Masturbasi Bahasa

Sebenarnya menulisku itu seperti onani. Bingung juga saat ditanya untuk apa aku menulis. Aku tidak pernah memikirkan hal itu terlampau serius. Jawaban yang paling spontan, tapi entah masuk akal atau tidak, ya.. aku menulis untuk menyenangkan diriku sendiri. Aku tidak tahu untuk target pembaca yang siapa bagaimana dimana kapan dan seterusnya.

Menyenangkan yang tidak melulu senang-senang juga sih sebetulnya.

Beberapa kali menulisku itu hanya menyenangkan di akhirnya saja. Setelah bersusah payah menahan rasa jijik dan tidak nyaman menghadapi diri sendiri, untuk menulis dengan sejujur mungkin. Senang yang kemudian datang itu, adalah jenis senang yang datang, karena berhasil menang melawan asumsi diriku yang belum tentu benar. Melawan rasa takut yang mengada-ada saja. Imajinasi yang tak perlu dan membelenggu diriku sendiri untuk berkembang menjadi manusia yang utuh, suka tidak suka.

Aku menulis untuk menyenangkan diriku sendiri.

Aku senang bercengkrama dengan huruf dan bagaimana ia ditulis dan dipasang-pasangkan dengan huruf lainnya. Bermain dengan konteks dan irama. Dengan warna dan nada-nada. Aku senang untuk percaya bahwa huruf, tanda baca, dan kawan-kawannya memiliki nyawa. Seperti kata; piksel. Bagaimana jika ia adalah seorang makhluk yang romantis? Kata apa yang akan ia ajak membentuk kalimat? Akan seperti apa kalimat itu? Aku bahkan sering merangkai kata-kata hanya karena aku rasa tepat saja, entah apa maknanya. Jenis menyenangkan yang aku tidak tahu siapa yang akan tertarik dengan corat-coret amburadul seperti itu.

Aku bukan penulis, tidak mencoba untuk menjadi penulis, dan tidak bercita-cita menjadi penulis.

Aku hanya ingin menulis. Untuk menyenangkan diriku sendiri.

Masturbasi bahasa.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ryandi Pratama’s story.