Manusia Lintah

Aku sering berpikir orang yang baik sebetulnya seperti apa. Aku merasa sebagai manusia, pasti selalu salah saja, selalu berdosa. Selalu ada yang tidak sesuai rencana. Aku pernah fokus terhadap apa saja yang salah dan hasilnya, depresif sekali. Lalu aku coba fokus pada apa saja yang benar dan hasilnya, ceroboh sekali, naive.

Aku rasa kucing memang narsis merasa dirinya lucu. Apakah seekor lintah pernah berpikir dirinya menyebalkan? Bagaimana rasanya jadi lintah? Tinggal di rawa, menghisap darah, dan hanya ada mulut, perut, dan anus. Sederhana sekali.

Lintah tidak punya akal yang merepotkan tanggung jawabnya. Manusia mentang-mentang punya, jadi merasa perlu memikirkan yang macam-macam.

Seekor lintah tak perlu repot-repot berpikir apakah ia menjadi lintah yang baik, karena toh tidak bisa, tidak mungkin bisa.

Manusia ini loh yang repot-repot merepotkan pembeda. Sepertinya manusia perlu sesekali mencoba tinggal di rawa, menghisap darah, dan tidak menggunakan apa-apa selain mulut, perut, dan anusnya.

Menjadi manusia lintah, setengah manusia setengah lintah, sepertinya adalah pilihan apatis yang menyenangkan. Mudah. Saat terlalu merepotkan untuk menjadi manusia, berubah saja menjadi lintah. Saat salah berkelit saja, “Eits, gapapa dong, aku kan lintah.”

Maaf ya lintah, aku tidak tahu sebenarnya kamu seperti apa. Boro-boro, wong orang baik seperti apa juga aku tidak tahu.