Pembelajaran berharga dari Alamanda Shantika

Alamanda Shantika dan Saya

Sosok Alamanda Shantika atau yang lebih dikenal sebagai Ala merupakan public figure tersendiri di dunia Tech-Startup. Minggu lalu, GO-JEK harus merelakan seorang Alamanda Shantika agar ia dapat mengejar mimpinya yang lebih besar lagi.

Saya tidak pernah bekerja secara langsung dengan Ala. Tapi satu tahun lebih saya di GO-JEK cukup untuk membuat saya sadar bahwa Ala adalah salah satu jiwa dari GO-JEK itu sendiri.

Saya menulis artikel ini dalam Bahasa Indonesia untuk mengekspresikan rasa hormat saya, rasa kagum saya, dan rasa sayang saya terhadap seorang kakak, mentor, sahabat, serta rekan kerja saja, Alamanda Shantika.

Adapun banyak pelajaran yang saya ambil dari seorang Ala lah yang mendorong saya untuk menulis artikel ini juga.

Bekerjalah dengan hati dan mimpi

Ala mengajarkan saya bahwa ketika bekerja, jangan lupa masukan 2 elemen yang sangat penting, yaitu hati dan mimpi.

Hati dan mimpi

Bekerja dengan hati, bukan untuk materi.

Bekerja dengan hati, bukan untuk diri sendiri.

Bekerja dengan mimpi, bukan hanya untuk masa kini.

Bekerja dengan mimpi, agar tetap memiliki ambisi.

Ala selalu bekerja dengan mimpi dan hatinya. Bukan hanya karyawan GO-JEK, tapi juga banyak driver GO-JEK yang merasakan ketulusan seorang Ala. Ambisi nya untuk berbakti kepada negeri, dan empati nya kepada orang-orang sekelilingnya, menjadikan Ala sosok yang sangat berarti.

Jangan pernah berhenti belajar dan berbagi

Ala dipanggil “Ummi Ala” oleh seluruh anak-anak IT atau Tech di GO-JEK. Dedikasi Alla untuk berbagi ilmu, membimbing tim nya, menunjukan sisi kemanusiaan dan kegagalannya kepada orang lain, membuat kami semua belajar bahwa seorang Ala pun bisa melakukan kesalahan dan tidak malu untuk mengakui hal tersebut.

“Belajar itu gak yang baik-baiknya aja, lang. kadang, hal yang buruk juga bisa dijadikan pembelajaran” -Alamanda Shantika

Melepas cintamu terhadap sesuatu untuk hal yang jauh lebih baik

Belajar untuk ikhlas dan melepas segala sesuatunya adalah pembelajaran sangat berharga yang saya dapat dari seorang Ala.

Ala merupakan salah satu pendahulu GO-JEK. Ala juga lah yang dulu ikut membangun GO-JEK dari nol. Entah bagaimana rasanya bila saya ada di posisi Ala. Ketika ‘bayi’ yang saya ikut besarkan ini sudah bisa berlari kencang dengan lucunya, dikala itu saya juga harus merelakan untuk melepasnya.

Hal ini dilakukan Ala karena ia sadar, ia ingin membantu ‘bayi-bayi’ lain di Indonesia agar bisa berlari kencang layaknya GO-JEK.

Berlarilah tanpa garis finish

Ketika saya dan teman baru beberapa bulan di GO-JEK, Ala bilang bahwa “di GO-JEK itu, lo kayak lari sprint tanpa garis finish!”.

Terdengar sangat melelahkan, bukan?

Tapi yang dimaksud oleh Ala, bukan semata-mata dari segi lelahnya. Tapi seberapa konsisten dan persisten kita akan apa yang ingin kita raih.

Ketika kita melihat garis finish, melambatkan ritme lari, hingga akhirnya berhenti berlari, ketika itu pula lah GO-JEK berhenti berinovasi dan memberikan dampak sosial yang positif kepada masyarakat.

Ala, terima kasih telah memberikan kami semua pembelajaran yang sangat berharga. Terima kasih karena telah membiarkan kami semua menjadi bagian dari langkah kesuksesanmu, dan terima kasih juga karena telah menularkan semangatmu kepada GO-JEK, kepada kami.

Teruslah berkarya, kepakkan sayapmu lebih lebar lagi, Bu Guru!

-Gilang Gibranthama Saman