Cara Mengatasi Takut Diplagiat

Pada 25 September 2018 lalu saat saya dan tim Codex sedang berkumpul, kami bertukar pikiran mengenai apa yang akan kami tulis di artikel selanjutnya. Saya pun mengutarakan keresahan saya mengenai:

Sesungguhnya selama ini banyak ide dan opini yang ingin dituliskan, diunggah ke internet, namun saya takut ide dan opini tersebut dipakai oleh pihak tertentu dan dipatenkan sebagai miliknya. Kalaupun tidak sampai dipatenkan, masyarakat tetap mengetahui bahwa ide tersebut merupakan miliknya, bukan milik saya yang pertama menyampaikannya.

Mendengar keresahan saya yang paling muda di tempat tesebut, para senior di sana hanya tertawa mendengarnya. Setelah pembahasan tersebut, kami pun saling pamit untuk pulang dan pada saat itu juga saya menyadari sesuatu.

Bahwa di saat kita menguasai sesuatu, kita tidak akan takut diplagiat.

Iya benar, mengenai “banyak ide dan opini yang ingin dituliskan” sebelumnya merupakan hal-hal yang Saya-Rasa-Saya-Kuasai, bukan hal yang memang Saya-Kuasai. Sudah terjawab kan “Cara Mengatasi Takut Diplagiat”-nya? Masih belum? Mari kita ke contoh kasus yang terjadi pada saya (atau bahkan pernah terjadi juga pada kamu)

Di artikel ini kita tidak akan membahas “orisinalitas”, yang mungkin bisa kita bahas di artikel berikutnya. Juga di artikel ini kita akan lebih membahas kasus karya visual: poster, ilustrasi, OC (Original Character), dan lain sejenisnya.


Pada tahun 2015 lalu, saya lupa tepatnya kapan, saat itu sahabat saya mengabarkan bahwa ada akun Instagram yang menggunakan ilustrasi siluet yang pernah saya hasilkan pada tahun 2012.

Sebagai seorang mahasiswa yang karyanya untuk pertama kali dipakai orang lain tanpa izin, saya pun mencoba menanyakan dengan cara menyindir ke pelaku, menanyakan bagaimana cara beliau membuatnya, hingga kapan membuatnya. Karena pelaku tetap mengaku bahwa gambar tersebut adalah hasil karyanya, akhirnya saya pun mulai memberitahunya bahwa gambar tersebut adalah hasil karya saya dengan memberinya bukti foto model siluet, proses pengerjaan siluet, sampai ke screenshot folder siluet tersebut beserta tanggalnya.

Apakah pelaku kapok dan mengaku?

Ya, pelaku mengaku.

Namun tanpa kapok.

Saya lupa bagaimana tepatnya, namun inti kalimat yang dikatakannya,”Haha kalo gak mau gambarnya diambil orang ya jangan dimasukin ke internet”. Hal-hal seperti ini saya yakin kamu sebagai penggiat karya visual setidaknya pernah merasakan satu kali hal yang serupa. Lantas, bagaimana cara mengatasi agar karya kita tidak diambil orang lain dan dianggap sebagai karyanya? Bagaimana cara mengatasi agar karya kita tidak diplagiat?

SIMPAN SAJA KARYANYA

Ya, simpan saja! Tidak perlu mengunggah ke media sosial, tidak perlu mengunggah ke internet. Bila ingin memamerkan, ikut atau buat lah pameran. Butuh atensi agar mendapat proyek/commission? Perbanyak lah kenalan.

DAFTARKAN HAKI-NYA

Ya, daftarkan Hak Kekayaan Intelektual-nya! Daftarkan secara hukum. Jadi bila terjadi kejadian seperti cerita sebelumnya, kita pun dapat mengurusnya secara hukum. Tersangka plagiat bukan hanya terkena hukuman moral dari teman-teman kita (yang belum tentu dapat membuat tersangka kapok), namun juga terkena hukuman secara hukum yang tertulis di negara kita (yang semoga bisa membuatnya kapok). Bisa dibaca lebih lanjut di Beranda DJKI ini, tapi bacanya nanti aja ya, selesaikan membaca artikel ini dulu, hehe.

JANGAN DIBUAT KARYANYA

Ya, sekalian saja tidak dibuat karyanya! Dengan tidak membuat karya apa pun, plagiat tidak akan terjadi. Ide yang cemerlang, bukan? Bukan dong.

MENGGANTI MINDSET TENTANG ORISINAL

Se-orisinal apa pun karya yang telah kita hasilkan, sadarkah kita bahwa hasil tersebut merupakan kumpulan dari berbagai referensi yang kita olah? Tidak masalah bila kita tetap menganggap karya kita hal yang orisinal, namun tetap lah ingat bahwa hal tersebut terjadi dari hasil mempelajari dan mengolah berbagai referensi. Terapkan mindset tersebut.

MENGGANTI MINDSET TENTANG PENIRU

Bila ada yang meniru penggayaan kita, penggayaan yang merupakan hasil dari pencarian dan latihan kita bertahun-tahun, jadikan peniru tersebut sebagai pengingat. Bila ternyata hasil tiruannya lebih terkenal dibanding kita, jadikan peniru tersebut sebagai pengingat. Pengingat bahwa kita telah begitu puas dengan yang kita hasilkan. Pengingat bahwa kita perlu kembali berkembang. Pengingat bahwa dibanding peniru tersebut, kita kurang menyebarkan hasil yang telah kita hasilkan.

MENGGANTI MINDSET TENTANG PELAKU PLAGIAT

Bila ada pelaku plagiat yang menyebalkan seperti contoh cerita saya sebelumnya, maafkan dirinya. Boleh menuntut bila kita memang telah mendaftarkan karya kita secara hukum. Bila tidak, bisa apa? Bisa kita ganti mindset kita tentang pelaku tersebut, maafkan dirinya, jadikan pelajaran untuk kita. Karena sesungguhnya sang pelaku akan terkena sendiri pertanggung jawabannya, baik di saat dia mendapatkan klien ataupun semacamnya.

MASIH TAKUT PENIRU/PELAKU LEBIH BERHASIL?

Bagaimana bila ternyata peniru atau pelaku plagiat tetap lebih berhasil dari kita? Ya tidak masalah. Seperti sebelumnya, sebagai pengingat bahwa kita perlu untuk kembali mengembangkan diri.

Masih takut?

Berarti kamu yang pemalas! Wkwk


Di saat kita menguasai sesuatu,
kita tidak akan takut diplagiat.

Malah biasanya kita akan lebih senang untuk berbagi ke orang lain. Kini tidak ada lagi yang perlu kita takuti dalam berkarya. Malas kita kalahkan, keahlian diri kita kembangkan.


Bila ada yang tidak cocok di hati, hindari berdebat.
Mari berdiskusi, hingga bertemu jawaban yang tepat.