Mengenal Agen Smith dalam Realita Kehidupan

Agen Smith dalam sekuel Matrix adalah supervisor, guardian yang terus-menerus menghantui Neo (Keanu Reeves), untuk memastikan semua hal yang dilakukan Neo, dalam keadaan normal.

Baik-baik saja, tidak merusak dan keluar dari sistem yang sudah dijalankan lebih dulu. The Matrix system.

Persis Keanu Reeves pernah tweet dalam akunnya, bahwa “The matrix was a documentary.”, dengan jelas ia berpesan bahwa, film itu adalah sebuah dokumentasi. Bukan science fiction.

Agen Smith dan refleksi dalam realita keseharian hidup kita adalah: manusia-manusia sekeliling kehidupan kita. Acapkali melihat — mendengar satu hal yang kontra dari umumnya sang sistem, reflek kognitif otomatis menolak.

Agen Smith adalah refleksi society pada umumnya. Manusia-manusia yang dibentuk oleh sistem, tanpa pernah menyadari sebuah string (ikatan) yang menempel pekat dalam otak dan pola pikir mereka.

Mereka menolak tiap kali melihat ataupun mendengar satu hal yang berbeda dari kebiasaan umumnya mayoritas dalam sistem. Mereka dibentuk untuk menolak kosakata flat earth.

Mereka diprogram untuk mempercayai sebuah sains adalah fakta yang paling benar, absolutisme. Saintisme tanpa sadar.

Morpheus berpesan tegas, “The Matrix is a system, and anything in that system is our enemy.”

Agen Smith memiliki paham yang mengakar kuat bahwa: kredit adalah wajar, asuransi adalah keharusan, dan bekerja delapan jam sehari selama lima hari waktu kerja adalah aturan sistem.

Agen Smith sangat antipati melihat fenomena segerumulan orang-orang yang melakukan aktivitas kesehariannya berbeda dengan mereka. Mereka sudah pasti asumsi dan judging.

Sejak berpikir itu adalah hal yang cukup sulit, dan membuang energi percuma. Agen Smith lebih menikmati sebuah opini, ilusi yang indah dari sistem. Mereka tidak diprogram untuk sebuah kenyataan yang pahit, namun benar.

Agen Smith sangat mempercayai authority adalah benar, dan tidak bisa dibantah. Semuanya berjalan seperti sistem harapkan: normal, aman dan nyaman. Menurut alam bawah sadar mereka.

Layaknya society dalam realita: mereka mempercayai bahwa pengatur dalam sistem adalah yang benar, tidak bisa dibantah, dan sangat membahayakan bila mencoba untuk sekali-sekali keluar, melawan.

Agen Smith memang dibentuk untuk meniadakan critical thinking. Karena sejak dini di jaman bangku sekolah, agen Smith sudah diajarkan untuk sekedar menjalankan, melakukan. Tok.

Mereka percaya bahwa government (pemerintah) adalah refleksi sikap rakyat, pemerintah tidak mungkin zalim ataupun berkhianat.

Pajak adalah wajar, politik cukup jadi urusan pemerintah sementara para agen cukup jalani aturan dalam sistem Matrix.

Jangan aneh-aneh dan melawan arus.

Apa yang George Carlin katakan memang benar:

“Government don’t want a population capable of critical thinking. They want obedient workers, people who smart enough to run the macchine, and just dumb enough to passively accept their situation.”

Mereka tidak memikirkan hal yang menurutnya tidak penting dan menghabiskan waktu. Mereka tanpa sadar dibentuk untuk mengikuti alur sistem status-quo.

Agen Smith tidak mau untuk memikirkan sebuah konspirasi ataupun politik, yang menurutnya bukan menjadi bagian dari misi mereka.

Mereka hanya ingin memenuhi standar kelangsungan hidup pada titik tertentu, umumnya mayoritas.

Mereka terpaku pada hierarki level Abraham Maslow, The Pyramid of Needs.

Sekolah, berkuliah demi sebuah titel, sampai kemudian tibalah waktunya bekerja, mencukupi untuk menikah. Result oriented.

Seperti sistem wajibkan. Klop!

Kemudian berlanjut pada pemenuhan sisi materialisme, umumnya mengandung rayuan — jebakan delusi sistem penyokong Matrix: BANK.

Cicilan adalah normal, perkreditan jangka panjang seperti keharusan, ditambah, semakin banyak credit card yang dikoleksi para agen, maka semakin tinggi pula nilai peran sang agen dalam sistem tersebut.

Sebuah association fallacy. Bentuk sebuah transformasi: modern enslavement.


Mereka mempercayai media mainstream Apa yang menurut mayoritas iya, mereka mengiyakan.

Karena sebuah doxa (opini popular) adalah cara mereka menilai sebuah kebenaran. “The illusion of truth”.

Menurut nalar sang agen, informasi yang disuguhkan adalah apa adanya, dalam koridor kebenaran. Mustahil berbau propaganda, apalagi konspirasi.

Mereka bisa membedakan sebuah informasi, sayangnya tanpa memahami makna teredukasi, mendalami secara komprehensif. Hulu ke hilir.

Kenapa?

Karena mereka sangat teramat sibuk, disibukkan dengan dunia yang menurutnya adalah fakta, dan nyata. Self fulfillment priority.

Mereka menyukai hingar bingar runutan timeline yang hadir di media sosial dan televisi. Daripada menjadikan buku dan membaca sebagai hal yang menyenangkan.

Mereka harus bisa saling berkompetisi seperti mayoritas lainnya. Apa yang mereka kenakan, dan yang dilakukan.

Jika tidak bisa sama seperti mayoritas agen-agen Smith lainnya, mereka akan merasa kalah, terasing, dan tidak begitu aturannya dalam sistem.

Mereka menolak untuk berperan sebagaimana Neo lakukan: menyadari, berpikir lebih, dan solusi apa yang seharusnya. Sesuai peran masing-masing manusia.

Mereka ingin comfortable, pleasure seeker. Mayoritas adalah ukuran.

“Vox populi vox dei”, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Terjebak dalam Bystander Effect.

Membiarkan sembari berharap, agar agen-agen Smith lainnya yang akan melakukan.

Agen Smith mengeluarkan argumen, dan menghimbau kepada agen-agen lainnya:

“Udahlah! ngapain sih lu repot-repot urusin begituan, itu bukan urusan lu! biarin aja orang lain yang ngurus! yang penting kita jalanin apa yang kaya banyakan orang lain aja!”

Stay eat, sleep and slave.

Agen Smith adalah refleksi bagaimana society berpikir, bersikap dan mengambil keputusan dalam keseharian kita. Bagi mereka, mengikuti pola dan alur dari sistem yang sudah ada, adalah panduan paling akurat dalam kehidupan.

Agen Smith merasa sistem Matrix ini sudah tepat dan akurat. Dimana fungsi sistem tersebut sudah menjawab semua kekurangan dan permasalahan yang muncul di tengah peradaban agen-agen Smith lainnya.

The Matrix adalah nyata — realita, sebuah metafora yang dibungkus dalam label science fiction. Seperti kebanyakan film-film Hollywood lainnya, The Matrx adalah dokumentasi. Predictive programming.

Agen Smith jelas ada, mereka adalah musuh utama critical thinkers, manusia-manusia seperti Neo. Dengan resistensi alam bawah sadar mereka, dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana:

Apakah semua ini sudah benar?
Apakah semua ini sudah tepat?

Kenapa harus seperti ini? dan kenapa harus dilakukan? dipercayai? dan dijalani? bagaimana kalau tidak?

Inilah realita keseharian kehidupan. Dan yang terakhir:

Agen Smith sangat marah, benci dan kesal, tiap mendengar kalimat terlontar, “Bahwa bumi itu memang datar…”

We are the agent Smith in life, BUT we are the agent who debunked the string attached on our system. We must unlearn what we’ve learned. Learn and relearn.

#think