Perfect storm #banjirjakarta2020

Dasapta Erwin Irawan
Jan 11 · 7 min read

Saya menulis dalam intonasi yang penuh keprihatinan, karena membicarakan sesuatu yang tidak dialami. Dulu sekali memang rumah saat saya kecil di Surabaya sering kebanjiran. Tapi itu minor dibandingkan skala bencana banjir Jakarta, terutama yang terjadi di awal 2020. Semoga para korban banjir dapat segera memulihkan kehidupannya secara jasmani dan rohani.

Gambar 1 Catatan visual pemaparan Pak THW dan respon hadirin (oleh Dasapta Erwin Irawan, lisensi CC-BY bebas pakai)

Acara sharing session LPPM

Kemarin tanggal 10 Januari 2020, saya diberi kesempatan oleh LPPM ITB untuk menjadi moderator sesi berbagai pengetahuan yang diberikan oleh Bapak Tri Wahyu Hadi dan tim dari Kelompok Keilmuan Sains Atmosfer (KKSA) di lingkungan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian. Catatan publik dan materinya ada di sini atau masuk ke folder Google Drive ini. Catatan visual dari kegiatan ini dapat dilihat pada Gambar 1 di atas.

Materi yang diberikan oleh Pak Tri merupakan kombinasi antara data dan yang didapatkan dari BMKG dan Bappenas melalui beberapa kanal Grup Whatsapp serta hasil kerja dari Tim Pemodelan Cuaca KKSA. Dalam laman resminya, tim ini juga menyediakan beberapa tayangan pengukuran cuaca yang dapat dimanfaatkan publik.

Dalam tayangannya, Pak Tri menyampaikan adanya penggabungan beberapa awal hujan besar yang terjadi sejak tanggal 31 Desember 2019 dari berbagai arah, barat, timur dan selatan. Penggabungan ini menyebabkan hujan deras di tanggal 1 Januari 2020. Apakah anda pernah menonton film Perfect Storm? Itulah yang terjadi di atas wilayah Jabodetabek di awal 2020. Kronologi dan beberapa visualisasi spasialnya dapat pula dibaca dan dilihat di sini.

Perlu pemikiran kerjasama lintas disiplin antisipasi banjir besar. Kajiannya harus berskala wilayah regional berbasis wilayah DAS. Diperlukan juga kajian topografi wilayah dan dikoreksi dengan analisis land-cover (bukan sekedar land-use). Selain itu diperlukan kerjasama dengan ahli klimatologi untuk mempertajam pola-pola perubahan iklim dan cuacanya. Bidang arsitektur lanskap berperan dalam penataan lanskap wilayah, dengan fokus meminimalkan peluang banjir dan genangan, berdasarkan data dari berbagai sumber tersebut. (Bambang Sulistyantara, ArL IPB)

Awan hujan besar itu menghasilkan hujan sampai 274 mm (Stasiun Casablanca) yang terjadi selama 6 jam (pukul 01.00–07.00). Dampaknya terjadi banjir pada pagi hari di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Limpahan air ini kemudian menggenangi setidaknya 169 titik banjir di Jabodetabek dengan jumlah genangan terbanyak di wilayah Bekasi. Tentang DAS Ciliwung sendiri, kejadian banjir kemarin rupanya bukan yang terparah bila dibandingkan kejadian banjir pada tahun 1996, 2002, 2007, dan 2014.

Dengan proses diketahui, apa yang bisa kita lakukan? Ini merupakan obyek pembicaraan berikutnya.

Beberapa liputan dari acara di atas

Dari hasil pemaparan Pak Tri Wahyu Hadi, ada beberapa liputan di media, sebagai berikut.

Bagaimana banjir di dunia maya?

Berikut ini tren pencarian daring (menurut Google Trends) menggunakan kata kunci banjir. Dapat dilihat pencarian “banjir jakarta” mendominasi jumlah pencarian “banjir” secara umum.

Gambar 2 Tren pencarian daring di Google

Lantas apa yang terjadi di daerah lain? Begini menurut DIPI BNPB.

Gambar 3 Peta kejadian banjir di Indonesia (DIPI BNPB)

Diskusi yang berkembang

Kemudian berkembang beberapa diskusi sebagai berikut di media sosial.

Perubahan tata guna lahan dan larian permukaan buatan

Untuk bangunan-bangunan besar (misal kantor, mall, pabrik) akan bagus kalau mereka manfaatkan air hujan yang berlimpah saat musim hujan. Selain artificial run off (air larian permukaan akibat air gagal meresap karena tanah tertutup bangunan) bisa dikurangi maksimal, juga tagihan pajak air tanah dan/atau air PDAM bisa turun.

Juga kompleks-kompleks perumahan besar, mayoritas masih berpikir kalau menggunakan biopori atau paving block, maka kelebihan air hujan akan bisa tetap masuk ke bawah permukaan. Mungkin itu hanya bisa terjadi untuk curah hujan normal (baca: rintik-rintik). Tapi untuk curah hujan besar, jelas tidak bisa. Setidaknya kita tidak bisa hanya pasrah ke teknologi sederhana itu.

Danau buatan

Termasuk juga ide untuk bikin danau buatan atau merevitalisasi danau alam yang telah ada. Ini bagus sekali untuk mengendalikan arah aliran air permukaan (dalam sistem drainase), dengan catatan arah aliran drainase dapat direkayasa agar air mengalir ke danau itu. Tapi andai ini bisa dilakukan, danau pasti punya kapasitas tampungan air juga. Dengan hujan yang sangat besar (200 mm sekali hujan dengan durasi pendek atau panjang seperti kasus pergantian tahun kemarin di Jakarta), maka kapasitas infiltrasi alamiah danau juga tidak akan mampu mengatasinya. Untuk itu di setiap rencana danau buatan, perlu ada solusi apa yang harus dilakukan saat danau penuh. Salah satunya adalah dengan membuat sumur penginjeksi ke akuifer dalam (atau akuifer tertekan).

Gambar 4Catatan visual beberapa kondisi yang perlu diperhatikan. Sebenarnya saya melakukan kesalahan di sini dengan tetap menyoroti lahan yang miring, padahal perubahan tata guna lahan yang datarpun punya andil yang sama untuk banjir.

Untuk kasus sederhana yang terjadi di Bandung. Setiap hujan besar yang tidak terlalu lama, tercipta sungai baru, yakni Sungai Ir.H. Juanda. Ini tentunya juga dipengaruhi oleh jumlah larian permukaan dari drainase bangunan-bangunan yang ada di sepanjang Jalan Dago, termasuk di dalamnya adalah pembangunan beberapa gedung baru, misal di ITB.

Ada beberapa gedung baru di ITB yang menutup lahan yang sebelumnya terbuka. Ini juga berpotensi menyebabkan Sungai Ir. H. Juanda pas musim hujan. Sistem penampung air hujan ini juga belum pernah dicoba di ITB, dan di gedung-gedung lain pada umumnya. Biasanya karena anggaran untuk membuat basement mahal. Memang mahal.

Integrasi ilmu pengetahuan untuk mengatasi banjir

Sudah biasa disampaikan bahwa solusi banjir memerlukan integrasi ilmu pengetahuan. Selain geologi dan sipil, bidang ilmu sosial juga perlu berperan. Tidak lupa ilmu lainnya yang mengombinasikan tekni kuantitatif dan kualitatif, seperti ilmu arsitektur lansekap dan geografi.

Berikut ini adalah visualisasi berbagai makalah yang terkait dengan kata kunci “flood jakarta” menggunakan aplikasi daring OpenKnowledgemaps.org.

Gambar 5 Hasil visualisasi referensi dengan kata kunci “floods jakarta” menggunakan Open Knowledge Maps

Saat saya ganti dengan “floods bandung”, berikut hasilnya.

Gambar 6 Hasil visualisasi referensi dengan kata kunci “floods bandung” menggunakan Open Knowledge Maps

Arsitektur Lanskap bertugas untuk membuat desain/rekayasa lingkungan buatan (integrasi berbagai bidang ilmu — kalau saya menyimpulkan seperti manager — ada sipil, arsitek, teknik lingkungan, hidrologi, pertanian, dst), merekayasa langkah perbaikan lingkungan, memanipulasi fasilitas/tools yang digunakan untuk rekayasa sehingga lingkungan tetap nyaman ditinggali, sehingga seharusnya AL dilibatkan dalam rencana pengembangan kawasan sedari awal, dan bukannya ketika pekerjaan selesai. (Huda Nurjanti, ArL Unbar)

Integrasi ilmu rekayasa dan ilmu sosiohumaniora sangat dibutuhkan, karena banjir bukan hanya masalah fisik (dunia akademik kita memang dikuasai oleh bidang ilmu terkait fisik yang kuantitatif dari hulu ke hilir). Siapa tahu bisa diselesaikan oleh bidang ilmu “non-fisik” (Google Scholar “sosiology floods”).

Kondisi dokumen akademik terkait banjir. Dominasi makalah dalam Bahasa Inggris (dari penulis asing dan Indonesia). Sejauh mana ini dirujuk dalam dokumen publik (misal: dokumen perencanaan program, RTRW)?

Gambar 7 Jumlah dokumen akademik terkait banjir (data)

Ketersediaan data

Alternatif solusi berasal dari riset, sementara bahan baku riset adalah data. Lantas bagaimana ketersediaan data?

BNPB adalah salah satu yang telah membuka datanya. Tapi ini baru di sisi hilir, setelah bencana terjadi. Bagaimana dengan data yang lain, terutama data dasar? Inisiatif-inisiatif seperti Data go id layak ditiru dan dikembangkan, atau inisiatif komunitas seperti Peta Bencana ID, yang melibatkan partisipasi publik melalui media sosial untuk melaporkan sekaligus memverifikasi data.

Karakteristik data yang dibutuhkan (Prinsip F A I R).

  • data dapat ditemukan (Findable)
  • data dapat dioperasikan (Interoperable)
  • data dapat diakses (Accessible)
  • data dapat digunakan ulang (Reusable)

Dua contoh saja integrasi ilmu pengetahuan (geologi, arsitektur lansekap)

Beberapa contoh (skala pemodelan) pernah dilakukan bareng dosen arsitektur lansekap (Dr. Budi Faisal). Berikut beberapa hasilnya:

Untuk kasus Rawa Kendal Cilincing yang dikerjakan bersama mahasiswa Magister Arsitektur Lansekap, Fariza Allama: dokumen Repositori ITB 1, dokumen Repositori ITB 2.

Untuk kasus Banjir Kanal Semarang yang dikerjakan bersama mahasiswi magister Aletia Artita Midori: Slideshare, Repositori OSF.

Pentingnya komunikasi keskolaran (scholarly communications)

Ilmu pengetahuan bukan hanya milik “kita” (dosen, peneliti) tapi milik masyarakat. Seberapa besar peran ilmuwan yang tekun mempelajari ilmunya, sekaligus aktif menyebarkannya di media sosial. Diagram ini dibuat menggunakan Drone Emprit Academics.

Analisis sentimen #jakartabanjir oleh Drone Emprit Academics

Juga ada Bindi

Di acara IALI, saya bertemu Bindi yang baru lulus dari KU Leuven tahun kemarin. Tesisnya tentang banjir di Jakarta, berjudul “Let it flood”.

Ini buku tesisnya. Unik bukan.

Let It Flood: Ciliwung Delta by Bindi Purnama — issuu

Dan ini catatan visual saya dari presentasinya.

eco-hydrology and engineering geology

this page is dedicated to tell stories from our research in eco-hydrogeology and engineering geology from applied geology research group, fest, itb

Dasapta Erwin Irawan

Written by

Dosen yang ingin jadi guru | Hydrogeologist | Indonesian | Institut Teknologi Bandung | Writer wanna be | openscience | R user

eco-hydrology and engineering geology

this page is dedicated to tell stories from our research in eco-hydrogeology and engineering geology from applied geology research group, fest, itb

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade