem solving mindset. Act based on common sense and conscience. Betapa luhur dambaan masa depan yang tertera di pitch desk mereka.

Kemudian terpilihlah nama Techlab, sebagai perlambang ide-ide yang tertuang. TechLab, sesuai namanya, adalah laboraturium bagi eksperimen berteknologi.

“Techlab harus ada!” tegas Restu mantap. “Orang-orang yang mau berpartisipasi sebagai problem-solver melalui teknologi, terhambat karena tidak memiliki skill.”

Bagi Restu, dibutuhkan mental smart agar masyarakat mau berpartisipasi sebagai problem-solver. Smart, menurutnya ialah sikap orang-orang yang memiliki akal sehat — punya problem solving mindset.

Nah, bagaimana mental smart ini dapat mempengaruhi manusia dalam berteknologi?

Barangkali, manusia harus memaknai ulang teknologi.

Restu melihat, kini teknologi seolah hanya dipersepsikan berkaitan dengan elektronika, digital, dan informatika.

Padahal menurut Restu, teknologi ialah segenap hal yang membuat kehidupan manusia kian mudah. Ini selaras dengan apa yang tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yaitu: keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

“Termasuk kursi. Kursi adalah teknologi, memudahkan kita untuk duduk, kan?” terang Restu.

Faris mengiyakan, kemudian menimpali. Baginya, konsep teknologi yang diperkenalkan TechLab adalah teknologi yang menjadi solusi. “Misal, kini negara maju beralih pada electronic car karena bisa mengurangi polusi. Ini jenis teknologi yang bisa lebih memberi value!” paparnya.

Every journey begins with a single step. Begitu ujar Lao Tzu. TechLab itself is a journey. Lantas, bagaimana bentuk langkah pertama yang TechLab tapaki?

TechLab siap mengadakan course untuk menciptakan teknologi berbasis Information Technology (IT). Bagi Restu, course tak sekadar dibuat tak berarti. Course adalah pipa-pipanya dalam menyalurkan nilai-nilai yang diyakini. Lagi-lagi, ini tentang teknologi yang menguatkan akal sehat.

“Nanti juga ada workshop bagaimana memanfaatkan teknologi dalam keseharian,” tambah Restu. “Kita publish juga kurikulum kita.”

Faris, yang dinobatkan Restu sebagai external guy, ingin memfokuskan diri pada kolaborasi. Media-media yang TechLab buat akan dibagi, untuk kemudian dikolaborasikan.

Sedangkan Restu lebih berfokus pada meramu konten, menggarap kurikulum, serta menetapkan arah. The thoughtful one.

Sembari memaparkan langkah pertama, Restu dan Faris pun bercerita mengenai teknologi-teknologi yang akan TechLab seusai IT. Restu menyebut beberapa bidang seperti artificial intellegent, bioinformatics, hingga rekayasa genetika yang tengah mahsyur di luar negeri.

“Indonesia tertinggal beberapa tahun dalam menggarap teknologi tersebut. Inginnya, TechLab bisa belajar mengadopsi teknologi tersebut,” ujar Restu.

Namun Faris mengingatkan, jika yang digarap TechLab bukan semata-mata karena teknologi tersebut sedang naik daun. “Tapi, nyambung dengan masalah yang terjadi atau nggak,” kata Faris.

Restu mengamini. Walaupun nanti lulusan TechLab tidak akan membuat perusahaan teknologi, Restu berharap setidaknya ia mau tertib mengantri saja. “Sederhana, namun impactful,” ujar Restu.

Because, it’s about spreading the mindset.***