Arah Jalan Kota-Kota Indonesia

Mona
Mona
Dec 23, 2020 · 6 min read

“Maaf, kalau mau ke Malioboro lewat mana ya?”

“Oh lurus aja ke Barat, nanti kalau sudah sampai tugu, belok ke Selatan, terus kalau mentok rel, nanti ikut jalan saja ke Timur, bunderan ke Barat, lalu belok kiri ke Selatan, nah itu Malioboro”

Kalau pernah mampir atau tinggal di Jogja, sebagian besar pasti pernah menemui percakapan semacam ini: tanya alamat kemudian dijawab dengan arah mata angin, bukannya kanan-kiri. Saya sendiri sebagai orang yang besar di Jogja selama 21 tahun merasa guilty karena saya adalah subjek pelaku. Orang Jogja sangat fasih berbicara ngalor-ngidul-ngetan-ngulon (pun intended) karena sejak kecil memang dibiasakan demikian. Kalau ditanya patokannya mana, kami pasti jawab “Pokoknya kalo lihat Gunung Merapi berarti itu Utara” — padahal Gunung Merapi jarang kelihatan sedemikian hingga kalo keluar Jogja, orang Jogja pasti mikir dulu kalo mau kasih arah — tapi tetep kasih petunjuk jalan pake arah mata angin.

Makasih Izza atas skit nya yang luar biasa akurat :))

Sebenarnya selain Gunung Merapi, orang Jogja dimanjakan oleh tata kotanya, jalannya kebetulan lurus-lurus aja mengikuti arah mata angin. Ketika saya ke kota lain, saya sering frustasi ketika saya tidak bisa merunut jalan karena arahnya kurang jelas itu Selatan atau Utara, itu satu arah atau melingkar. Salah satu contohnya ketika saya pindah ke Malang, saya bingung kok tahu-tahu jalan X bisa tembus Y, kemudian saya menyerah untuk menghapalkan jalan; Google Maps to the rescue.

Tapi apakah benar jalan di Jogja memang lebih teratur daripada kota-kota lain di Indonesia? Konsep membuat teratur arah jalan ini sebenarnya bukan suatu hal yang baru. Sejak 2500 tahun sebelum masehi di peradaban Mohenjo-Daro, sudah mengintegrasikan jalan dengan arah Utara-Selatan dan Timur-Barat (McIntosh, 2007). Kemudian banyak kota abad pertengahan di Eropa yang juga mengadopsi sistem grid atau kisi-kisi Utara-Selatan Barat-Timur untuk memaksimalkan sinar matahari yang masuk kala musim dingin (Liley, 2001). Sistem Eropa ini kemudian kemungkinan masuk juga ke Indonesia ketika masa kolonial, contoh nyatanya di Law of Indies yang dikeluarkan Spanyol yang secara eksplisit meresepkan sistem grid untuk jalanan di sekitar plaza atau pusat kota jajahannya. Di Indonesia sendiri, tata kota sebenarnya dipengaruhi oleh warisan zaman kerajaan, kemudian kolonial, dan pasca-kolonial. Spesifik Jogja sendiri karena memiliki konsep Golong Gilig, Jogja dibangun dengan poros imajiner Utara-Selatan dari Merapi ke Kraton, serta Catur Sagatra, di mana empat komponen kehidupan (pemerintahan, religi, budaya, ekonomi) diletakkan pada empat arah jarum jam, tak heran jika jalan kemudian dibangun mengikuti arah mata angin (Suryanto, 2015).

Lalu, konsep mengkuantifikasi dan membandingkan keteraturan arah jalan kota satu dan lainnya juga bukan hal yang baru. Courtat et al. di tahun 2011, Gudmundsson and Mohajeri et al. di tahu 2012 hingga 2014 mengkuantifikasi keteraturan arah jalan dengan entropi dan kemudian memvisualisasikannya. Geoff Boeing baru-baru ini mempublikasikan Urban spatial order: street network orientation, configuration, and entropy, di mana ia membuat visualisasi keteraturan jalan di 100 kota di dunia. Riset ini pulalah yang kemudian saya copy untuk membuktikan apakah iya jalan di Jogja lebih teratur dan seteratur apa jalan-jalan di kota lain di Indonesia.

Sebagai sampel, saya ambil 50 kota dengan populasi terbanyak menurut Wikipedia. Saya ambil street network nya menggunakan OSMnx di python, sehingga street network yang saya ambil berbasis network milik Open Street Map, kemudian saya visualisasikan histogram bearings tiap blok atau edge-nya sesuai arah mata angin.

Image for post
Image for post
Gambar 1: Arah jalan kota di Indonesia, diurutkan berdasar alfabet

Hasilnya cukup menarik. Terlihat bahwa beberapa kota sangat teratur, seperti Medan dan Binjai contohnya yang mayoritas jalannya lurus-lurus saja mengikuti empat arah mata angin, tapi ada juga yang ke segala arah seperti Banjarmasin atau Palembang. Menariknya, banyak kota di pulau Jawa yang jalan-jalannya condong ke arah Timur Laut atau ke kanan, sementara tidak banyak yang mengarah ke kiri atau Barat Laut.

Untuk mengukur seberapa teraturnya jalan-jalan ini, maka saya buat histrogram arah jalan ke 120 bins dengan 3 derajat di tiap bin-nya

Image for post
Image for post
Gambar 2: Histogram arah jalan

Kemudian ukur entropinya dengan rumus berikut

Image for post
Image for post

Di mana n adalah jumlah bins dan P(oi) adalah proporsi di di dalam bin i. Dalam gambar di atas, terlihat ada 4 bins yang menonjol pada histrogram, persis menunjukkan jumlah mata angin. Tapi tidak semua kota punya jalan yang percabangannya empat saja. Sehingga, jumlah n yang ideal adalah yang bisa mewakili banyaknya arah percabangan yang mungkin, yaitu

n = 2*3*4*5 = 120

Dalam kasus ini, kondisi sempurna adalah apabila semua jalan mengacu ke empat mata angin, saya ambil Chicago, sehingga nilai H-nya dengan n=120 adalah 2.593(Ho). Kondisi sebaliknya, adalah jika semua arah memiliki proporsi yang sama, yaitu H= 4.787(Hmax), maka kita bisa menghitung nilai entropi relatifnya sebagai berikut.

Image for post
Image for post

T=1 adalah ketika arah jalan sempurna, dan T= 0 adalah apabila sebagian besar jalannya cenderung radial atau tak tentu arahnya.

Setelah menghitung entropi semua kota, berikut adalah arah jalan kota-kota Indonesia diurutkan berdasar entropi

Image for post
Image for post
Gambar 3: Arah jalan diurutkan berdasar entropi

Surprise! Ternyata jalan paling teratur di Indonesia ada di Medan, disusul Kediri, kemudian Binjai dan Yogyakarta. Hehe, jadi frustasi saya beralasan karena secara saintifik, jalan di Jogja memang terbukti memiliki nilai keteraturan yang tinggi.

Image for post
Image for post
Gambar 5: Bearing Kota Chicago vs Jalanan Kota Chicago
Image for post
Image for post
Gambar 6: Bearing Kota Medan, juara pertama, vs jalanan Kota Medan
Image for post
Image for post
Gambar 7: Bearing Kota Palembang, entropi terendah, vs jalanan kota Palembang

Di tiga tempat terakhir ada Jambi, Banjarmasin, dan Palembang, yang kebetulan semuanya di luar pulau Jawa. Tapi apakah memang spesifik pulau Jawa yang begini, mari kita bandingkan nilai entropinya untuk dua kelompok, Jawa dan Non-Jawa.

Dari data, ditemui 25 kota terbesar di Jawa dan 25 kota terbesar luar Jawa. Ternyata kalau dilihat kasat mata, entropi dari arah jalan (bearing) kota-kota di Jawa nampak lebih tinggi dibandingkan luar Jawa. Apakah secara statistik demikian? Saya coba melakukan t-test dengan alpha 0.05 dan null hypothesisnya adalah rerata entropi Jawa ≤ entropi luar Jawa. Ternyata hasilnya p-value nya 0.0129 yang mana lebih rendah dari 0.05, sehingga saya bisa reject null hypothesis, sedemikian iya bahwa jalanan di 25 kota terbesar di Jawa lebih teratur daripada 25 kota terbesar di luar Jawa.

Tapi seperti yang terlihat pada Gambar 8, ada kota luar Jawa yang punya entropi tinggi, seperti Binjai dan Medan misalnya. Sedemikian hingga, saya penasaran dan saya kelompokkan bentuk arah jalanannya dengan menggunakan t-SNE dan gaussian clustering

Image for post
Image for post
Gambar 9: Cluster arah jalan 50 kota besar Indonesia. Ukuran berdasar entropy dan warna teks berdasar Jawa (hitam) atau luar Jawa (abu-abu)

Ternyata secara umum ada tiga cluster, yaitu cluster biru, di mana jalan-jalannya sebagian besar serong ke kanan, seperti Yogyakarta, Tegal, Pekalongan. Sebagian besar ada di Jawa, kecuali Makassar. Penasaran saya apakah ini ada hubungannya dengan kerajaan mataram dahulu? Entahlah, mugkin ada yang bisa menjelaskan. Custer oranye, adalah cluster yang arah jalannya cenderung tegas utara-selatan-barat-timur. Utamanya di Jakarta, tapi juga banyak daerah di luar Jawa. Kalau saya boleh sotoy mungkin karena kotanya relatif termodernkan sehingga banyak jalanan baru yang lebih mengikuti arah mata angin. Terakhir ada cluster kuning yang entropinya relatif rendah karena bentuk jalannya radial, ke semua arah. Sebagian besar ditemu di luar Jawa.

Jadi demikianlah kulikan hari ini. Ternyata menarik juga melihat seberapa teratur kota-kota di Indonesia. Entropi rendah yang didominasi luar Jawa ini menarik untuk saya, karena ada banyak faktor yang kemudian bisa digali lagi. Apa karena belum banyak development? Kurang tahu juga. Apa karena topologi? Bisa jadi. Silakan mungkin yang punya jawabannya komentar di bawah ~

Data Sekitar

Seputar Data Sekitar Kita | Data-Driven Stories of…

Medium is an open platform where 170 million readers come to find insightful and dynamic thinking. Here, expert and undiscovered voices alike dive into the heart of any topic and bring new ideas to the surface. Learn more

Follow the writers, publications, and topics that matter to you, and you’ll see them on your homepage and in your inbox. Explore

If you have a story to tell, knowledge to share, or a perspective to offer — welcome home. It’s easy and free to post your thinking on any topic. Write on Medium

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store