Kenapa emak-emak kalo nge-sein kiri, beloknya ke kanan?

Vandi
Vandi
Oct 5, 2019 · 4 min read

Sebuah percobaan mengupas tuntas misteri abad 21 lewat sudut pandang UX.

Beberapa minggu terakhir gue eksperimen buat mengatasi ngantuknya gue selama perjalanan pulang kantor. Jarak dari Kemang-Depok ditambah macetnya Jakarta udah lebih dari cukup buat bikin badan pegel-pegel dan, tentunya, ngantuk.

Nah, untuk menyiasati ke-ngantuk-an tersebut, gue membiasakan buat mikirin apa aja yang gue liat di jalan. Mulai dari aspal sampe awan. Simply biar otak gue gak bengong atau mikir hal jorok aja gitu (WC jongkok misalnya), jadinya nggak ngantuk karena otak gue kepaksa mikir terus.

But still, biasanya apa yang gue pikirin selalu receh dan nggak penting. Sampe suatu saat gue nemu hal yang agak keren, berangkat dari pemikiran gue ketika ngeliat lampu sein mobil orang.

Image for post
Image for post
Tau kan lampu sein? Itu lho benda berkelap-kelip warna kuning yang menempel di kendaraan bermotor itu?

Sambil ngeliat sein mobil di depan gue yang lagi kedip-kedip, gue seakan terhipnotis dan mendadak berpikir filosofis:

“Kenapa ya, emak-emak kalo nyalain sein ke kiri, beloknya malah ke kanan?”

Menit-menit awal mikirin ini, gue senyam-senyum sendiri sambil ngatain emak-emak united tentang kebiasaan mereka yang sampe viral di internet. Udah jelas banget kalo gue mau belok kanan, ya nyalain lampu sebelah kanan lah! Biar orang-orang tau kalo gue tuh mau ke kanan, jadi mereka ambil kiri. Begitu juga sebaliknya.

“Apa susahnya dari hal yang udah common sense dan obvious sih? Ada jutaan motor gitu lho di Indonesia dan semuanya pake rules yang sama, kok bisa mereka beda sendiri? Nonsense hahaha”

Lalu gue berhenti di perempatan. Tapi kebetulan gue mau ke arah kiri, dan gue ngeliat rambu kaya gini:

Image for post
Image for post
Yaampun gif lampu lalu lintas aja impor mau jadi apa bangsa ini!?!?!?

Oh okay, gue langsung ambil lajur kiri dan ngeng lanjut jalan.

Tapi beberapa meter setelah lewat perempatan itu, gue baru sadar bahwa…

Image for post
Image for post
Ini lampu sein…
Image for post
Image for post
Ini lampu… sein yang nyangkut di tiang?

“Ya tuhan. Apakah ini alasan dari…”

Jangan-jangan, yang bikin emak-emak ngasih sein kiri tapi beloknya ke kanan bukanlah karena efek samping dari evolusi sel tubuh wanita — yang secara natural menjadi emak-emak — tapi karena mental model yang mereka pakai untuk lampu sein itu disamakan dengan lampu lalu lintas.

Bentar-bentar apaan tuh mental model? Nah, kita mulai masuk ranah user experience nih, rada serius dikit.

Jadi mental model adalah m̶e̶n̶t̶a̶l̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶d̶i̶m̶i̶l̶i̶k̶i̶ ̶s̶e̶o̶r̶a̶n̶g̶ ̶m̶o̶d̶e̶l̶ persepsi atau konsep yang ada di pikiran manusia tentang sebuah produk yang berinteraksi dengannya. Mental model dari seseorang terhadap suatu produk itu banyak banget yang mempengaruhi, bisa jadi dibentuk dari pengalaman awal dia berinteraksi, bisa jadi diberitahu orang lain tentang produk tersebut, dan lain lain. Lo bisa cari lebih lanjut dengan keyword ‘Mental Model UX’ di google, takutnya gue menyesatkan dan mengguncang dunia per-ux-an duniawi.

Contoh umumnya, kalo gue ngeliat kotak seukuran kursor yang punya tulisan di dalamnya pada sebuah website, mental model gue menyatakan bahwa itu adalah sebuah button. Bisa dipencet, dan akan membawa gue ke halaman lain atau melakukan suatu aksi. Mental model ini bisa jadi dibentuk dari interaksi gue dengan saklar lampu rumah gue, atau produk lain yang secara bentuk dan fungsi punya kemiripan.

Poin penting tentang mental model adalah: ia terbentuk berdasarkan kepercayaan, bukan fakta.

Di kasus ini, asumsi gue bisa jadi emak-emak punya mental model bahwa lampu kuning yang berkedip di lingkungan lalu lintas itu punya arti kamu boleh jalan ke arah sini dengan hati hati.

Kepercayaan itu diambil dari interaksinya dengan lampu lalu lintas, dan di aplikasikan ke lampu sein karena mereka punya bentuk yang sama (kedap-kedip, warna kuning, mirip spongebob) dan berada di environment yang sama pula. Jadi pasti fungsinya sama dong? Gamungkin beda doong?

Padahal, faktanya beda.

Maka jadilah ketika mereka pengen belok kanan, mereka malah nyalain lampu sein sebelah kiri sebagai isyarat bahwa “gue mau ke kanan nich, monggo kamu lewat kiri aja ya”. Wayolooo

Setelah menyadari adanya kemungkinan tentang misleading mental model ini, gue langsung merasa bersalah ngeledekin emak-emak. Tadinya senyum-senyum naik motor, berubah jadi berpikir keras. Merasa berlumur dosa gitu.

Berarti gue selama ini menganggap user itu salah berinteraksi dengan produk, and this is an example of dangerously misleading pre-assumptions in UX. Padahal emang produknya yang punya potensi ngelawan mental model-nya existing users. Perasaan bahwa produk yang kita buat sudah sangat ideal sehingga ketika seorang user nggak bisa memakai dengan benar, yang salah dia, bukan produknya. Padahal belum tentu dibackup dengan data kuantitatif yang bisa menentukan apakah user tersebut memang outlier atau bukan.

Faktanya — most of the time — we are not our users. What if majority of our users can’t use it?

Setelah baca ini, coba validasi asumsi gue tersebut ke emak-emak disekitar kalian yang punya indikasi ‘nge-sein kiri belok kanan’ dan tanya kenapa. Bisa jadi benar, bisa jadi ada alasan yang even more mind-blowing karena UX is everywhere and its always fun to learn new things about it!

Eh iya by the way, gara-gara mencoba empati ke mental model yang dianut oleh emak-emak tentang lampu sein, mulai saat itu gue jadi mikir dua kali tiap ngeliat lampu sein atau lampu lalu lintas: “E e eits bentar bentar, gue belok mana nih jadinya”

Bukalapak Design

All the stories, experiences, and explorations by Bukalapak…

Medium is an open platform where 170 million readers come to find insightful and dynamic thinking. Here, expert and undiscovered voices alike dive into the heart of any topic and bring new ideas to the surface. Learn more

Follow the writers, publications, and topics that matter to you, and you’ll see them on your homepage and in your inbox. Explore

If you have a story to tell, knowledge to share, or a perspective to offer — welcome home. It’s easy and free to post your thinking on any topic. Write on Medium

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store