Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.

Product Owner, the Captain of the Product

Dalam Scrum Team terdiri dari 3 role, dimana masing-masing (menurut saya) merupakan leader. Product Owner (PO) adalah pemimpin yang memiliki visi pengembangan produk yang bernilai tinggi, build the right product. Development Team (DT) adalah thought leaders dalam pengembangan produk bermutu tinggi (bukan product asal jadi), build the product, right. Scrum Master (SM) adalah pemimpin yang mengayomi (servant leader), menginspirasi tim agar terus terpacu untuk belajar menemukan proses yang lebih baik lagi dalam membangun produk, build great team who build great product.

Kali ini saya ingin berbagi lebih jauh mengenai peran PO dalam Scrum Team. Menurut Ron Eringa dalam tulisannya, “Evolution of the Product Owner”, ada 5 tingkatan PO: scribe, proxy, business representative, sponsor, dan entrepreneur. Apa sih perbedaan mendasar dari tiap tingkatan ini?

Level 1, The Scribe
Pada software development dengan metode waterfall, Business Analyst (BA) mendokumentasikan requirement dari user lalu meneruskannya ke ranah IT. Ketika organisasi baru mengimplementasikan Scrum dan mencoba untuk memetakan role PO, seringkali BA menjadi pilihan pertama untuk mengemban amanat ini (baca: Ada Apa dengan Analyst?). BA berasal dari departemen IT, memiliki kempuan analisis yang baik, serta terbiasa mendokumentasikan requirement yang dapat disulap menjadi Product Backlog Items (PBI), voila!
Pada level ini, PO sangat sering membutuhkan orang-orang diluar departemen IT untuk menjawab pertanyaan yang sulit, misalnya marketing, sales, project manager, atau komite. Hal ini tentunya menghambat kelancaran sprint berjalan atau bahkan sprint mendatang, serta menyebabkan bottleneck keputusan dan informasi.

Level 2, The Proxy
Untuk mengatasi masalah pada level 1, organisasi menunjuk analis yang lebih senior sebagai PO. Analis yang lebih senior diharapkan dapat menghilangkan bottleneck keputusan dan informasi dengan memaksimalkan kemampuan komunikasinya yang baik. Sayangnya pada level ini bottleneck keputusan dan informasi tetap terjadi dan hanya sedikit berkurang.

Level 3, The Business Representative
Masalah yang terjadi pada level 1 dan 2 tercium oleh organisasi. Organisasi menganggap akar masalah ada pada komunikasi antara IT dan bisnis yang terhambat. Bisnis lalu menunjuk perwakilannya untuk mengisi role PO dengan harapan komunikasi dapat berjalan dengan lancar karena telah ada perwakilan bisnis di dalam Scrum Team.
Solusi yang jitu! Masalah dalam kelancaran komunikasi memang dapat diatasi, namun pada level ini muncul masalah baru. Perwakilan dari sisi bisnis yang ditunjuk sebagai PO tidak memiliki otoritas penuh atas produk yang dibangun, sehingga kerap kali PO harus berkonsultasi dengan atasannya untuk mengambil keputusan atau menjawab pertanyaan seputar produk.

Level 4, The Sponsor
Perwakilan dari sisi bisnis sebagai PO merasa kerepotan dengan minimnya otoritas yang dimiliki untuk mengambil keputusan terkait produk. Setelah memperjuangkan isu otoritas ini, akhirnya pihak bisnis memberikan kepercayaan kepada PO dalam bentuk pelimpahan kendali atas produk. 
Pengambilan keputusan maupun kebutuhan informasi yang dibutuhkan seputar produk dapat langsung diberikan oleh PO tanpa meneruskan ke pihak bisnis. Namun pada level ini, PO tetap memiliki ketergantungan dengan departemen lain di organisasi, misalnya dalam hal budgeting.

Level 5 The Entrepreneur
Pada tingkatan ini, PO bertanggung jawab penuh atas seluruh aspek pendukung terkait produknya, mulai dari marketing, legal, hingga finance. PO dapat dikatakan sebagai mini-CEO, dimana PO benar-benar menjadi owner dari produk. 
PO fokus untuk membangun produk dengan value yang tinggi, bukan hanya produk yang dibuat dengan on scope, on time, dan on budget, namun memiliki value rendah di mata customer. POmemiliki kendali penuh atas setiap keputusan yang diambil terkait produknya. PO juga dapat memaksimalkan peran Scrum dalam menghadapi tantangan bisnis yang kompleks, memanfaatkan feedback loops langsung dari customer untuk terus meningkatkan value dari produk.

To put it simply, seperti ini “evolusi” yang dilalui oleh PO di dalam organisasi

Kelima tingkatan PO di atas, erat kaitannya dengan seluas apa otoritas yang dimiliki PO. Namun terlepas dari itu, menurut saya ada dua kualitas yang tidak boleh dilupakan dan sangat penting untuk dimiliki oleh seorang PO:

1. Visionary
Seorang PO harus memiliki visi yang besar atas produknya, membayangkan visi tersebut dengan sangat jelas, serta menginspirasi tim dengan visi yang dimilikinya. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri tim dimana tim mengetahui bahwa mereka berkontribusi untuk membangun sesuatu yang besar dan penting. 
It’s like driving: when visibility is poor, we tend to drive more slowly, because we get insecure and can’t anticipate what’s ahead. But if we can envision a goal that is important to us, we’ll keep going through the fog to reach it.

2. Passionate
Ketika tim merasakan tingginya passion yang dimiliki PO, tim akan semakin termotivasi untuk berkolaborasi dalam membangun produk. Membawa produk lebih dekat lagi menuju visi PO, yang saat ini juga telah menjadi visi bersama dari tim.
Passion pushes you to learn more, create more, and to create better. Best of all, it’s contagious.

Scrum adalah framework yang ditopang oleh pilar transparency, inspection, dan adaptation. Pada level apapun PO kita berada, teruslah belajar untuk menjadi lebih baik. Scrum on!