Mempelajari Penerapan Building Information Modeling (BIM) di Amerika Serikat

Sumber: http://www.polantis.info/zdurge/wp-content/uploads/2013/06/BIM.png

Building Information Modeling (BIM) merupakan salah satu teknologi di bidang AEC (Arsitektur, Engineering dan Konstruksi) yang mampu mensimulasikan seluruh informasi di dalam proyek pembangunan ke dalam model 3 dimensi. Teknologi ini sudah tidak asing lagi bagi industri AEC di dunia, termasuk di Indonesia. Selama berjalanannya BIM sendiri mendapat respon yang positif dari masyarakat mengingat keuntungan yang ditawarkan di bidang AEC. Dengan menerapkan metode BIM, baik developer, konsultan maupun kontraktor mampu menghemat waktu pengerjaan, biaya yang dikeluarkan serta tenaga kerja yang dibutuhkan. Perlahan-lahan BIM mulai diaplikasikan di masing-masing sektor. Penerapan BIM mulai diterapkan oleh aktor besar sektor industri konstruksi di Indonesia seperti PT. Pembangunan Perumahan yang merupakan perusahaan BUMN dan PT. Total Bangun Persada yang merupakan perusahaan swasta. Metode BIM juga mulai diaplikasikan di sektor pengembang/developer seperti PT. Intiland. Setelah itu, mulailah metode BIM diaplikasikan di konsultan perancangan seperti PT. PDW Architects. Namun setelah beberapa tahun BIM diaplikasikan di Indonesia, penggunaannya dirasakan belum maksimal dengan perkembangan yang semakin stagnan. Memang BIM yang telah diaplikasikan diberbagai sektor tersebut tetap memberikan keuntungan sesuai dengan ekspektasi masing-masing aktor. Namun penggunaan BIM sendiri di Indonesia masih hanya sebatas menjawab persoalan bagaimana mengefisiensikan kebutuhan tenaga kerja, waktu dan uang. Jika kita berkaca pada bagaimana pengaplikasian metode BIM di Amerika Serikat, potensi yang dicapai dari pengaplikasian metode BIM di Indonesia masih jauh dari kata maksimal.

Mindset mengenai BIM sendiri perlu diluruskan terlebih dahulu, dimana pertama pengaplikasian BIM itu bukan hanya sekedar menggunakan perangkat lunak yang mampu memfasilitasi metode BIM di dalam pengerjaan suatu proyek. Pengaplikasian BIM tersebut memang membutuhkan perangkat lunak khusus, seperti Autodesk Revit, ArchiCAD, AECOSim, dan software lainnya, namun sekedar penerapan software tersebut hanya menjabarkan kulit luar dari pengaplikasian metode BIM itu sendiri. Secara garis besar,

BIM merupakan sistem, manajemen, metode atau runutan pengerjaan suatu proyek yang diterapkan berdasarkan informasi terkait dari keseluruhan aspek bangunan yang dikelola dan kemudian diproyeksikan kedalam model 3 dimensi

Teknologi BIM sendiri sudah dikenal dari tahun 2003 di Amerika Serikat Serikat. BIM di Amerika Serikat dimulai dengan meluncurkan 9 proyek percobaan untuk mempelajari implementasi BIM di dalam proyek yang dilakukan oleh General Service Administration (GSA), organisasi pemerintahan utama yang mengimplementasikan BIM di sektor fasilitas umum. Kemudian di tahun 2006, GSA kembali meluncurkan 3 proyek percobaan lainnya menggunakan alat pemindai laser terhadap bangunan dan menggunakan data yang diperoleh untuk membuat model BIM as-built dari bangunan tersebut. Hasil yang diperoleh digunakan untuk merencanakan pengembangan kedepannya dari bangunan tersebut.

Dimulai dari inisiasi tersebut, pada tahun 2007 penggunaan BIM di Amerika Serikat berkembang dengan pesat. Pada tahun 2009, 50% industri di Amerika Serikat sudah mengaplikasikan BIM. Hal tersebut meningkat sebanyak 75% dari tahun 2007. 42 persen pengguna BIM di Amerika Serikat Serikat berada di level expert dan advanced, yang jumlahnya berkembang sebanyak 3 kali lipat dari tahun 2007.

GSA terus melakukan langkah-langkah strategis lainnya dalam mengembangkan penerapan BIM di Amerika Serikat. Diantaranya sebagai berikut:

· GSA mengarahkan penggunaan BIM berbasis IFC (Industry Foundation Classes) serta mengarahkan agar penggunaan BIM tidak hanya didasari atas efisiensi biaya saja, tetapi juga atas dasar keuntungan lainnya yang ditawarkan seperti kemampuan untuk mengeksplorasi metode engineering yang berbeda, melakukan analisis energi, mendapatkan spesifikasi prduk secara otomatis dan juga penghematan dalam penggunaan kertas.

· GSA juga mengarahkan agar setiap desain bangunan baru yang melalui Public Building Services (PBS) menggunakan BIM pada proses perancangannya

· GSA menuntut adanya standard BIM Nasional untuk Amerika pada tahun 2006, yang direncanakan akan digabungkan ke dalam standard keseluruhan proses pelaksanaan proyek bangunan.

· GSA menuntut adanya standard BIM Nasional untuk Amerika pada tahun 2006, yang direncanakan akan digabungkan ke dalam standard keseluruhan proses pelaksanaan proyek bangunan.

· GSA juga bekerja sama dengan organisasi real estate internasional untuk mendukung standard software dan sistem BIM. Organisasi tersebut termasuk Finland’s Senate Properties, the Danish Enterprise and Construction Authority, dan Norway’s Directorate of Public Construction and Property. Tujuannya adalah untuk mempromosikan interoperabilitas dan kemudahan di dalam pertukaran data bagi masing-masing pengembang/developer.

· GSA membuat demonstrasi pengaplikasian desain hemat enegi pada proyek San Fransisco Federal Building Project dengan memotong 50% energi yang dibutuhkan bangunan kantor pada umumnya. Dengan konsep ini, bangunan di desain dengan lebar yang optimal dengan pencahayaan dan penghawaan alami. Penerapan BIM di proyek ini mendukung perangkat dasar yang dibutuhkan untuk integrasi desain awal konsultan perancangan, struktur, mekanikal elektrikal dan plumbing (MEP). Selain itu GSA juga menerapkan konsep hemat energi di dalam proyek Salt Lake City Federal Courthouse. GSA juga memanfaatkan BIM untuk mendata penggunaan ruang, manajemen tenant dan mengevaluasi kesesuaian desain dengan program yang dibutuhkan.

· Untuk menanggapi kondisi saat terjadi bencana, GSA mengembangkan teknologi ‘avatar’ yang diadopsi dari industri game untuk menciptakan simulasi perilaku manusia di dalam model virtual. Melalui simulasi tersebut, model BIM akan diisi oleh manusia virtual yang memiliki kemampuan untuk berjalan, berlari, beralik, lalu mencari pintu keluar terdekat. Melalui simulasi tersebut akan didapatkan pola pergerakan dan waktu yang dibutuhkan pengguna untuk menyelamatkan diri ketika terjadi bencana pada bangunan yang dirancang.

Berkaca dari bagaimana langkah Amerika Serikat dalam menerapkan penggunaan metode BIM, aktor industri arsitektur, enginering dan konstruksi di Indonesia masih belum serius dalam melihat potensi yang bisa dikembangkan dari teknologi ini. Permasalahannya, penerapan BIM di Indonesia masih dilakukan secara sporadis oleh masing-masing aktor tanpa ada lembaga atau organisasi yang saling menghubungkan aktor satu dengan aktor yang lainnya sehingga tidak ada ketercapaian lain yang ditargetkan dari penggunaan BIM selain mengefisiensikan kebutuhan tenaga kerja, waktu dan uang. Langkah awal yang bisa dilakukan oleh Indonesia adalah menggagas sebuah organisasi profesional seperti GSA di Amerika Serikat, yang berkapabilitas untuk mendorong potensi pengaplikasian BIM di semua sektor AEC di Indonesia secara aktif dan juga bertugas untuk menyusun visi misi yang terus menerus kedepannya dari penggunaan BIM sehingga perkembangan BIM di Indonesia tidak berada dalam posisi yang stagnan.

-Tim bicaraBIM

Daftar Pustaka

Andy K. D. Wong, Francis K. W. Wong, Abid Nadeem. 2010. Attributes of Building Information Modelling Implementations in Various Countries.

Like what you read? Give Ilham Fajar Putra a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.