Hume : alasan tuh ada buat perasaan

“Reason is, and ought only to be the slave of the passions, and can never pretend to any other office than to serve and obey them.” 
 ― David Hume, A Treatise of Human Nature

Ya, apa sih yang kebayang di pikiran kita kalau denger kata passion? Kan ada tuh yang suka bilang kalau milih jurusan itu ya pilih yang sesuai passion. Penting ga sih yang kaya gini? Lah kalau ada yang salah jurusan gimana dong? Sering tau juga kan kalau orang yang sulit di jurusan suka bilang salah jurusan. Keinginan, minat, kesukaan, atau hal yang lain?

Kalau kata Hume itu, sebagaimana terdapat di buku A Treatise of Human Nature yang diterjemahkan dengan Google Translate, pikiran dalam persepsinya harus dimulai dari suatu tempat. Itu tidak bisa dimulai dengan gagasan, karena setiap gagasan muncul setelah kesan yang sesuai; jadi harus dimulai dengan kesan. Harus ada beberapa hal sebagai berikut

(1) kesan yang muncul dalam jiwa tanpa digembar-gemborkan oleh persepsi sebelumnya. [Ingat bahwa untuk persepsi Hume ‘mencakup setiap keadaan mental.] Penyebab kesan sensasi ini adalah benda alam dan peristiwa di luar sana di dunia; Aku tidak bisa memeriksanya. Tanpa menyimpang dari subjek saya sekarang menjadi anatomi dan ilmu pengetahuan Alam. Jadi saya akan membatasi diri saya pada yang lain

(2) tayangan, yang saya sebut ‘sekunder’ dan ‘refleksi’,yang timbul baik dari kesan asli atau dari ide terhadapnya. Rasa sakit dan kesenangan jasmani adalah sumber dari banyak nafsu, keduanya · segera · saat mereka dirasakan oleh pikiran dan • melalui mediasi gagasan • saat mereka dipertimbangkan olehnya; tetapi mereka sendiri muncul awalnya dalam jiwa (atau di dalam tubuh, sebutlah apa yang Anda inginkan) tanpa pemikiran atau persepsi sebelumnya. Serangan asam urat, · yang sangat menyakitkan ·, menyebabkan serangkaian hasrat yang panjang — duka cita, harapan, ketakutan dan sebagainya — tapi tidak segera datang dari keadaan mental atau gagasan apa pun.

Ya gitu, apapun yang kita rasain sekarang itu pasti ada sensasi awalnya. Makan deh, misalnya. Kita diperkenalkan makan oleh orang tua kita tentang makan. Lalu kita banyak bertumbuh dan melupakan perkenalan itu. Tanpa sadar kita terbiasa makan, tanpa banyak bertanya untuk apa makan itu. Kita hampir selalu merasakan efek positif dari makan, semacam kelezatan di lidah, penambahan energi, suasana ngobrol ketika makan, dsb. sehingga kita tetaplah mencari makan. Kita juga hampir tidak pernah merasakan efek negatif dari makan (jika ada : misal ketakutan yang tidak teratasi) sehingga kita tidak menghindar dari aktivitas bernama makan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.