How to Deal with Toxic dalam Keseharian


Jim Rohn bilang, lima orang terdekat dalam kehidupanmu sehari-hari, perlahan akan membentuk karakter — gayamu nantinya.

Sama halnya, ketika kita berkesempatan menghadapi para toxic.

Kumpulan — lingkungan ini akan habis-habisan secara vulgar atau tidak untuk mendegradasikan kualitas hidup keseharian kita. Itu pasti.

Dihantam kebawah apapun keinginan egonya!

2 hal sederhana, How to deal with toxic dalam dalam keseharian kita.

Cukup Aktifkan Radar

Mencegah lebih baik dari mengobati, kalau bisa, jangan keburu sakit, lantas mencari obat penyembuh luka. Aktifkan insting dan naluri radar alam sadar kita, bahwa mereka layak atau tidak.

Untuk diperhatikan, dan mengkonsumsi habis energi kita. Fisik ataupun mental.

Jauhi selagi bisa, namun efektif ketika kepalang masuk gaya bermainnya.

Ingat, “We don’t have to be pleasure anytime, to anyone.”

Kita diciptakan untuk menjadi unik, terbaik, di kalangan — lingkungan yang juga baik sesuai tujuan dan maksud kita.


Gaya Main ‘Seenaknya’

Toxic players punya rumusan unik dalam hidup, faktor traumatik, pengalaman dan lingkungan mempengaruhi mereka untuk bermain seenaknya.

Saya simpel, “Ask for bread, if you don’t get it, steal the bread!”.

Senormalnya manusia memiliki etika, attitude. Sayang, kita berhadapan dengan toxic yang memandang perspektif kumaha siah wae, kalau orang Sunda bilang.

Seenak jidatnya, mau dan sesuka mereka, dan gerombolan toxic lainnya!

Tiada guna mengikuti aturan irasional.

Tiada guna meladeni sampai bertemunya titik akhir, mereka tidak akan pernah mau merasa kalah, karena menang apapun caranya, itulah gaya mainnya.

“When tyranny has come, the rebellion becomes duty.”

Karena waktu kita sangatlah terbatas, masih banyak hal yang lebih baik dari sekedar memuaskan egomaniak ketidak stabilan lingkungan toxic.

Sekali lagi, take it or leave it. Sebuah pilihan, menantang dalam kesendirian untuk mengungkap kabut pekat, atau ikut serta terpacu dalam adrenalin negativisme tanpa sadar.

Ingat!

Tanpa sadar, unconsciousness.

Ingat juga, toxic itu menular, menjadi wabah epidemi.

Tipping point, Malcolm Gladwell ungkap dalam bukunya.

Dan hiraukan cukup tok.

Karena disaat kita yakin, kita memiliki kualitas, waktu dan kebaikan kitalah yang menjawab semua terkaman manusia toxic.

“I don’t care what people think, since people never thinking.”

Cheers n peace!