Nasihat dari Kisah Jataka

Warisan kebijaksanaan kuno dalam fabel

Yacob Wijaya
Jul 27, 2017 · 5 min read

Pada pertengahan tahun ini, saya mulai menulis buku tentang riwayat perjalanan saya ketika berkunjung ke candi-candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di dalam buku tersebut, terdapat foto dan profil singkat tentang keberadaan candi-candi tersebut.

Ketika proses penulisan buku tersebut, saya berhenti sejenak ketika menulis tentang Candi Sojiwan. Hal menarik yang saya temukan dari candi tersebut adalah terukirnya relief-relief fabel yang diambil dari Kisah Jataka di dinding terluar candi. Ternyata Kisah Jataka ini juga diukirkan di beberapa candi Buddha lain yang telah saya tulis sebelumnya, seperti di Borobudur, Mendut, hingga Relief Bebitra.

Candi Sojiwan

Saya juga curiga bahwa relief-relief binatang yang terdapat di candi-candi lain seperti di Gampingan dan Watu Gilang Baturetno diambil juga dari Kisah Jataka. Kemudian saya menghapus detil Kisah Jataka di buku ini dan mungkin menuliskannya dalam tulisan yang lain.

Belajar dari Fabel

Menelusuri Kisah Jataka, saya seolah-olah kembali ke masa lalu ketika membaca serial dongeng klasik. Salah satu contoh yang paling saya ingat adalah kisah mengenai burung berkepala dua.

Diceritakan bahwa terdapat seekor burung yang memiliki dua kepala. Kepala yang satu berada di atas kepala yang lainnya. Kepala yang berada di atas sering memakan buah-buah yang masih masih segar dan menarik, sedangkan kepala yang berada di bawah lebih sering mendapatkan sisa makanan yang terjatuh.

Suatu ketika kepala yang di bawah ingin mencoba makan buah yang enak. Akan tetapi permintaannya tidak pernah dihiraukan oleh kepala lainnya. Kepala tersebut merasa bahwa makanan yang dimakan akan sama-sama masuk ke perut yang sama.

Karena terus menerus diperlakukan demikian oleh kepala atas, akhirnya kepala bawah memutuskan untuk memakan jamur beracun yang berada di tanah. Burung itu pun mati.

Ilustrasi Burung Berkepala Dua. Gambar diambil dari .

Mengambil Makna di Balik Suatu Kisah

Dalam kisah tersebut, tersirat makna tentang penguasa yang berada di atas dan rakyat yang berada di bawah. Apabila penguasa hanya ingin merasa nyaman tanpa memedulikan rakyatnya, maka keduanya akan hancur.

Mari kita beralih sejenak untuk membahas karakter pemimpin rakyat.

Ketika membaca dan mempelajari karakter pemimpin di Nusantara yang dikenang sepanjang masa seperti Soekarno ataupun Hayam Wuruk, siapa pun pasti terkesan sekaligus merasa heran: bagaimana tokoh-tokoh tersebut memiliki karakter dan karisma sebagai seorang pemimpin.

Dalam suatu kesaksian, Presiden Soekarno pernah menyatakan bahwa ketika beliau dan rekan-rekannya merumuskan ideologi negara Pancasila, yang beliau lakukan adalah mempelajari kebijaksanaan secara rinci hingga jauh ke dalam sejarah Nusantara. Lima kaidah laku utama atau Panca Sila dari Kitab Negarakrtagama (karangan Mpu Prapanca) akhirnya dipilih sebagai istilah yang mewakili ideologi negara Indonesia.

Ketika memimpin Majapahit, Raja Hayam Wuruk juga dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana. Untuk menjaga keadilan sosial, Raja Hayam Wuruk senantiasa berkeliling untuk melawat suatu daerah demi daerah seolah-olah beliau jarang berada di dalam istana. Sebagian riwayat Hayam Wuruk tersebut diceritakan dalam Kitab Negarakretagama.

Secara singkat, kedua pemimpin legendaris Nusantara tersebut memiliki karakter dan karisma sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana. Mereka berdua seolah-olah pernah membaca kisah burung berkepala dua: untuk tidak bersifat seperti kepala yang berada di atas.

Kebijaksanaan dalam Semesta yang Lebih Luas

Bukan hanya kisah burung berkepala dua tersebut, masih banyak fabel-fabel dan perumpamaan-perumpamaan lain yang serupa. Keberadaan dari perumpamaan tersebut bukanlah tanpa tujuan, melainkan untuk menyiratkan tentang kebijaksanaan dan spiritualitas.

Dalam konteks semesta yang lebih luas, kita dapat memandang tokoh-tokoh terkemuka lainnya seperti Siddharta Gautama, Yesus Kristus dan Muhammad SAW. Para pengikut tokoh tersebut menuliskan ajaran-ajaran ke dalam tulisan-tulisan yang kemudian dianggap sebagai kitab suci dan fondasi religi: Tripitaka, Gospel dan Qur’an.

Para tokoh tersebut bahkan bukan hanya mengambil inspirasi spiritual dari para pendahulu mereka, melainkan turut menciptakan metafora-metafora mereka sendiri ketika mengajar dalam suatu komunitas.


Jataka sebagai Literatur Kebijaksanaan Klasik

Kover buku Jataka Tales oleh Ellen C. Babbitt

Kisah Jataka merupakan himpunan kisah yang diyakini bersumber dari kehidupan sang Buddha sebelum bereinkarnasi sebagai Siddharta. Sebagai bahan acuan, saya mengambil saduran Kisah Jataka dari buku Jataka Tales: Animal Stories dan More Animal Stories yang ditulis oleh Ellen C. Babbitt.

Naskah Kisah Jataka terdiri dari beberapa cerita yang tidak saling berhubungan satu dengan lainnya. Berdasarkan informasi dari , terdapat tiga puluh lima cerita Jataka yang tersebar di beberapa literatur Buddha. Sebagian Kisah Jataka juga ditemukan di Pancatantra dan Mahabharata yang beraliran Hindu.

Menariknya, ada panil relief Candi Sojiwan (yang diduga termasuk dalam Kisah Jataka) yang tidak ada di dalam tulisan Babbitt, yaitu: Dua pria berkelahi (Dhawalamukha), Kisah Garuda dan Kura-kura, dan Kisah Tikus dan Ular.

Untuk menjelaskan tentang perbedaan kanon Kisah Jataka tersebut, saya berasumsi sebagai berikut:

  • Relief Candi Sojiwan tidak semuanya berasal dari Kisah Jataka, melainkan dikumpulkan dari kisah-kisah lain yang mengandung nilai kebijaksanaan bagi peradaban.
  • Proses akulturasi kebudayaan yang mendampingi penyebarluasan Jataka dari India hingga ke Nusantara (bahkan ke daerah Timur Tengah) memungkinkan terjadinya perbedaan cerita. Meskipun demikian ada sebagian relief yang tepat menggambarkan adegan yang sama, seperti Kisah Kera dan Buaya dan Kisah Angsa Menerbangkan Kura-kura.
  • Kisah Jataka bukan hanya tradisi tulisan, melainkan juga tradisi lisan. Asumsi ini menimbulkan dugaan lain bahwa koleksi Kisah Jataka berjumlah lebih banyak dari yang diketahui para peneliti saat ini.

Terlepas dari perbedaan kanon Jataka tersebut, alangkah baiknya jika kisah ini dapat dipopulerkan kembali melalui Deuteronomi. Kisah-kisah Jataka akan menjadi bahan tulisan selanjutnya di Deuteronomi.

Penulis juga sangat mengharapkan masukan dari para pembaca yang tertarik atau pernah meneliti tentang Kisah Jataka.

Pada akhirnya, koleksi Kisah Jataka ini dikembalikan pada fungsi aslinya: meningkatkan kesadaran spiritual ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Kebijaksanaan tidak mengenal batas, terlepas dari apa pun keyakinan yang dianut oleh pembaca. Kebijaksanaan itu seperti angin, tidak tampak namun dapat dirasakan manfaatnya oleh siapa pun. Meskipun demikian, bisa juga kebijaksanaan itu tidak bermanfaat untuk orang-orang yang tidak mengenal gnosis itu sendiri.[]


Daftar Pustaka

  • Babbitt, Ellen C. 1920. Jataka Tales. New York: The Century Co.
  • Babbitt, Ellen C. 1922. More Jataka Tales. New York: The Century Co.

Deuteronomi

Pengantar dan Terjemahan Literatur Gnostik

Yacob Wijaya

Written by

Deuteronomi

Pengantar dan Terjemahan Literatur Gnostik

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade