Aku Ingin Jadi Penjahat Saja

Dulu aku pikir senang sekali bila punya kekuatan super. Sekarang aku rasa, aku lebih ingin menjadi orang biasa saja yang ditolong para pahlawan super. Paling mentok, setinggi-tingginya, aku hanya ingin menjadi sidekick saja.

Kalau aku sampai punya kekuatan super, aku tampaknya akan menjadi penjahat super. Daripada itu, lebih baik jangan punya. Menjadi orang biasa saja, tidak apa-apa bodoh dan ceroboh, toh orang biasa ini. Sudah biasa. Maklum.

Menjadi pahlawan super itu merepotkan. Semua berharap ia selalu melakukan hal baik kepada orang biasa. Namun karena pada dasarnya orang biasa ini bodoh, ceroboh, dan dimaklumi, definisi baik itu pun bergantung pada ekspetasi mereka yang berubah-ubah tergantung kebutuhan dan kenikmatan mereka sendiri. Baik jika dan hanya jika convenient for them, not necessarily beneficial, convenient. Tidak penting apakah menguntungkan, karena untung itu memihak, yang penting nyaman, persis memberikan apa yang mereka inginkan tepat saat mereka ingin, tanpa ada konsekuensi buruk setelahnya.

Menjadi sidekick pahlawan super, sedikit merepotkan, tapi kalau sewaktu-waktu aku salah, pahlawan super yang akan turun langsung bertanggung jawab atas ketidak-becusan aku yang setengah orang biasa. Masih boleh sedikit bodoh dan ceroboh.

Mempertimbangkan hal-hal di atas, maka menjadi penjahat super adalah prospek yang lebih memungkinkan, untuk orang sepertiku. Aku lebih peduli degan nilai-nilaiku sendiri, yang entah akan baik untuk orang lain, atau tidak. Aku hanya peduli dengan sistem kebenaran yang aku miliki, apa yang aku rasa dan pikir baik, itulah yang aku yakini dan akan aku lakukan. Memiliki label penjahat super membuatku bebas saja tanpa ada yang menyalahkan, toh, aku penjahat, kan?

If it can’t be used for evil, it’s not a super power.

Tidak apa-apa menjadi orang biasa saja buatku. Biar saja klise. Menjadi kaum yang perlu diselamatkan selalu. Buat aku yang bisa bertahan hidup saja sudah syukur, kekuatan super itu terdengar lebih mirip beban super.

Aku ingin kamu saja yang super. Aku ingin menjadi temanmu saja. Ketika orang-orang biasa menjadi bodoh, aku ingin menjadi yang masa bodoh. Tidak apa-apa kamu bukan pahlawan buatku. Kamu temanku. Masa bodoh kamu super atau tidak.

Itu, atau aku jadi penjahat. Pilih mana?