Pengantar Injil Thomas

Ketika mendengar nama Thomas, saya teringat akan seorang murid Yesus yang dikenal sebagai si Peragu. Dia adalah murid yang meragukan kebangkitan sang Guru, sebelum mencucukkan jarinya di lubang bekas luka Yesus ketika disalibkan.

Setelah kebangkitan Yesus, Thomas melakukan perjalanan untuk mewartakan injil hingga ke India. Menurut tradisi yang berkembang, Thomas mati sebagai martir di Chennai, Tamil Nadu, India. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Basilika Santo Thomas, Mylapore.

Terungkapnya Injil Thomas

Pada tahun 1945, gereja dihebohkan oleh penemuan literatur-literatur kuno di Nag Hammadi, Mesir. Salah satu di antaranya merupakan tulisan yang kini dikenal dengan nama Injil Thomas.

Para peneliti berspekulasi bahwa literatur Nag Hammadi tersebut sengaja dikuburkan ketika Uskup Athanasius memberlakukan aturan penyusunan kanon Alkitab, di mana kitab-kitab yang dianggap sesat akan dimusnahkan.

Kodeks Nag Hammadi. (Sumber: http://www.gailallen.com)

Walaupun ditemukan di Mesir, para peneliti meyakini bahwa Injil Thomas berasal dari daerah Suriah (Syria). Perlu diketahui bahwa Suriah menjadi salah satu situs sejarah Kristen mula-mula yang cukup kental dengan tradisi Thomas.

Berbeda dari keempat injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes), Injil Thomas hanya berisi perkataan-perkataan Yesus. Injil ini tidak menceritakan sedikit pun tentang perjalanan Yesus, mujizat-mujizat yang dilakukan, bahkan kisah kematian dan kebangkitan-Nya.

Sebagian dari perkataan Yesus yang terdapat di keempat injil sinoptik dapat dijumpai di Injil Thomas. Sebagian lainnya cenderung mistis dan mengandung unsur gnostik. Oleh karenanya, Injil Thomas dikeluarkan dari kanon injil sinoptik Alkitab.

Dia (Yesus) berkata, “Barangsiapa mampu memahami makna dari setiap perkataan ini, dia tidak akan merasakan maut”. (Injil Thomas: 1)
Gereja St. Thomas di Bukit St. Thomas, Chennai, India. (Sumber: http://www.goroadtrip.com/).

Spiritualitas Injil Thomas

Walaupun Injil Thomas bukan merupakan narasi perjalanan Yesus, ada sebuah pandangan lain menarik tentang injil ini. Ron Miller, penulis buku The Gospel of Thomas: A Guidebook for Spiritual Practice (2004) mengungkapkan bahwa Injil Thomas merupakan alternatif dari aliran Kristen yang memahami sisi lain Yesus bukan dari teologi dosa asal dan penebusan dosa.

Ron Miller berlatar belakang sebagai seorang Katolik. Dia meninggalkan jubah Yesuit dan berkarya di Common Ground, sebuah lembaga yang didirikan untuk dialog antar umat beragama.

Menurut Miller, memahami Injil Thomas sendiri tidak berarti harus menjadi seorang Kristen. Menggali setiap makna dari ucapan Yesus yang dicatat oleh Thomas adalah murni spiritualitas yang dapat dilakukan oleh siapa pun dari latar belakang agama apa pun, tentu dengan kecerdasan spiritual yang memadai.


Terjemahan Injil Thomas

Di Indonesia, literatur-literatur seperti Injil Thomas tidaklah populer. Jika ada, jumlahnya sangat sedikit dan terbatas. Dengan mengumpulkan beberapa referensi tentang Injil Thomas — yang tetap saya rasa kurang, draf terjemahan Bahasa Indonesia telah selesai saya susun.

Terjemahan injil tersebut perlu dikaji lebih lanjut, terutama dalam kaitannya dengan makna spiritualitas yang disampaikan dalam 114 ayat Injil Thomas. Proyek ini akan saya mulai pertengahan tahun 2017 dengan harapan dapat dibaca oleh siapa pun yang ingin mempelajari spiritualitas dari injil ini.

Daftar Pustaka

Miller, Ron. The Gospel of Thomas: A Guidebook for Spiritual Practice. Vermont: Skylight Paths Publishing. 2004.