Arak-arakan Wisuda, Untuk Apa?

Kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung memiliki sebuah tradisi setiap tahunnya. Bahkan tradisi ini terjadi tiga kali setahun. Tradisi apa itu? Yap mungkin dari judul artikel ini pun sudah tertebak, yaitu tradisi arak-arakan wisuda!

Tradisi arak-arakan ini sudah berlangsung sejak lama, bahkan ketika ibuku masih menjadi mahasiswi disini (beliau ITB angkatan 1984), tradisi ini sudah ada. Dan tentunya tradisi ini dilakukan setiap wisuda, oleh himpunan mahasiswa jurusan (HMJ), di bulan April, Juli, atau Oktober. Nah tapi sebenarnya.. buat apa sih tradisi ini ada? Kenapa harus arak-arakan?

Oke jadi arak-arakan, yang mungkin tradisi ini tidak ditemukan di universitas lain (apalagi universitas luar negeri), bertujuan untuk mengapresiasi wisudawan dan sebagai acara selebrasi. Selebrasi terhadap apa? Selebrasi terhadap kelulusan para wisudawan. Sebatas itu? Ya, sebenarnya sebatas itu.

Lalu apa bedanya arak-arakan wisuda yang sekarang dengan yang dulu? Dulu, arak-arakan seringkali diiringi kericuhan antar himpunan. Sekarang, lebih beradab. Dulu, arak-arakan dalam ITB tidak terorganisir. Sekarang, ada panitia terpusat yang mengatur jadwal arak-arakan tiap himpunan dan mengatur secara keseluruhan acara parade wisuda. Dulu, wisudawan beresiko terlukai karena budaya himpunan-himpunan keras seperti GE* dan T*RRA. Sekarang, wisudawan dimanjakan oleh LO yang disediakan himpunan (walaupun budaya moshing IMG tetep ada sih). Intinya arak-arakan sekarang sudah lebih beradab ketimbang jaman dulu tanpa menghilangkan tradisi dan esensi dari arak-arakan itu sendiri.

Nah sekarang, balik lagi ke tujuan diadakannya arak-arakan. Dari kacamata seseorang yang sudah pernah TPB, jadi panitia terpusat, dan sekarang ikut ngarak di himpunan, menurutku banyak sekali orang yang mulai menggeser maksud dari arak-arakan dan parade wisuda itu sendiri.

Pada kepanitiaan terpusat, panitia lapangan didiklat sedemikian lama dan sedemikian keras. Hal tersebut agar panlap dapat menghadapi massa himpunan yang notabene kakak tingkat mereka. Namun karena sedemikian keras itu lah, tak jarang ada arogansi yang muncul diantara mereka. Arogansi bahwa panitia lapangan diatas panitia divisi lain (diatas yang non-panitia apalagi).

Pada himpunan-himpunan tersendiri, tak jarang himpunan beradu gengsi dengan himpunan lain. Melakukan prosesi dengan orasi yang gagah dan diksi bertingkat tinggi. Orasi yang mengandung kata-kata mutiara demi menyadarkan wisudawan tentang pentingnya mengabdi kepada masyarakat setelah lulus nanti. Namun, kebiasaan orasi ini lambat laun menjadi formalitas eventual. Dan kata-kata itu pun terlewat begitu saja. Hanyalah angin lewat yang terhembus tiga kali setahun.

Lalu apa sih yang sebenarnya ingin aku sampaikan?

Pertama, bangga itu perlu. Bangga atas pencapaian diri maupun bangga atas himpunan. Rasa bangga adalah rasa yang dapat memicu kita untuk terus berkarya baik itu untuk diri sendiri, himpunan, maupun masyarakat. Namun rasa bangga ini tidak perlu berlebihan. Rasa bangga yang berlebihan dapat menumbuhkan rasa arogansi, sesuatu yang seringkali dijumpai di ITB. Rasa arogansi ini yang dapat membuat seseorang merasa dirinya lebih baik ketimbang yang lain. Lalu, apakah perlu dalam arak-arakan wisuda ini?

Kedua, mungkin orasi sudah menjadi salah satu budaya yang melekat dengan himpunan setiap ada event seperti wisuda. Namun jangan sampai orasi ini hanyalah sebatas formalitas. Jangan sampai kata-kata mutiara itu tidak teraplikasikan dan hanya terhembus dan lewat begitu saja di acara eventual seperti ini. Nilai seperti pengabdian masyarakat haruslah menjadi budaya dari himpunan itu sendiri, bukan hanya dalam bentuk orasi yang dijadikan budaya.

Ketiga, jangan lupa tujuan dari arak-arakan wisuda, mengapresiasi dan berselebrasi atas kelulusan wisudawan. Jangan sampai arak-arakan ini menjadi event adu gengsi antar satu sama lain. Jangan sampai arak-arakan ini melupakan tujuannya yaitu membahagiakan para wisudawan. Ini kan hari spesial mereka, momen spesial mereka, dan waktu paling membahagiakan dalam hidup mereka. Selama mereka puas dan senang, sebuah arak-arakan berjalan dengan sukses. Tak peduli gengsi atas himpunan lain.

Terakhir, inilah hari kita semua berpesta. Inilah acara dimana kita bersenang-senang. Inilah salah satu momen bahagia sebagai mahasiswa ITB ditengah lika-liku perkuliahan. Jangan sampai kita malah terbebani oleh suatu acara yang seharusnya membahagiakan kita semua. Jangan sampai kita cuma dapet lelahnya doang. Don’t let anything ruin this beautiful and festive day.

Thariq Izzah Ramadhan

Anggota Biasa MTI ITB

Like what you read? Give Thariq Izzah a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.