Renung Bebunyi

Garis start untuk menuju maqam maestro seni bebunyi ialah non-conditional surrender pada kerentanan gendang telinga. Sebab, jauh sebelum seorang musikus menyulam benang frekuensi di atas lembar ritme, menjahit tutti pada helai tangga nada, ia musti sadar betul bahwa lapis stratosfer pemisah sunyi dan komposisi berada pada area antara daun telinga dan otak manusia.

Nyali untuk memulai sepukul membran dan segetar dawai tak boleh menggagahi limit kapasitas neuron saat menghantar sinyal dari eter menuju aql. Tiap-tiap gelombang harus digenggam dilengkunglipatkan agar tetap pas dalam lingkaran pencerapan batin awam. Bahwasanya butir-butir berlian bunyi kebanyakan berbentuk bisik samar, ini mudah saja digelegarkan dengan penambah daya elektronik maupun magik. Sedangkan debum berlebihan yang telanjur sulit dikekang hanya akan menguarkan racun yang memutus syaraf auditori.

Demi mengindahkan perjalanan berkesenian, baiklah kita selalu menjemput setiap periode kreasi dengan barang semenit masa hening untuk mengingatkan diri akan kuasa, potensi, pun bencana di selingkung bebunyi, ruang, cahaya, suhu, dan hati. Lahir dari sunyi, hidup dalam kini, purna pada transendensi.