Bukalapak Design
Published in

Bukalapak Design

My First Whiteboarding Test and What I Learned From There

I don’t know how the whiteboarding process is until I did it and got a lot of lessons learned from there

people doing a design workshop, and someone stands on front pointing at sticky notes
Photo from Jason Goodman

Sebagai designer yang sering mendapatkan take home test dalam proses hiring, whiteboarding test merupakan pengalaman pertama yang memberikanku banyak pelajaran.

Whiteboarding test adalah salah satu step dalam proses hiring Bukalapak dengan tujuan untuk menunjukkan kemampuan proses desain dan problem solving secara langsung ditempat.

Dalam whiteboarding test, aku diberikan waktu 30 menit untuk menyelesaikan sebuah masalah dan diminta untuk menceritakan rasional setiap keputusan yang diambil. Singkat kata, whiteboarding test ini seperti menyederhanakan proses desain dari yang sebulan (bahkan lebih) menjadi 30 sampai 40 menit.

Preparation

Sebelum aku memulai whiteboarding test, hal pertama yang aku lakukan adalah do research dengan mencari tahu bagaimana cara melakukan whiteboarding test dan tips & trick (tipikal newbie banget). Ada beberapa teman yang membantuku untuk mempersiapkan whiteboarding test ini, namun selain itu aku juga mencari beberapa artikel di Medium agar aku lebih bisa memahami proses whiteboarding test ini seperti apa.

Satu hal yang membekas di kepalaku adalah saran salah satu temanku untuk melakukan thinking out loud. Artinya, aku harus menceritakan secara lantang apa yang ada di kepalaku, apapun itu. Sebuah saran yang ternyata memberikan dampak besar dalam perjalanan karirku.

Whiteboarding Test

Hari H.

Setelah join ke Google Meet, interviewer — yang saat ini jadi Design Manager dan UX Researcher di tim ku — dan aku saling memperkenalkan diri. Berikutnya, interviewer memberikan brief whiteboarding test & menjelaskan masalah yang harus aku selesaikan. Saat itu, aku diberikan waktu 30 menit untuk menyelesaikan masalah sampai ke tahap ideasi.

Aku mencoba untuk memikirkan apa metode dan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang diberikan. Pengalamanku, dibandingkan memilih metode, aku merasa hal yang paling menantang adalah thinking out loud karena aku harus menceritakan segala proses yang aku lakukan, apa yang aku pikirkan, dan kenapa aku mengambil keputusan tersebut.

Selama prosesnya, aku berusaha untuk menggunakan metode yang tidak asing dan sudah beberapa kali aku gunakan. Menurutku, whiteboarding test bukanlah ajang unjuk kemampuan menggunakan metode, namun untuk memperlihatkan bagaimana cara berpikir kita menyelesaikan masalah melalui sebuah proses desain.

Selain thinking out loud, aku juga memberanikan diriku untuk bertanya kepada interviewer atas hal-hal yang kurang aku pahami. Meskipun whiteboarding test adalah self-test, namun bertanya bukan berarti menunjukkan aku bodoh.

Memastikan sesuatu dengan bertanya lebih baik daripada sok tau dan akhirnya menghasilkan solusi yang tidak relevan dengan masalah yang diberikan.

Akhirnya, waktu 30 menit berlalu. Fiuh, lega banget! 😮‍💨 🎉

Sebenarnya, dalam proses whiteboarding test, interviewer sudah beberapa kali menanyakan proses atau keputusan yang aku ambil. Jadi ketika whiteboarding test sudah selesai, hanya ada beberapa pertanyaan untuk memastikan bahwa aku selesai mengerjakan.

Closing

Di penutup whiteboarding test, aku bertanya bagaimana proses desain, kolaborasi antar tim, dan job descriptions di Bukalapak. Setelah itu, whiteboarding test berakhir dan aku mulai pasrah, haha. 😅

Lesson Learned

Ada banyak hal yang aku pelajari dalam proses whiteboarding test dan dari sana aku merasa ternyata ada banyak hal yang kujadikan self-improvement sebagai seorang UX designer.

Tanyakan apapun yang masih belum jelas

Sekali lagi, bertanya itu bukan artinya kita menunjukkan kebodohan. Dan tidak pernah ada pertanyaan bodoh. Dari whiteboarding test, aku belajar bahwa menanyakan sesuatu yang masih belum jelas adalah salah satu hal penting untuk memastikan bahwa aku masih berada di “jalan yang benar” dalam menyelesaikan masalah. Selain itu, dengan bertanya, kita akan semakin yakin terhadap keputusan solusi yang akan diambil atau lebih bijak dalam memilih solusi apa yang tepat untuk masalah tersebut.

Do research

Sebelum whiteboarding test, cobalah untuk melakukan riset kecil-kecilan dengan meminta saran dan bertanya ke senior di ADPList atau teman yang sudah pernah melakukannya. Selain itu, membaca beberapa artikel di Medium juga akan sangat membantu untuk mempersiapkan diri.

Take a breath

Inhale… Exhale… Jangan lupa bernapas. Meskipun menegangkan, tidak ada salahnya untuk sejenak menghela nafas. Tujuannya agar bisa lebih tenang dan tidak terburu-buru saat mengerjakan whiteboarding test.

Thinking out loud is must

Meskipun challenging, thinking out loud merupakan salah satu cara untuk menunjukkan ke interviewer proses desain yang sedang dilakukan. Aku banyak belajar dari sini karena ternyata ini bisa menjadi salah satu hal yang bisa memiliki dampak besar untuk pengerjaan whiteboarding test.

Confident for every decision

Dalam proses whiteboarding test, akan muncul pertanyaan dalam benak, “ini bener gak sih?”, atau “Metode ini sudah tepat belum sih pakainya?” “ide ini oke gak yaa?” daripada fokus dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan akhirnya membuat kita ragu, lebih baik fokus pada bagaimana kita menyelesaikan masalah ini dan yakin terhadap setiap hal yang kita kerjakan.

Untuk menutup tulisan ini, let me say thanks to everyone who helped me to conduct the whiteboarding test 6 months ago. I can’t mention all of you, so if you read this, thank you!

Cheers,
Syifa

--

--

All the stories, experiences, and explorations by Bukalapak Design team members

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store