Salah Bertanya

Seandainya manusia hanya punya, satu jatah jawaban, per hari untuk pertanyaan apa saja. Pertanyaan manakah yang lebih ingin kamu ajukan, 1) “Bisa tidak ya saya melakukannya?” atau 2) “Bagaimana ya cara melakukannya?”

Seringkali aku salah mendapat jawaban karena salah mengajukan pertanyaan. Menjadi pengecut dengan berlindung dibalik ketidak-yakinan, atau kesalah-pahaman. Aku benci bagian diriku yang seperti itu.

Menurutku peribahasa malu bertanya sesat di jalan itu hanya masalah keberanian. Mengajukan pertanyaan yang tepat itu soal kecerdasan. Lalu, merasa menjadi tidak tahu apa-apa setelah mengetahui sebuah jawaban, itu soal kebijaksanaan.

Menurutku, manusia tidak perlu hanya berani. Pun mereka yang cerdas, perlu belajar berani. Belajar saja yang satu dari yang lainnya, mengetahui apa yang masing-masing tidak diketahui, agar keduanya dengan begitu dapat menjadi bijakasana. Salah bertanya, sesat di jalan. Salah menghadapi jawaban, mati kemudian. Ah, aku perlu belajar lagi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.