Berjalan Seirama

Wawancara dengan Glend Maatita, CTO dan co-founder Refactory.
Penulis:
Kartini F. Astuti

Ruang tunggu itu bercahaya redup dan beraroma medis. Terdengar bunyi pengeras suara memanggil nama pasien. Tangisan para balita menjadi musik pengiring pagi. Orang-orang di sekitar hilir mudik dengan tergesa.

Mendampingi istrinya cek kehamilian anak pertama di Rumah Sakit Hermina, Pasteur, 29 April 2017 lalu, seorang pria berlogat Jawa kental memaparkan kegelisahannya.

“Di zaman informasi, teknologi seperti berlari,” begitu ujar pria bernama Glend itu.

“Tetapi materi di institusi pendidikan tidak banyak yang berubah dan sudah tidak relevan lagi. Ada gap knowledge yang lebar antara universitas dengan kondisi riil di dunia bisnis sehingga kita menjadi sangat tertinggal.”

Gap pengetahuan dan industri.

Alasan itulah yang mendorong Glend Maatita (29) seorang programmer lulusan Institut Teknologi Sepuluh November, dan rekan-rekannya membentuk sistem pendidikan ter-update untuk para pengembang aplikasi seluler.

Berawal dari usainya kontrak kerja dengan perusahaan Hawaii, ia dan dua orang lainnya mendirikan perusahaan Bixbox di Surabaya sejak November 2016.

“Tujuannya, untuk mendidik para freelancer secara intens dalam mengerjakan berbagai project pemrograman,” Glend melanjutkan. “Dari sana kemudian tercetus ide untuk mendirikan “sekolah kilat 90 hari” bernama Refactory Indonesia,” papar sang calon ayah.

. . .

Ramai Pendaftar

Pada batch pertama Januari lalu, bootcamp programmer mobile apps yang menempati lantai 3 Eduplex Cafe di jantung kota Bandung itu memiliki lebih dari seribu pendaftar!

Para pendaftar ditantang mengikuti tes online terlebih dulu. Kemudian, peserta diseleksi menjadi 30 orang. Perjalanan belum berakhir, ada tahap interview 30 orang tersebut dipilih lagi menjadi hanya 8 orang.

Uniknya, peserta yang lulus akan mengikuti seremonial wisuda di Peta Park, dihadiri Kominfo dan rekan media. Selesai mengikuti rangkaian bootcamp, peserta akan langsung disalurkan ke perusahaan-perusahaan ternama.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=1gZKkk8GaGI

Bambang Purnomo Sidik, Ph.D (32), seorang akademisi asal Yogyakarta direkrut langsung menjadi Kepala Kurikulum sekaligus lecture. Materi diberikan Bambang selama 1 jam, lalu waktu sisa digunakan peserta untuk latihan coding sampai jam 10 malam.

“Ada pula 7 project leader yang melakukan pendampingan dengan cara mereview hasil kerja peserta perkemahan,” ujar Glend

Kegiatan belajar berlangsung dengan sistem intensif selama paling lama 14 jam pada hari Senin sampai Jumat. Sedangkan hari Sabtu dialokasikan untuk kegiatan yang bersifat nonteknis seperti latihan kepemimpinan dan komunikasi.

“Kurikulum yang disusun pun tidak baku, disesuaikan dengan perkembangan teknologi, dan bisa berubah di setiap batch,” ujar Glend.

Untuk saat ini, kebanyakan peserta bootcamp berasal dari kalangan pemuda yang baru lulus SMK dan mahasiswa yang cuti kuliah. Bahkan seringkali para mahasiswa tidak melanjutkan kuliah setelah belajar di bootcamp!

Setelah selesai bootcamp, peserta disodorkan kontrak kerja dalam mengerjakan real project dari partner perusahaan lokal maupun internasional.”

Gambar dari sini.

Keller William — salah satu perusahaan properti terbesar di dunia yang berbasis di Texas — juga menaruh kepercayaan kepada Refactory Indonesia. Hampir separuh project datang dari mereka.

“Karena itulah, kekuatan fisik dan mental harus dipersiapkan,” ujar Glend dengan semangat, “Ada beberapa peserta yang kuat secara fisik tapi mentalnya down karena merasa jauh tertinggal dibanding yang lain. Itu harus kami support terus.”

. . .

Bayar Tapi Gratis

Gambar dari Codepolitan.com

Saat ini, Refactory Indonesia sendiri meraih omset sekitar Rp300.000.000,- perbulan. Berbeda dengan bootcamp lainnya, Refactory Indonesia memiliki metode pembiayaan yang unik. Secara legal, peserta memang memiliki kewajiban untuk membayar biaya intensif sebesar Rp30.000.000,- sampai batch selesai.

“Namun, pada prakteknya, peserta tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Justru mereka mendapatkan salary dari klien sekitar Rp5.000.000,- perbulan.” Lho?

Jadi, setelah lulus dan bekerja di perusahaan tertentu, mereka bisa mencicil kewajiban tersebut kepada Refactory Indonesia selama 8–10 bulan.

. . .

Bandung, Bukan Jakarta

Glend pada awalnya mengusung lokasi kantor di Jakarta. Bahkan sudah ada ruko empat lantai yang siap dipakai.

Namun kondisi politik yang tidak kondusif membuat mereka berpikir memindahkan Refactory Indonesia ke Jakarta. Eduplex Cafe dipilih sebagai lokasi bootcamp karena memiliki atmosfir kreatif.

Gambar dari: student.unud.ac.id

Peserta bootcamp bisa turun ke bawah untuk menikmati suasana yang penuh warna jika sewaktu-waktu merasa lelah mengerjakan coding. Kantor lain bertempat di Apartmen Puri Dago untuk persiapan hiring bagi peserta yang sudah lulus.

“Di tempat itu, wisudawan Refactory Indonesia akan memperdalam materi dan mengasah kemampuan komunikasi sebelum terjun ke dunia kerja sepenuhnya,” lanjut Glend.

Pada September 2017, sekolah dengan sistem intensif ini akan membuka cabang di Kota Pelajar, Yogyakarta.

Dengan memperbaiki ekosistem programmer secara menyeluruh, Refactory Indonesia diharapkan bisa menjadi alternatif pendidikan yang tepat tanpa menghilangkan peran universitas.

Memang, perbandingan jumlah penduduk negeri ini dan orang yang berprofesi sebagai programmer masih sangat jauh. Padahal, di abad 21 nanti, kecakapan dalam berbahasa coding demikian dibutuhkan.

Glend berharap banyak pendidik di Indonesia yang mampu membidani lahirnya para programmer kompeten. Ia mengamini, dalam waktu dekat bootcamp-bootcamp serupa berkecambah.

Ini supaya pengetahuan tak ditinggali tuntutan industri — melainkan berjalan seiring-seirama.***