Drama Diskusi

Pernah nggak kita ngobrol dengan orang lain yang awalnya damai-damai saja, tiba-tiba jadi drama dan penuh emosi?

nahkan, debat lagi kan, teriak-teriak lagi kan…
You can tell people they are wrong by a look or an intonation or a gesture just as eloquently as you can in words — and if you tell them they are wrong, do you make them want to agree with you? Never! For you have struck a direct blow at their intelligence, judgement, pride and self-respect. That will make them want to strike back. But it will never make them want to change their minds. You may then hurl at them all the logic of a Plato or an Immanuel Kant, but you will not alter their opinions, for you have hurt their feelings.
“How to win Friends & Influence People”, oleh Dale Carnegie

Sore ini saya sedang menyelesaikan utang baca buku saya. Saat sampai di bab ke-2 dari bagian ke-3, potongan di atas membuat saya terdiam. Eh malah saya jadi menulis ini karna terpikir beberapa hal yang berkaitan dengan ide yang diceritakan oleh potongan di atas.

— Saya teringat sebuah debat yang ada di sebuah stasiun televisi berita. Hal yang membuat menarik adalah ketika salah satu pihak mengambil tindakan kasar terhadap lawannya. Saya tidak ingat tindakan persisnya apa, bisa jadi memaki dengan kata kotor atau memukul atau melempar barang, tetapi yang pasti, karnanya, debat tersebut jadi terkenal selama beberapa waktu.

— Beberapa minggu yang lalu, saya mendengar cerita bahwa salah satu saudara jauh saya (saya memanggilnya “om”) tiba-tiba menangis ketika tante dari ibu saya menyatakan keberatan terhadap kelakukan istrinya yang dianggap kasar dan tidak sopan. Sambil menangis, om itu bilang bahwa selama ini beliau selalu dimarahi istrinya di banyak hal. Beliau merasa apa yang dilakukannya selalu salah. Perlakuan tersebut ternyata membuat om itu merasa tidak dihargai. Terbukti dengan tangisan serta aduan beliau ke tante saya.

— Lebih dari dua bulan yang lalu, saya nguping pembicaraan seorang karyawan dengan team lead-nya. Sekilas, saya mengerti bahwa sang karyawan menyatakan kesedihannya karena merasa disalahkan di sebuah perbincangan dengan karyawan yang lain di sebuah rapat yang baru saja mereka ikuti. Sang lead, dengan bijak memberikan arahan sekaligus menyatakan apa yang bisa ditingkatkan dari sang karyawan ketika nanti berada di kondisi yang serupa. Seingat saya, topik utama perbincangan mereka adalah cara berkomunikasi.


Banyak orang yang kita temui tiap hari: ayah, ibu, kakak, adik, pacar, tukang ojek, abang-abang Gojek, abang-abang Grab, supir Uber, mas-mas Transjakarta, mbak-mbak kasir Indomaret, satpam gedung kantor, teman satu tim, teman beda tim, bos, dan seterusnya. You name it lah. Yang mungkin bisa kita pikirkan, gimana ya interaksi kita selama ini dengan mereka?

Kita punya idealisme dan pemahaman sendiri mengenai banyak hal. Tentu saja, itu tidak datang tiba-tiba, melainkan dibangun dari pengalaman yang kita lewati. Sayangnya, pengalaman saya beda dengan bapak tukang ojek langganan saya yang senantiasa ngantar saya ke rumah saat tengah malam sepulang dari kantor. Jadi kalau saya mau menegor beliau karna ngebut, harus dipikirkan caranya agar cocok dengan kondisi pribadi si bapak.

Tentu, pengalaman saya juga berbeda dengan teman setim saya yang memiliki titel perkerjaan lain. Pengalaman saya juga berbeda dengan teman pelayanan saya di beberapa acara kamp yang saya pernah ikuti. Pengalaman saya pun pasti berbeda dengan yang Anda pernah alami. Lalu apa hubungannya dengan kegiatan debat dan diskusi?

Kok bisa ya mereka akur melulu?

Setiap pihak yang ada di dalam lingkaran diskusi, dirinya hadir beserta segala cerita, pemahaman, idealisme dan hal-hal lain yang dia lewati di masa lampau. Saat satu pihak merasa direndahkan karena pihak lain, di situlah masalah dalam debat terjadi. Saat makin parah, bisa jadi berlanjut ke hal yang kita sebut ‘debat kusir’. Di banyak kasus, terlihat pihak yang menang mengakhiri pembicaraan dengan dada terbusung dan kepala yang terangkat, keluar dari lingkaran dan, merasa produktif, tenang dan lega. Bagaimana dengan yang “kalah”?

… semua pihak yang ada di dalam pembicaraan tersebut hadir dengan dirinya beserta segala cerita, pemahaman, idealisme dan hal-hal lain yang dia lewati di masa lampau.

Saya sendiri sering menemukan diri saya seperti para “pemenang” di beberapa cerita di atas. Ketika itu, seperti yang saya bilang sebelumnya, pembicaraan berakhir dan saya lega karena semua pihak “menyetujui” pendapat saya, dan saya sering mentah-mentah merendahkan pihak lawan di dalam hati saya. Sialnya, saya juga sering tahu ketika orang itu jadinya nyerah dan menerima saja argumen saya. Tahu darimana? Dari gerak-geriknya, ekspresi muka, kata-kata yang digunakan, dan sebagainya. Dan kebanyakan faktor tersebut, suasana/sentimen yang dimunculkan cendrung negatif.

Apakah saya sadar itu tidak tepat? Ya. Sering banget. Tapi kenapa masih seperti itu? Ngga tau juga. Mungkin karena ego. Mungkin juga karena takut dianggap salah sama orang lain. Mungkin juga karna memang yang lawan katakan tidak tepat dengan fakta yang ada. Mungkin juga karna saya mau menunjukkan karna saya bisa. Pokoknya gue bener.

Saat diskusi berlangsung, bisa terlihat oke, tapi di belakang, mungkin yang “kalah” tadi sebenarnya merasa sangat sedih.

Kalau Anda pernah berlaku seperti saya, sepertinya kita harus belajar untuk semakin berhati-hati dalam mengungkapkan argumen, pendapat, atau opini. Kita tidak akan pernah tahu persis lawan bicara kita itu orangnya seperti apa (only him and God know). Maka itu, tentu saja kita tidak tahu kapan mereka akan menjadi sedih, lalu rendah diri, atau bahkan sampai merasa terancam harga dirinya.

“You can tell people they are wrong by a look or an intonation or a gesture…”
Mungkin respon mereka selama ini terhadap kita seperti itu.

‘Berhati-hati’ terlihat seperti sesuatu yang terlalu disederhanakan. Ya, memang begitu. Caranya bisa dipelajari di banyak tempat. Misalnya, dari buku-buku karangan Dale Carnegie atau Stephen Covey. Donald Norman juga pernah menyinggung konteks serupa di bukunya The Design of Everyday Things (Don membahas tentang orang yang kadang suka menyalahkan dirinya ketika berbuat salah).

Atau kalau tidak sempat membaca buku, lakukan saja hal yang relatif mudah di bawah ini:

Diam dan dengarkan. Ketika akan bicara, rendahkan suaramu dan atur agar tutur katamu halus.

Bahkan, di lagu yang diwajibkan untuk dihafal saat saya jadi mahasiswa baru-pun menyuratkan ide yang serupa :


Tak usah banyak bicara, t’rus kerja keras.
Hati teguh dan lurus, pikir tetap jernih.
Bertingkah laku halus, hai put’ra neg’ri.
Bertingkah laku halus, hai put’ra neg’ri.
Potongan bait ke-2 Bangun Pemudi Pemuda, oleh Alfred Simanjuntak

Ya, setiap saya selesai merasa melayang tinggi seusai memenangi adu argumen, kadang saya teringat potongan lagu itu lalu akan malu setengah mati.


Jika memang kita merasa harus menyanggah argumen lawan bicara kita, ingat juga bahwa kadang kita harus mengulang beberapa kali, baru lawan bicara mengerti apa yang kita maksud. Coba baca bagian “Understanding” di situs ini.

Waktu Swiper mau mencuri, Dora dan Si Peta, atau kadang dengan sepupunya, Diego, ditampilkan tidak pernah melabraknya, melainkan dengan nada lucu berkata “Swiper jangan mencuri”. Biasanya Swiper akan mengurungkan niatnya setelah Dora dan kawan-kawan menyanyikan kalimat itu 3 kali. Yang menarik, kalau baru satu atau dua kali, Swiper-nya udah keburu nyolong. Mungkin, jika dihubungkan dengan konteks “mengulang pembicaraan”, Swiper memang baru bisa mengerti dan merubah pikirannya menjadi tidak mencuri ketika dia ditegur 3 kali.

“Swiper no swiping!”

Saya akan mengutip kembali bagian lain dari buku yang sama oleh Dale Carnegie sebagai penutup:

As wise old Ben Franklin used to say:
If you argue and rankle and contradict, you may achieve a victory sometimes; but it will be an empty victory because you will never get your opponent’s good will.
So figure it out for yourself. Which would you rather have, an academic, theatrical victory or a person’s good will? You can seldom have both.

Selamat berdiskusi!

(dan selamat menyelesaikan buku, untuk saya)

— 
Untuk memastikan memang minimal 3 kali untuk menyuruh Swiper untuk tidak mencuri, saya merujuk ke video ini. Hahaha…

Channel FightMediocrity membuat ulasan selama 5 menit di Youtube dari buku How to Win Friends & Influence People.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Yehezkiel Gulo’s story.