Jejak Pejuang yang Terkubur di Tanah Pengasingan

Ada rumah bergaya Minangkabau di Bumi Minahasa. Ada ikatan emosional antara masyarakat Sumedang dengan Aceh. Tak ketinggalan, ada jejak Pangeran Jawa di Makassar. Semua jadi saksi perjuangan para pahlawan di tanah pengasingan.

MOMENTUM 17 Agustus selalu mengingatkan kita pada sepak terjang para pahlawan yang telah berkorban nyawa untuk Bumi Pertiwi. Jauh sebelum para pejuang pergerakan dibuang ke berbagai pelosok Indonesia pada dekade 1940-an, para pejuang sepuh telah mengalami nasib sama. Bahkan, beberapa di antara mereka harus terkubur di tanah pengasingan.

Kendati harus mengalami penderitaan dibuang di tempat asing, sosok-sosok ini tak kehilangan ruhnya sebagai orang istimewa. Dengan segala keterbatasan, mereka masih bisa melakukan sesuatu di tempat pembuangan. Tak hanya menularkan semangat perjuangan dan pantang menyerah, mereka tetap jadi inspirasi di tanah baru yang mereka injak.

Tak mengherankan jika nama mereka tetap harum kendati dipisahkan ribuan mil dari tanah kelahiran. Semangat dan inspirasi para pejuang ini masih abadi hingga kini.

Cut Nyak Dhien, Bu Perbu Guru Ngaji

Tanah Pengasingan - Makam Cut Nyak Dhien

Siapa tak kenal perempuan gagah berani dan teguh pendirian satu ini. Ya, sosok dan kisah Cut Nyak Dhien atau Tjoet Nja’ Dhien begitu heroik dan melegenda. Pada masanya, penjajah Belanda kerap dibuat pusing oleh aksi gerilya pejuang perempuan satu ini bersama tim kecilnya.

Bahu membahu dengan Teuku Umar, Sang Suami, perempuan kelahiran Lampadang, Kerajaan Aceh, pada 1848 ini mengadang laju Belanda di Bumi Rencong. Sayang, Teuku Umar harus gugur pada pertempuran di Meulaboh pada 11 Februari 1899. Namun, itu sama sekali tidak menyurutkan semangat Cut Nyak.

Jika pun akhirnya Cut Nyak tertangkap, itu karena rasa kasih anak buahnya. Pang Laot tak tahan dan iba melihat Cut Nyak yang masih terus berjuang kendati makin renta dan mulai buta. Pang Laot berharap Belanda merawat Cut Nyak dengan baik.

Sayangnya, perang tak mengenang kompromi. Pengkhianatan berlatar kasih sayang inilah yang akhirnya mengantarkan Cut Nyak hingga ke Sumedang, Jawa Barat, pada 1906. Keterbatasan bahasa dan usia renta membuat keberadaan Cut Nyak di tanah pasundan tak dikenali. Orang hanya mengenalnya sebagai Ibu Perbu yang piawai mengajarkan Al Qur’an. Tak banyak yang sadar bahwa dia pejuang besar dari Aceh hingga wafat pada 6 November 1908.

Jejak Cut Nyak baru disadari masyarakat banyak saat dekrit presiden menetapkannya sebagai pahlawan kemerdekaan nasional pada 1964. Kini, makamnya di Gunung Puyuh, Sumedang, banyak diziarahi. Begitu juga dengan bekas rumah pengasingan yang berubah sebagai rumah singgah, tak jauh dari Masjid Agung dan alun-alun Sumedang.

Tuanku Imam Bonjol dan Sajadah Batu

Tanah Pengasingan - Makam Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol bernama asli Muhammad Shahab. Dia lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, pada 1772. Sebagai ulama besar sekaligus pemimpin masyarakat Minang, Imam Bonjol mendapat beberapa gelar seperti Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Belakangan, dia lebih dikenal sebagai Tuanku Imam Bonjol.

Awalnya, Perang Padri yang dimotorinya adalah perang sesama orang Minang dan Mandailing untuk menegakkan syariat Islam. Sejak 1833, perang berubah jadi perang antara kaum adat dan Kaum Padri versus penjajah Belanda.

Imam Bonjol cepat menyadari jika perpecahan di tubuh sendiri justru menguntungkan Belanda. Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian? (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?), itulah ucapan bernada peringatan dan kebangkitan Imam Bonjol. Mulailah mereka bersatu menyingkirkan Belanda yang telah banyak menyengsarakan orang Minang.

Belanda yang makin kewalahan menghadapi perlawanan masyarakat yang berpusat di Benteng Padri mengatur berbagai siasat. Tiga kali Belanda mengganti komandan perang menjadi bukti betapa kuatnya pasukan Imam Bonjol.

Siasat licik pun dibentangkan. Pada Oktober 1837, Imam Bonjol diundang ke Palupuh untuk berunding. Imam besar itu ditangkap dan dibuang ke sejumlah tempat dan tak pernah kembali lagi ke tanah kelahirannya hingga ajal menjemput.

Awalnya, Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Sempat dipindah ke Ambon, “perjalanan” Imam Bonjol berakhir di Lotak, Pineleng, Minahasa pada 6 November 1864. Di tempat pengasingan terakhir inilah Imam Bonjol dimakamkan. Berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973 Imam Bonjol ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 6 November 1973.

Tempat Pengasingan - Tempat Ibadah Imam Bonjol

Sama seperti pahlawan nasional lainnya, bekas tempat pembuangan sekaligus jejak-jejak yang ditinggalkannya kini ramai sebagai tujuan wisata. Sajadah batu yang biasa dipakai saat shalat berikut tempat wudhu berada di sebuah area yang eksotik. Lekukan pada sajadah batu diyakini sebagai bekas kening Imam Bonjol saat bersujud. Selain itu juga ada lekukan lain pada posisi duduk dan tapak dua tangan.

Letak sajadah batu dan tempat wudhu tak jauh dari bangunan utama bergaya rumah Minangkabau yang berisi pusara Sang Imam Besar. Namun, untuk mencapainya pengunjung harus menaklukkan 74 anak tangga pada jalan perbukitan yang berkelok-kelok dengan hiasan Sungai Malalayang yang jernih.

Rumah bergaya Minangkabau itu telihat unik di Minahasa. Selain menjadi bukti berkembang baiknya pluralism di Sulawesi Utara, peninggalan Imam Bonjol kian ramai sebagai destinasi wisata. Tak hanya masyarakat sekitar, makam Tuanku Imam Bonjol juga sering disambangi masyarakat Minang.

Beberapa jejak pejuang membuktikan, kendati hidup terasing mereka masih bisa melakukan sesuatu hingga akhir hayat. Cut Nyak Dhien sebagai Ibu Perbu masih bisa mengajar ngaji dan Imam Bonjol tetap melanjutkan syiar Islam sembari menanamkan cinta Tanah Air. (Divdit)


Originally published at Destinasi Indonesia.