Jangan Lupa ‘Membayar’ Udara

sumber: http://edition.cnn.com/2015/09/04/asia/china-beijing-blue-sky-disappears-after-military-parade/

Pernahkah terlintas di pikiran kita, bahwa udara bersih yang kita hirup secara cuma-cuma, di masa depan harus kita bayar?

Pernahkah terpikirkan untuk memberi nilai lebih terhadap yang diberikan ekosistem kepada kita? misalkan kemampuan tanah memberikan nutrien bagi tumbuh-tumbuhan, kemampuan lebah yang membuat bunga-bunga bermekaran dan bisa menghasilkan buah, atau kemampuan lanskap hijau untuk menurunkan konsentasi pencemaran udara? Itu adalah jasa.

Bukan hanya jasa tukang cukur rambut, driver gojek, petani, dan nelayan yang harus kita hargai, tetapi juga jasa lingkungan.
Apa yang telah lingkungan berikan tidak hanya barang yang langsung bisa kita nilai dengan uang, tetapi juga jasa-jasa tersebut yang juga perlu kita beri nilai sebagai tahap dalam perwujudan pembangunan yang berkelanjutan atau sustainable.

Antroposentris, jalan menuju common pool tragedy
Pandangan antroposentris melihat manusia sebagai pusat utama, terpisah dari lingkungan. Lingkungan hanya dianggap sebagai sumber daya pemenuh kebutuhan. Penentang pandangan ini adalah biosentris. Anggaplah antroposentris ekstrim kiri, dan biosentris ekstrim kanan.

Tidak begitu ekstrim, namun berada di bagian kanan, terdapat sebuah pandangan baru bernama deep ecology: lingkungan yang bukan manusia juga memiliki nilai, yaitu nilai intrinsik, nilai di luar manfaat langsung bagi manusia.

Penilaian lingkungan dari manfaat langsung (use value) hingga tidak langsung (nonuse value) harus ditetapkan, jika tidak ingin adanya degradasi lingkungan. Kalau ikan yang ditangkap bisa langsung dihargai dengan uang, bagaimana dengan udara bersih?

Karena keberadaannya yang tidak terbatas, penilaian pada udara terkadang diabaikan. Ketidakacuhan tersebut membuat pencemaran udara, terutama di kota-kota metropolitan, telah mengalami tingkat yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan WHO, 1,3 juta penduduk kota meninggal per tahun akibat polusi udara. Kondisi ini merupakan salah satu bukti eksternalitas negatif dari kegagalan pasar. Di satu sisi, pencemaran disebabkan oleh kemajuan perekonomian dan pendapatan seperti meningkatnya industri dan kepemilikan kendaraan bermotor.

Padahal, di sisi lain terjadi penurunan kualitas lingkungan yang juga mengurangi kualitas hidup penduduk. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya memiliki hari dengan kualitas udara tidak baik lebih dari 35% per tahunnya. Tanpa kebijakan penilaian terhadap kualitas udara, pencemaran akan terus meningkat.

Membayar Udara dengan Kebijakan
Negara bagian Ohio, Amerika Serikat adalah salah satunya yang telah memberikan kebijakan bagi penilaian kualitas udara. Ohio memiliki sebuah badan otoritas bernama The Ohio Air Quality Development Authority (OAQDA).

Lembaga ini menyediakan dana bagi penelitian maupun pengembangan produk yang mampu meningkatkan kualitas udara atau menurunkan polusi udara. Di Ohio, kualitas udara bisa dijadikan sebuah bisnis. Setiap proses, struktur, perangkat, atau peralatan yang menghilangkan, mengurangi, mencegah, polutan udara yang memenuhi syarat, mendapatkan insentif pajak melalui OAQDA.

Pendekatan untuk menilai kualitas udara bisa juga berupa Smog Trading. Salah satu contohnya adalah program di California yaitu Regional Clean Air Incentives Market (RECLAIM). Program ini membatasi produksi buangan polutan udara oleh industri-industri disana. Namun, saat kapasitas buangan masih tersisa, sisa kapasitas bisa diperjualbelikan ke industri lainnya.

Penilaian yang dilakukan negara seperti Swedia, Prancis, dan Jepang adalah dengan mengenakan biaya emisi yang dikeluarkan pabrik. Biaya tersebut menjadi tambahan pendapatan bagi negara dan dimanfaatkan untuk membiayai kerugian akibat polusi udara.

Di Indonesia, penilaian terhadap kualitas udara masih belum dilakukan secara langsung. Pencemaran udara di beberapa kota pada waktu tertentu bisa berada pada tingkat pencemaran yang sangat buruk.

Perlu gerakan yang lebih besar sebagai payung gerakan untuk meninggalkan pandangan antroposentris, sebuah kebijakan untuk mempertimbangkan kualitas udara dalam setiap pengambilan kebijakan, atau pembuatan kebijakan untuk kualitas udara itu sendiri.

Dan kita sebagai bagian dari lingkungan, tidak bisa hanya menunggu agar digerakkan untuk meninggalkan antroposentris, ‘pembayaran’ udara bisa dilakukan dengan beralih ke transportasi publik, memberi ruang bagi vegetasi, dan mungkin ada saran lainnya?

“Homo Sapiens we call ourselves, rulers of this Earth, Intelligent and civilized, but what is all this worth? ….” — Sandra M. Haight

“We all live downwind.” — Bumper sticker in USA, 1980s quoted in Urban Ecology, 2014

“We all live downstream.’ — Environmentalist’s motto, quoted in The New Ecology of Nature, 2002

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.