Javelin Experiment Board

Ketika terpikirkan membuat sebuah ide untuk membangun sebuah produk atau aplikasi, hal yang biasanya terpikirkan adalah ini.

“Wah kayanya bagus kalo bikin aplikasi ABC yang memungkinkan user untuk melakukan X,X,X,X dan kita sediakan fitur Z,Z,Z”

Ya memang, membuat aplikasi, product, atau layanan bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh orang-orang.Namun, Bagaimana jadinya bila kita menyelesaikan masalah yang sebenarnya bukan masalah bagi orang-orang. Atau malah memang produk yang kita ciptakan tidak dibutuhkan oleh orang-orang.

Maka dibutuhkan sebuah validasi untuk membuktikan ide kita itu valid, atau apakah masalah-masalah yang dihadapi tersebut benar-benar ada atau tidak.

Ada tools yang bernama Javelin Experiment Board yang berguna untuk membantu kita untuk melakukan validasi terhadap ide-ide kita, memastikan masalah yang kita angkat itu benar-benar nyata adanya.

Apa itu Javelin Board ?

Javelin Board adalah sebuah tools yang merubah ide kamu menjadi sebuah eksperimen.

Javelin Experiment Board

Javelin board terbagi menjadi dua ruas. Ruas kiri yang disebut dengan brainstorming, dan ruas kanan disebut dengan excecution. Dalam brainstorming kita dapat menuliskan beberapa hipotesis berbeda yang mungkin terjadi yang nantinya bisa kita test, sedangkan dalam excecution dilakukan eksperimen terhadap hipotesis tadi.

Untuk memulai menggunakan Javelin Board hal yang pertama dilakukan adalah membentuk hipotesis.

Hipotesis berguna untuk memberikan batas kepada ide-ide gila kita agar kita dapat lebih fokus . Hipotesis di pecah menjadi 3 bagian yaitu, customer, problem, dan solution.

Tentukan siapa saja customer yang akan menggunakan product kita, setelah customer ditentukan pindahkan salah satu customer tersebut ke ruas kanan untuk dieksperimen. Setelah itu tentukan masalah-masalah apa saja yang dihadapi, kembali pindahkan salah satu masalah tersebut ke ruas kanan.

Baris solusi di ekspresimen pertama sengaja dibuat abu-abu agar kita tidak langsung memberikan solusi di awal dan fokus terhadap masalah.

Setelah kita menentukan masalah apa saja yang dihadapi oleh customer, maka setelah itu buat list mengenai asumsi-asumsi tentang masalah customer yang dirasa benar.

Selanjutnya adalah menentukan riskiest assumption, riskiest assumption yang dipilih adalah asumsi kita mengenai masalah customer yang paling benar menurut kita.

Setelah membuat riskiest assumption maka saatnya kita menentukan metode kriteria sukses untuk riskiest assumption yang kita buat. biasanya untuk membuktikan asumsi kita benar yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada calon customer secara langsung atau bisa juga melalui survey, namun untuk hal ini lebih baik melakukan interview secara langsung agar hasil yang didapat benar-benar valid.

Setelah kita melakukan wawancara maka didapatkan hasil-hasil dari wawancara tersebut, hasil yang didapatkan bisa saja sukses atau benar bisa juga hasilnya tidak benar atau asumsi yang kita punya tidak benar ternyata pada realita nya maka dari itu hasil yang didapatkan dinyatakan pivot. Bila hasil yang didapatkan sudah dinyatakan benar maka kita sudah dapat menentukan apa sih solusi yang sebenarnya dibutuhkan untuk mengatasi masalah customer tersebut. Dan juga bila hasilnya dinyatakan pivot berarti masalah yang kita asumsikan tidak benar-benar dianggap suatu masalah maka dari itu bisa dinyatakan pivot dan kita dapat mengganti asumsi yang sudah diujikan sebelumnya dengan asumsi yang baru.

Berdasarkan hasil tersebut tentunya didapat pembelajaran yang dapat kita gunakan di eksperimen-eksperimen selanjutnya.

beberapa case study dari penggunaan javelin board untuk memvalidasi ide bisnis bisa disimak di link ini https://www.leanstartupmachine.com/validationboard/

Ya mungkin sekian pembahasan mengenai Javelin Board, semoga bermanfaat dan selamat memvalidasi ide untuk produk kalian !

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Evan Gilang Ramadhan’s story.