vlog vs blog | sebuah opini pribadi

iya ini jamannya vlog ya jamannya video blog, yang dulu lewat tulisan sekarang tinggal upload video. Kok saking banyaknya vlog jadi tidak menarik ya, ada beberapa yang natural, ada beberapa yang terkesan dipaksakan hanya demi viewer/penonton semata. Trend vlog lalu jadi youtuber lalu jadi artis/apapun namanya, ujungnya sama popularitas dan monetesi, iya financial dari iklan dan barang promosi dsb.

Kok saya jadi tertarik menulis lagi, tertarik cerita ini itu lewat tulisan saja, bukan karena tidak punya kamera untuk nge-Vlog lho ya, tapi saya rasa tulisan lebih sakral dibanding video blog yang kadang isinya cuma makan siang, nonton, jalan-jalan dsb. Tentu saja tidak semua konten video blog itu menjenuhkan, beberapa memang ada yang bagus seperti punya mas Erix Soekamti dengan DOES nya, yang beliaunya sendiri gak mau dibilang vlog, tapi lebih seneng disebut kontent video kreatif. Contoh salah satu episode DOES :

Maraknya fenomena vlog sekarang mungkin sedikit akan berpengaruh pada budaya membaca/literasi sebab dengan vlog mudah sekali menikmatinya tinggal di tonton, di dengarkan audionya dan dicermati editing efek videonya. Nah kalau saya kok lebih seneng membaca bait demi bait tulisan sambil dibayangkan suasana yang ada ditulisan itu, daripada melihat langsung vlog yang kadang didalam vlog disebut “eh ini kita gak sengaja lho ambil video ini, belum make up juga, belum dandan, dll” pada nyatanya memang sudah diatur sedemikian rupa, detail dan skenarionya. Oh iya yang masih bingung vlog itu apa lihat contohnya dibawah ini ya :

Jadi gini beberapa hari yang lalu saya membeli buku “Distilasi Alkena” yang ditulis oleh “Wira Nagara” niatnya pengen saya panggil mas, eh tapi umurnya beberapa tahun dibawahku, jadi aku panggil Dik saja ya, nah sejak baca buku dik wira ini aku jadi seneng puisi, seneng kata-kata manis yang disusun secara dinamis, ritmis, bombastis, dan bikin nangis :( iya kisah ditinggal nikah oleh sang pacar yang bisa dirayakan atau di festivalkan oleh orang banyak lewat judul-judul tulisannya yang menurut saya ini salah satu buku terbaik yang saya baca.

Buku Distilasi Alkena by Wira Nagara

Nah dari membaca bait demi bait buku ini saya bisa merasa ikut dalam suasana dan membayangkan setiap detail suasana, musik, angin yang berhembus, wangi yang tercium dan segala sesuatu yang ada diceritakan dibuku ini padahal ini buku lho, bukan vlog / video. Gini bagi yang belim bisa merasakan ini saya cuplikan beberapa bait isi bukunya tapi ini bukan bocoran lho ya bukan spoiler, ini hanya cuplikan saja

“ Tak usah kau tatap gerimis berdua sembari bermanja-manja. Kelak kau akan sadari rintik hujan hanya akan membawamu ke dasar bumi, mengubur harapanmu ke inti magma, membakarnya hidup-hidup, dan meledak ke permukaan bersama sakit yang tak tertahankan
Kau akan kembali membuat prasasti di kaca jendela, bersekutu denga ndebu yang membias di balik embun, jemarimu akan memulai cerita berbekal sela-sela yang merindukan genggaman. “ Distilasi Alkena Hal. 19 (Silahkan beli bukunya untuk cerita utuhnya)

Nah apa gak sahdu baca bait diatas, siapa yang tidak hanyut dalam kenangan, siapa yang tidak hanyut dalam setiap detail katanya, ada gerimis, hujan, bahkan inti magma yang kita bayangkan dengan persepsi masing-masing.

Hal sebaliknya kadang saya rasa, jika nonton vlog malah terkesan ah gak asyik soalnya ya kaya lihat cctv saja, tingkah polah manusia dalam rekaman lensa. Tapi sekali lagi lho ya ini khusus untuk vlog-vlog remaja yang kadang gak jelas maksudnya. Nah mulai saat ini kayaknya saya bakal sering nulis di medium karena medium memang asyik untuk sekedar menyimpan catatan perjalanan hidup ini. Ingat prasasti itu berbentuk tulisan yang terpahat, bukan video yang terupload.

Mungkin lho ya, trend vlog remaja terjadi karena fenomena social media, seperti facebook dan instagram, khusus untuk instagram khususnya sangat berpengaruh pada pola pikir remaja masa kini, unggahan video atau dengan caption kata-kata bijak telah jadi sesuatu yang lazim sekali meski mereka bukan motivator atau bukan trainer. Saya cenderung melihat trend video instagram yang durasinya terbatas inilah yang dikembangkan menjadi vlog dengan durasi “semau gue” terserah yang buat, tanpa sensor dan kadang dengan editing efek atau tanpa efek sekalipun.

Intinya sebenarnya mau blog atau vlog semua tertuju pada kualitas konten dan seberapa merdeka kamu dalam berkarya, jika nulis, nulislah sejujurnya agar pesan yang ditulis sampai pada hati pembaca karena tulisan yang disusun rapi tidak akan seberisik kenangan mantan (aku mulai teracuni bahasa dik wira). Selamat berkarya dan Merdeka !