Catatan Aksara Talk #1: Passion itu butuh waktu
Mendung dan gerimis menyelimuti kota Trenggalek di hari Sabtu, 1 September 2018 kemarin. Namun ternyata hal tersebut tak menyurutkan minat teman-teman untuk hadir di Aksara Talk pertama kami.
“Ada hal yang cukup menarik tentang passion berdasarkan buku ini”, sahut mas Ario Muhammad sambil mengangkat bukunya, So Good They Can’t Ignore You. “Bahwa passion saja tidak cukup untuk membuat kita survive di dunia ini.”
Teman-teman terdiam sembari mencerna hal baru yang tidak wajar itu. Bukankah petuah-petuah lama justru mengatakan bahwa follow your passion? Ikutilah passion-mu?
“Mungkin kamu masih mencampuradukkan antara minat dan passion. Minat itu bisa banyak. Tapi kalian harus master dalam suatu hal.” lanjutnya.
Sebuah hal yang normal di usia 20-an untuk mencari jati diri. Mencoba sebanyak mungkin hal serta berpindah-pindah. Tetapi ternyata kita harus paham bahwa kita punya batasan.
Ia lalu mencontohkan penelitian Dr. Angela Duckworth tentang faktor yang dibutuhkan seseorang agar menjadi seorang sukses. Dr. Duckworth menyebut faktor itu sebagai grit.
Secara sederhana, grit bisa dianalogikan seperti kemampuan seseorang untuk bertahan melakukan suatu hal. Seorang akan sangat ahli dalam bidang itu karena daya tahannya untuk berlatih, melakukan deliberate practice hingga terus belajar meningkatkan career capital nya.
Career capital adalah sebuah “modal” yang didapat karena saking lamanya seseorang menggeluti suatu bidang.
Dalam kasus mas Ario misalnya, ia mengakui memiliki grit yang tinggi karena kemampuannya telah terasah selama bertahun-tahun. Ia membaca ratusan penelitian, menganalisa data, menuliskannya ke dalam ribuan kalimat hingga mengalami revisi yang tak terhitung banyaknya untuk menjadikannya seperti saat ini.
Tentu tak mudah. Ia juga mengenang bagaimana dulu laporan penelitiannya pernah dilempar pembimbing sembari berujar “Jangan pernah berikan laporan saya seperti ini lagi.”
Namun apakah ia menyerah? Tidak. Ia bersyukur memiliki mental tahan banting yang nilainya tak terhingga. Hingga ia berlatih siang-malam untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya sebaik mungkin. It takes time.
Passion itu bukan sekedar hobi atau minat. Orang bisa saja mengaku punya banyak passion, tetapi passion sebenarnya nanti justru muncul setelah ia banyak menjalani peristiwa dalam hidupnya.
Beberapa teman-teman nampak mencatat nasihat penting ini.
Hari makin siang dan topik yang dibahas pun semakin mengalir. Mulai dari beasiswa, kuliah lanjut, kegagalan, hingga tentang suatu hal yang populer di rentang usia 20-an: perjodohan.
Ada teman yang bertanya tentang bagaimana jika ada pertentangan dengan realita yang ada. Ada juga yang minta tips mendapat beasiswa. Semuanya ditanyakan apa adanya tanpa sekat.
Menjelang dzuhur dan setelah berbagai pertanyaan terjawab, pernyataan pamungkas pun diutarakan.
“Bagaimanapun juga, kita berbeda dengan orang Barat. Kehidupan mereka bebas. Tetapi sebagai orang Indonesia dan orang Islam saya sadar jika ada aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar.”
“Waktu kita terbatas. Jadi saran saya kepada kalian selama usia 20 an ini, cobalah bermanfaat sebanyak-banyaknya. Cari jaringan pertemanan seluas-luasnya. Juga jangan lupa jalan-jalan. Karena jalan-jalan akan membuka perspektif kalian”.
“Pencarian jati diri itu normal. Tapi jangan dinormalkan. Suatu saat kalian harus punya hal yang bisa digeluti hingga menjadi seorang master”, tutupnya.
Di akhir acara, sesuati misi Aksara, tak lupa kami membagikan karya terbaru mas Ario, PhD Parents Story yang baru saja duluncurkan beberapa bulan lalu.

Buku-buku yang direkomendasikan mas Ario agar dibaca oleh anak 20 an.

