Menjadi Sempurna, Yang Memang Takkan Bisa

Keinginanmu dan keinginanku berharap pada titik kesempurnaan. Semakin berharap, semakin besar pengandaian semua ini.

Tiada yang ingin terlihat biasa.

Tiada pula yang seakan sama dengan yang lain; karena menjadi beda, sekaligus sempurna adalah penantian.

Mungkin ada benarnya, “Semakin jauh engkau masuk ke dalam, mencari ranting terindah, yang bisa kamu petik, maka semakin besar juga kamu berharap.”

Ketika mata ingin terpuaskan, dengan apa yang disebut sebagai keindahan. Perlahan manusia terjerumus, betapa naifnya mereka memuaskan diri.

Memuaskan tidak lagi dengan cara sebagaimana manusia biasanya, dengan cinta dan kasih sayang.

Hanya ingin terpuaskan, sembari berharap; mendapatkan entitas diri, terpandang, dan dianggap hebat. Tiada yang salah, memang ala kadarnya: manusia selalu mencari equilibrium. Titik keseimbangan.

Seharusnya, janganlah kita terlalu berharap. Sejak, pengharapan besar hanya akan berbalik memukul perasaan dalam diri; yang juga lebih besar.

Anggaplah semua kesalahan, bukan untuk terulang.

Ada kalanya ketika sinar memudar, tidak lagi berpancar seperti dulu; perlahan dilupakan. Tiada sinar seindah dulu, sekalipun dulu tidak pernah eksis.

Tiada anggapan, bahwa kamu yang berpijar, pernah dianggap ada. Nyata dalam realita.

Disaat bersamaan, semua yang pernah dilakukan sembari tertatih dalam pengorbanan; hilang.

Tanpa arah, dan tujuan. Toh, biasakan dengan menjadi yang terlupakan.

Hidup memang cantik. Penuh tipu daya, yang seakan terkesan indah.

:)