Mungkin, Bapak Ahok Menangis Karena Satu Hal Yang Kalian Tidak Pernah Tahu…


Ikatan yang erat, solid dan bersahabat yang terbungkus melalui pijaran energi berlebih gaya Bapak Ahok, mungkin bisa berpengaruh;

“Kenapa ia menangis, disaat ia hanya seorang manusia biasa, penuh kekhilafan.”

Oh, oh ckck. Kalian tidak pernah berusaha adil.

Sewajarnya buzzer.

Karena, ia memang Maha tahu, sebelumnya. Jauh dulu, saat itu, ia mengetahui, sudah duluan seperti ini:

Sahabat sekaligus relawan terdekatnya sudah lebih dulu menangis, lewat lagu kenangan manis jaman dimana es mambo masih berhaga gope-an.

“Oh Mama Papa… Aku sudah kerja siang dan malam bahkan bukan untuk diriku sendiri …..”
Papa bertanya: “Bim — Bim ada apa?,” Mama tersenyum dengan manis.
“Bimbim … bimbim jangan menangis, aku jadi bertanya — tanya…”

Sudah, sudah. Biarkan berjalan apa adanya, tanpa buzzer, tanpa spinning — an, dan tanpa terlontar tuduhan siapapun ‘intoleransi’.

Bubar! bubar! Balaikota dulu kita, buat rame, nobar ama Bapak.


Ungkapan kekecewaan saya kepada Bapak Ahok, disaat saya pikir bapak yang sebenarnya bisa diselesaikan karena sidang ini, justru terlihat semakin ‘selon’ dengan kehadiran ‘drama queen’ dengan ornamen ‘hijab’.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated egi syahban’s story.