Aku masih bisa bertahan hidup sampai sekarang.

Lalu, sebenarnya apa sih yang sulit dari menulis? Bohong jika tidak ada bahan. Dalam sehari aku bisa menyaksikan dan mengalami banyak hal. Dari membuka celana dalam, gosok gigi, tidak jadi lari pagi, tidak jadi lari sore, hujan, dingin, bermain game, pikiran yang menumpuk, tanggung jawab yang berlarut-larut, bingung mulai darimana, rasanya banyak yang bisa dituliskan dari sana. Pada akhirnya musuhku adalah ekspektasi. Rasanya di balik telinga, di selubung otak, bagian diriku yang kecil, menyelipkan bisikan untuk aku menulis masterpiece. Sesuatu yang bila tidak berguna, setidaknya indah. Padahal sejatinya, aku hanya butuh kejujuran. Aku hanya takut menemukan jawaban, bahwa aku tidak boleh pengecut lagi. Ugh. Lalu, mendadak menulis tidak lebih sulit dari menelpon, dia.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.